Jika Ada Masalah, Kamu Cenderung Cerita ke Teman Atau Keluarga?

image

Dalam menjalani hari-hari pasti kita sering mengalami kesulitan yang terkadang membuat kita setres. Untuk mengatasi hal tersebut, terkadang kita perlu cerita ke orang lain agar lebih merasa tenang dan dapat membantu kita dalam mengatasi masalah. Nah, kamu jika ada masalah, cenderung cerita ke teman atau keluarga?

pastinya aku cerita ke keluarga sih, karena keluarga merupakan kekuatanku dan penyemangatku. Mereka tidak akan menjatuhkan atau mencela. Dan tentunya diskusi dengan keluarga akan membantu meringankan sedikit permasalahan kita. Lain halnya dengan cerita ke teman, karena aku punya pengalaman buruk cerita ke temen yang ujung-ujungnya dijadikan bahan gosip, walaupun gak semua temen seperti itu sih. Akan tetapi lebih baik cerita ke keluarga biar aib-aib kalian aman.

Kita sebagai manusia pasti semua punya masalah, punya unek-unek, punya ganjalan di hati. Semua hal yang ingin kita bincangkan atau pun ingin tanyakan pendapat pada individu lain, baik anggota keluarga, atau pun kerabat dan teman. Curhat itu wajar agar hati dan pikiran kita terasa lebih ringan dan melepas beban yang ada. Saya tim jika ada masalah direnungkan sendiri dan menenangkan diri sendiri terlebih dahulu, jika memang butuh untuk diceritakan akan saya ceritakan ke sahabat terdekat. Kalau disuruh memilih curhat ke keluarga atau teman? Saya tidak tahu, jika in case disini hanya “teman” bukan “teman dekat”.

Alasannya, tidak semua anggota keluarga bisa dijadikan teman curhat dan tidak semua kerabat dan teman bisa dijadikan tempat curhat. Karena masalah yang kita hadapi terkadang sensitif dan menyangkut anggota keluarga, teman dan kerabat.

Curhat pada anggota keluarga ada bahayanya jika isi curhatan menular dan menjadi pikiran bagi anggota keluarga tersebut. Curhat kepada teman, hanya sedikit presentasenya yang bisa memberikan solusi tepat. Biasanya curhat ke teman bukan menjadi rahasia, malah oleh teman tersebut jika suatu saat sudah tidak akrab lagi akan menjadi boomerang. Teman tempat curhat akan menggosipkan kita dan bahkan jika perlu dibumbui lagi. Isi curhatan yang normal bisa menjadi aib terbuka oleh teman. Maka dari itu, menurutku ada porsi nya kita harus curhat ke keluarga atau teman,

Kalau aku sendiri, ketika ada masalah, aku cenderung memendam sendiri dahulu. Aku akan membutuhkan waktu untuk merenung, memperbanyak sudut pandang versi aku sendiri. Jika dengan cara tersebut aku masih belum menemukan solusi, aku akan bercerita ke teman yang sekiranya cocok dengan permasalahan ini. Karena menurutku, tidak semua teman bisa sesuai dengan cerita dan permasalahan kita. Sedekat apapun itu, jika memang tidak sesuai, maka aku tidak mendapat ketenangan dari bercerita itu. Jadi, tetap semua sesuai dengan permasalahanya.

Kenapa aku memilih teman daripada keluarga? karena backgroundku dari keluarga yang sibuk ya. Maksudnya, orang tua aku super sibuk. Aku tidak mau menambah beban mereka dengan permasalahan" yang sedang aku hadapi. Melihat mereka setiap hari bekerja, lalu malam istirahat, seperti ga tega gitu kalau mereka menjadi ikut kepikiran juga. Dan memang dari kecil, aku di didik untuk bisa menyelesaikan masalah sendiri. Jadi, seiring berjalannya waktu, aku jadi terbiasa mengatasi itu sendiri tanpa bercerita dengan orang tua. Mungkin aku akan bercerita tentang masalah aku yang berbau pendidikan.

Dalam kehidupan sehari-hari tentu kita tidak lepas dari yang namanya permasalahan. Jujur aku lebih sering berdamai dengan diri sendiri terlebih dulu. Dalam artian, setiap ada masalah aku cenderung untuk diam dan merenung untuk mencari solusinya karena tetap keputusan dalam bertindak ada pada diri kita sendiri. Jika disuruh memilih cerita ke teman atau keluarga, aku akan memilih cerita ke teman karena aku pribadi merasa kurang nyaman kalau harus cerita ke keluarga. Even keluarga adalah tempat berlindung dan penyemangat nomor satu, tapi aku merasa canggung dan gengsi jika harus bercerita kepada keluarga. Tentunya, hal tersebut juga bisa menjadi beban bagi keluarga. Selain itu, kalau cerita keluarga aku juga sering merasa takut untuk dihakimi atau bahkan membuat aku semakin stress. Jadi aku rasa cerita ke teman akan lebih membuat aku feel better karena biasanya juga teman bisa lebih relate dan memaklumi kecemasan atau kekhawatiran kita terhadap suatu masalah meskipun teman kadang tidak memberi solusi tapi setidaknya mereka bisa lebih bisa paham dengan apa yang kita rasakan

Kalo aku sendiri, aku lebih suka untuk cerita ke salah satu kakak aku yang umurnya lebih tua setahun dari aku dan juga temen deket aku. Kalo ada apa-apa aku suka cerita ke mereka, hal tersebut menunjukkan kalau aku memberikan kepercayaan kepada mereka. Aku bukan tipe orang yang suka mendemin semuanya sendiri, karena menurutku kalau aku bercerita kepada orang yang aku percaya, hati dan pikiran aku terasa lebih plong, dan pastinya mereka juga memberikan tanggapan yang positif dan membangun, seperti memberi semangat ataupun solusi.

Jujur sedikit iri ketika melihat balasan dari teman-teman yang mampu menyimpan permasalahan sendiri tanpa perlu bantuan/ dukungan dari teman dan keluarga hehe. karena aku bisa dibilang suka untuk bercerita, aku juga suka mendengarkan cerita, jadi aku tipe orang yang ketika ada hal dan permasalahan yang sedang ku lalui aku cenderung selalu menceritakannya kepada temanku. Aku menyadari kebiasaanku ini memang tidak sepenuhnya baik, mungkin saja tidak semua temanku mau untuk mendengarkan ceritaku atau bahkan mungkin ada diantara mereka yang tertarik untuk mendengarkan ceritaku hanya untuk diceritakan kembali ke teman yang lainnya. Dulu persoalan seperti ini cukup mengganggu dan membuatku berhenti untuk bercerita tentang persoalan/ masalah yang sedang aku rasakan. Tapi ternyata itu malah membuat pikiranku semakin gak karuan, sudahlah kepikiran masalah yang sedang terjadi, ditambah aku harus memendam sendirian tanpa ada support dari orang-orang sekitar. Padahal tidak semua teman melakukan hal serupa. Jadi aku tetap melakukan kebiasaanku yang senang bercerita kepada teman-teman terpilih, yang mampu memberi saran atau bahkan hanya mendengarkan ceritaku saja. Aku lebih memilih cerita ke teman karena jika dilihat dari umur dan ruang lingkupnya ya sama sepertiku, secara gak langsung mereka jauh lebih bisa memahami kondisi yang sedang aku rasakan ketimbang keluarga. Yang dari segi umur, atau lingkungannya berbeda dariku. Tak jarang ketika aku bercerita respon yang diberikan terkesan membandingkan dengan situasi yang pernah mereka alami dulu.

Diantara dua pilihan tersebut, aku cenderung cerita ke keluarga. Karena biasanya masalah yang aku alamin adalah masalah-masalah yang temen aku juga alamin di perkuliahan, jadi aku gak mau bebanin mereka dengan cerita aku lagi. Tapi sejujurnya aku lumayan jarang cerita tentang beban aku ke orang lain karena aku selalu merasa takut merepotkan. Jadi selama ini aku lebih sering cerita ke diri aku sendiri. Mungkin agak aneh ya hehe tapi aku merasa dengan aku cerita dan evaluasi masalah yang aku alami ke diri sendiri, aku lebih merasa lega dan gak ada yang ditutup-tutupin.

Jika menemui masalah, saya sejujurnya lebih nyaman berbagi cerita dengan diri sendiri. Biasanya pada awal saya akan memikirkan sendiri dan menuangkannya dalam media lain seperti menulisnya. Namun, terkadang saya juga menghadapi masalah yang tidak bisa saya selesaikan seorang diri. Untuk masalah yang lebih dalam, saya pribadi lebih nyaman bercerita ke teman dekat daripada keluarga. Saya jarang bercerita tentang masalah saya ke keluarga karena keluarga saya tidak mudah memberikan solusi yang tepat dan objektif. Seringkali saya malah merasa dihakimi alih-alih dimengerti. Sebaliknya, dengan bercerita kepada teman saya cenderung lebih santai dalam mengekspresikannya. Tentu saja saya hanya mempercayakan hal ini kepada teman dekat dan mampu menjadi teman curhat yang baik.

Kalo aku pribadi, ketika mendapatkan suatu persoalan, lebih enak cerita dengan teman, sahabat, pacar dan sejenisnya dibandingkan dengan orang tua. Karena apa? orang tua udah berat mikir persoalan yang ada di tempat kerja mereka, belum lagi persoalan persoalan lain diluar itu dan malah ditambahin sama cerita kita yang juga membawa masalah. Memang, oang tua tentunya menjadi orang yang paling mengerti kita, tapi belum tentu semua orang tua tau “medan” kita. Tentunya teman teman, sahabat, pacar atau sejenisnya lah yang mengerti tentang situasi yang kita hadapi. Mereka yang masih muda bisa memberikan solusi yang sesuai dengan kondisi sekarang, beda dengan orang tua yang hidup dijaman dulu dan kurang mengerti dengan kehidupan jaman now.

Gak cerita ke siapa-siapa.

Buat saya, gak ada kepentingan buat cerita masalah saya ke orang lain, termasuk keluarga apalagi ke teman. Hal seperti masalah menurut saya udah termasuk privasi, saya gak suka kalau orang ngeliat saya sebagai orang yang punya banyak masalah. Lebih baik mereka liat saya baik-baik aja, karena gak semua orang bisa atau mampu buat ngebantu. Bahkan sampai masalah itu beres pun, saya gak akan cerita atau sharing apapun, kecuali ditanya. Kalau ditanya pun gak akan semuanya diceritain. Sebagai gantinya, biasanya saya nulis masalah di status media sosial dalam mode private atau anonim, lalu pernah sekali untuk bercerita kepada ahli psikolog, yang ternyata bisa membantu menangani masalah. Terakhir, cerita lewat ibadah, cerita ke Tuhan biasanya gak cerita lengkap cuma pengen minta bantuan saja. Ketiga hal ini menurut saya lebih bisa menenangkan diri saya, dan juga membantu menangani masalah daripada bercertia ke teman atau keluarga.

Bagi saya Bercerita kepada Allah adalah Jalan yang sangat terbaik. Karena Kita pasti ingin tahu apa sebenarnya makna hidup ini dan pengaruhnya bagi kita. Agar hidup kita lebih bermakna, kita perlu belajar kebenaran tentang Allah. Ini adalah kebenaran terpenting di alam semesta.

Manusia adalah makhluk yang paling unik di bumi. Menurut Alkitab, Allah menciptakan kita untuk menjadi seperti Dia, untuk meniru sifat-sifat-Nya. Selain itu, mengajarkan bahwa manusia bisa menjadi sahabat Allah. Persahabatan dengan Pencipta itulah yang bisa membuat hidup kita lebih bermakna.

Apa artinya menjadi sahabat Allah? Semua sahabat Allah bisa berbicara dengan terbuka kepada-Nya. Dan, Ia berjanji akan mendengarkan dan membantu mereka.Kalau kita menjadi sahabat Allah, kita bisa mengetahui pandangan-Nya tentang banyak hal. Ini bisa membantu kita mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penting tentang kehidupan.

Selama nafas masih ada di raga kita, tentunya kita tidak terlepas dari adanya cobaan dan masalah yang senantiasa datang silih berganti. Untuk konteks ini, saya cenderung untuk memfilter terlebih dahulu kira-kira mana permasalahan yang cocok untuk diceritakan kepada keluarga dan mana permasalahan yang cocok diceritakan kepada teman-teman terdekat saya. Contoh seperti masalah mengenai hubungan asmara saya dengan seseorang, maka saya akan putuskan untuk hanya bercerita kepada teman saya saja, namun tidak untuk orang tua, karena menurutku teman bisa lebih relate dan mengerti dengan permasalahan tersebut. Contoh lain seperti yang saya alami baru-baru ini yaitu masalah nilai akhir saya pada suatu mata kuliah. Dimana dosen yang mengampu matkul tersebut susah untuk diajak komunikasi. Permasalahan tersebut saya ceritakan kepada semuanya, yakni kepada orang tua dan teman-teman terdekat saya. Orang tua memberikan solusi berupa doa dan motivasi, sedangkan teman dekat saya memberikan solusi menemui dosen secara langsung. Pada intinya, masalah tersebut terselesaikan dengan bantuan mereka semua.

Jadi, menurutku untuk permasalahan yang saya hadapi, saya akan memilah-milah terlebih dahulu sebaiknya saya ceritakan kepada siapa. Dengan harapan bisa mendapatkan jalan keluar atau solusi yang terbaik tentunya.

Jika ada masalah saya cenderung cerita ke temen dibanding ke keluarga saya sendiri, saya juga tidak mengerti mengapa saya sulit untuk terbuka bersama keluarga atau orang tua saya sendiri. Selama saya hidup orang tua saya jarang menanyakan hal pribadi saya, entah itu mengenai pacar, gebetan atau orang yang saya sukai.

Terlebih saat saya ketahuan pacaran saat SMA keluarga saya malah tidak setuju dan terus menerus menasehati saya untuk tidak berpacaran dahulu dan fokus pada pendidikan. Nah mungkin karena hal tersebut saya jadi lebih memilih untuk bercerita kepada teman yang pastinya akan lebih mengerti dibandingkan jika saya bercerita dengan keluarga saya dimana pengalaman sebelumnya saya bukannya dibantu namun hanya dimarahi.

Sejujurnya aku lebih suka cerita ke temen temen sih daripada keluarga ku sendiri, mungkin emang karena aku tipe orangnya yang suka mendem sendiri masalah yang lagi aku hadapi sebelum ketemu orang yang cocok untuk diceritakan. Sebenernya hal ini pastinya tidak berlaku ke semua orang, banyak juga yang ia memilih cerita ke keluarga nya karena sejak kecil ia sudah sangat dekat dengan orangtua nya, sementara aku sendiri sejak kecil dan beranjak dewasa sangat jarang untuk bisa cerita, curhat dan terbuka mengenai masalah-masalah sepele yang membuat ku stress. Aku selalu menggagap hal tersebut bisa membebani mereka dan mungkin hal tersebut yang membuat aku lebih sering bercerita ke sahabat deket.

Kalau saya tergantung masalahnya apa. Jika memang harus dibicarakan dengan keluarga maka akan saya bicarakan dengan keluarga saya. Namun, saya jarang sekali menceritakan masalah saya kepada teman dan lebih suka disimpan sendiri. Selama saya pikir saya mampu untuk menyelesaikannya sendiri, maka sebisa mungkin akan saya selesaikan sendiri. Dan jika saya butuh teman cerita biasanya saya memilih untuk berdoa dan menceritakan semua masalah saya pada Tuhan. Saya tidak terlalu suka menceritakan masalah saya kepada teman, sebab takut respon yang mereka berikan tidak sesuai ekspektasi saya dan malah membuat saya lebih down.

Aku pribadi tergantung pada persoalan atau masalah apa yang sedang dihadapi. Hal ini karena tidak semua permasalahan yang kita hadapi dapat diceritakan kepada orang lain baik itu teman ataupun keluarga sendiri. Sebagai contoh, jika memiliki masalah keluarga yang bersifat sensitive maka sebaiknya hal itu tidak diceritakan kepada orang lain bahkan teman terdekat pun. Sebab berdasarkan pengalaman teman-temanku, mereka yang telah menganggap sahabatnya dapat dipercaya nyatanya tidak demikian. Namun, tidak semua orang seperti itu, alangkah lebih baik jika kita tetap berprasangka baik terhadap orang lain tetapi tetap untuk selalu berhati-hati khususnya dalam bercerita terkait suatu hal.

Terkadang aku pribadi lebih memilih untuk memendam masalah yang aku punya dengan alasan takut jawaban mereka tidak sesuai dengan ekspektasiku yang berharap bahwa jawaban mereka dapat membantu dalam memecahkan masalah. Contohnya, ketika mereka sebagai teman memberikan semangat atau kata-kata positif, mungkin menurut mereka itu dapat membantu. Tetapi nyatanya tidak jarang aku pribadi merasa hal itu justru menjadi toxic atau bisa disebut dengan toxic positivity yang berdampak pada kesehatan mental seseorang. Namun, terkadang dengan hanya sekedar bercerita hal itu membuat diri kita menjadi lebih tenang, karena secara tidak langsung kita telah mengeluarkan uneg-uneg yang kita rasakan. Tetapi aku pribadi tipe orang yang agak sulit untuk percaya dengan orang lain sehingga ketika aku memiliki masalah, terkadang aku lebih memilih untuk memendamnya meskipun sebenarnya hal itu ga baik bagi kesehatan mental.

Kalau saya ke keluarga (khususnya saudara perempuan saya). Karena mereka adalah orang terdekat saya. Juga, saya merupakan seseorang yang susah untuk terbuka kepada orang lain (teman). Dan merasa lebih aman dan bebas aja kalau cerita ke keluarga. Selain itu, keluarga juga sepertinya lebih tulus ketika mendengar atau memberi masukan. Dan syukurnya aku diberikan oleh Tuhan keluarga yang terbuka, suka cerita, dan mendukung satu sama lain :blush:

Iya saya setipe banget sih sama @AshilaSubandi , Entah kenapa saya tidak suka dilihat sebagai seorang yang problematik. Lebih tepatnya lagi mungkin saya terkadang merasa belum menemukan orang yang pas untuk diceritakan masalah pribadi. Jika cerita ke keluarga juga terkadang saya takut hal itu akan jadi beban pikiran mereka sehingga menghambat mereka melakukan segala sesuatu. Untuk cerita ke teman juga saya trauma sih sebenarnya pernah pas cerita ada teman yang “ember” sehingga semua orang tahu masalah saya. Oleh karenanya, saya juga mengalihkan problem saya dengan bertanya ke anonim, orang asing, dan juga ke psikolog online. Dan juga pertolongan pertama tentunya dengan bercerita kepada Tuhan. Tidak munafik juga sih,sebagai manusia yang jauh dari kata baik iman saya meningkat cukup drastis ketika saya dihadapkan sebuah masalah. Semoga kita semua dilancarkan semua dari masalah yang sedang kita hadapi masing-masing

Dalam menjalani kehidupan ini memang kita tak bisa terlepas dari adanya masalah. Tentu saja bahwa setiap kejadian pasti memiliki hikmah di baliknya. Hanya saja dalam menjalaninya terkadang butuh tempat berbagi. Sebelum memutuskan untuk bercerita, saya melihat dulu permasalahan yang dialami. Jika sekiranya membutuhkan pendapat keluarga maka saya akan bercerita kepada mereka. Keluarga bagiku tempat terdekat untuk berbagi dan mampu memberikan asupan motivasi. Jika hanya masalah ringan yang membutuhkan teman diskusi maka saya akan bercerita dengan teman terdekat. Namun, kini saya biasanya bercerita dengan keluarga atau teman hanya untuk obrolan ringan sebagai refreshing ketika lelah melakukan rutinitas. Semakin kesini saya lebih sering memendam masalah sendiri dan memilih untuk bercerita kepada Allah saja. Terkadang menuliskan semua yang dirasakan di catatan pribadi juga cukup baik. Dengan begitu memang jauh lebih tenang karena memiliki kendali lebih untuk belajar menyelesaikan masalah sendiri. Kalaupun bercerita pada orang lain pun belum tentu mereka bisa memberikan solusi yang baik untuk diriku. Jadi, sebelum bercerita tentang masalah pribadi memang saya melihat dulu sebesar apa masalah tersebut dan apakah layak dibagikan untuk orang tersebut atau tidak.