© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Jelaskan penyebab konflik politik!

Jelaskan penyebab konflik politik!

Pada dasranya konflik poltitik disebabkan oleh dua hal. Konflik politik itu mencakup kemajemukan horizontal dan kemajemukan vertical. Yang dimaksud dengan kemajemukan horizontal adalah struktur masyarakat yang majemuk secara kultural, seperti suku bangsa, daerah, agama, dan ras; dan majemuk secara sosial dalam arti perbedaan pekerjaan dan profesi, seperti petani, buruh, pedagang, pengusaha, pegawai negeri sipil, militer, wartawan, dokter, alim ulama, dan cendekiawan, dan dalam arti perbedaan karakteristik tempat tinggal seperti desa dan kota.

Kemajemukan horizontal kultural dapat menimbulka konflik karena masing masing unsur kulturalberupaya mempertahankan identitas dan karakteristik budayanya dari ancaman kultur lain. Dalam masyarakat yang berciri demikian ini, apabila belum ada suatu consensus nilai yang menjadi pegangan bersama, konflik politik karena benturan budayaakan menimbulkan perang saudara ataupun gerakan separatism.

Kemajemukan horizontal sosial daoat menimbulkan konflik sebab masing masing kelompok yang berdasarkan pekerjaan pada profesi serta tempat tinggal tersebut memiliki kepentingan berbeda bahkan saling bertentangan. Kjelompok masyarakat yang tinggal di kota misalnya, menghendaki harga beras dan bahan bakar minyak dikendalikan oleh pemerintah., dan kalu perlu disubsidi oleh pemerintah, sedangkan masyarakat yang tinggal di desa menghendaki agar pemerintah membiarkan harga harga beras dan bahan bakar minyak berkembang sesuai dengan mekanisme pasar. Sebaliknya, pemerintah hanya berperan dalam menciptakan dan menegakkan aturan main yang adil.

Konflik terjadi manakala terjadi benturan kepentingan. Dalam rumusan lain dapat dikemukakan konflik terjadi jika ada pihak yang merasa diperlakukan tidak adil atau manakala pihak berperilaku menyentuh “titik kemarahan” pihak lain. Dengan kata lain, perbedaan kepentingan karena kemajemukan vertical dan horizontal merupakan kondoso yang harus ada (necessary condition) bagi timbulnya konflik, tetapi perbedaan kepentingan itu bukan kondisi yang memadai (sufficient condition) untuk menimbulkan konflik.

Sumber : Surbakti, Ramelan, Memahami Ilmu Politik, PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta

Konflik Politik


Pengertian Konflik

Konflik merupakan suatu perselisihan yang terjadi antara dua pihak, ketika keduanya menginginkan suatu kebutuhan yang sama dan ketika adanya hambatan dari kedua pihak. Istilah konflik dalam ilmu politik seringkali dikaitkan dengan kekerasan seperti kerusuhan, kudeta, terorisme, dan revolusi. Konflik mengandung pengertian “benturan” seperti perbedaan pendapat, persaingan dan pertentangan antar individu dan individu, kelompok dan kelompok, individu dan kelompok atau pemerintah (Surbakti, 1992).

Jadi konflik politik dirumuskan secara luas sebagai perbedaan pendapat, persaingan, dan pertentangan diantara sejumlah indidvidu, kelompok ataupun organisasi dalam upaya mendapatkan atau mempertahankan sumber-sumber dari keputusan yang dibuat yang dilaksanakan oleh pemerintah. Yang dimaksud dengan pemerintah meliputi lembaga eksekutif legislatif dan yudikatif. Sebaliknya secara sempit konflik politik dapat dirumuskan sebagai kegiatan kolektif warga masyarakat yang diarahkan untuk menentang kebijakan umum dan pelaksanaannya juga perilaku penguasa beserta segenap aturan, struktur, danprosedur yang mengatur hubungan-hubungan diantara partisipan politik (Sanit, 1985).

Konflik Menurut Ahli
Charles Watkins berpendapat bahwa konflik terjadi karena terdapat dua hal:

  1. Konflik biasa terjadi bila sekurang-kurangnya terdapat dua pihak secara potensial dan praktis/operasional dapat saling menghambat. Secara potensial mereka memilik kemampuan untuk mengahambat.
  2. Konflik dapat terjadi bila ada sesuatu sasaran yang sama-sama dikejar oleh kedua pihak, namun hanya ada salah satu pihak yang memungkinkan mencapainya (Saefulloh, 1988).

Joyce Hocker dan William Wilmt dalam bukunya yaitu interpersonal conflict, menurut mereka konflik dapat digambarkan sebagai berikut:

  1. Konflik adalah hal yang abnormal karena hal normal adalah keselarasan, bagi mereka yang menganut pandangan ini pada dasarnya bermaksud menyampaikan bahwa suatu konflik hanya merupakan gangguan stabilitas.

  2. Konflik sebenarnya hanyalah suatu perbedaan atau salah paham, mereka berpendapat bahwasanya konflik hanyalah kegagalan berkomunikasi dengan baik sehingga pihak lain tidak dapat memahami maksud yang sesungguhnya.

  3. Konflik adalah gangguan yang hanya terjadi karena kelakuan orang- orang yang tidak beres dan penyebab dari suatu konflik adalah anti sosial.
    Marwadi Rauf menyatakan bahwa konflik politik bukanlah konflik individu karena isu yang dipertentangkan dalam konflik politik adalah isu publik yang menyangkut kepentingan orang banyak, bukan kepentingan satu orang tertentu (Cholisin dan Nasiwan, 2012).

Penyebab Konflik Politik


Salah satu sumber konflik politik adalah adanya stuktur yang terdiri dari penguasa politik dan sejumlah orang yang dikuasi (Rauf, 2001). Stuktur ini menyebabkan bahwa konflik politik yang utama adalah antara penguasa politik dan sejumlah orang yang menjadi obyek kekuasaan politik. Konflik yang hebat antara penguasa politik dengan rakyatnya sendiri karena ketidakmauan dan ketidakmampuan penguasa politik memahami dan membela kepentingan rakyatnya. Rakyat tidaklah patut disalahkan sebagai penyebab terjadinya konflik politik. Hal yang perlu diperhatikan bahwa konflik politik timbulkan oleh adanya keterbatasan sumber-sumber daya yang dibutukan untuk hidup semakin besar kemungkinan terjadinya konflik politik. Dengan kata lain, semakin besar penderitaan dan kekecewaan rakyat semakin besar dorongan di dalam masyarakat untuk terlibat konflik dengan penguasa politik. Surbakti (1992) Konflik politik dapat muncul kepermukaan disebabkan oleh dua hal, yaitu konflik politik kemajemukan horizontal dan konflik politik kemajemukan vertikal.

1. Kemajemukan Horizontal
Adalah struktur masyarakat yang Majemuk secara kultural, seperti: suku bangsa, daerah, agama, dan ras. Majemuk secara sosial, seperti: perbedaan pekerjaan dan profesi, serta karakteristik tempat tinggal.

  • Kemajemukan horizontal kultural dapat menyebabkan konflik karena, setiap daerah berupaya mempertahankan identitas dan karakteristik budaya masing-masing. Jika tidak ada konsensus nilai, maka akan terjadi perang saudara atau gerakan separatisme.

  • Kemajemukan horizontal sosial dapat menyebabkan konflik, karena masing-masing kelompok pekerjaan, profesi, dan tempat tinggal memiliki kepentingan yang berbeda-beda dan saling bertentangan.

2. Kemajemukan Vertikal
Adalah struktur masyarakat yang terbagi berdasarkan kekayaan, pengetahuan, dan kekuasaan. Jadi, distribusi kekayaan, pengetahuan, dan kekuasaan yang pincang merupakan penyebab utama timbulnya konflik politik