Jatuh Cinta pada Dirinya

Sudah menjelang siang, namun koran langganan untuk pabrik baksoku ini belum sampai juga. Aku tidak mau kalau nanti ketika istirahat mereka yang ingin membaca koran menggunjingku bahwa aku mengkhianati kontrak kerja. Aku tak mau dituduh jadi juragan yang tidak memperhatikan kesejahteraan pegawaiku. Walau hanya sepuluh orang tapi mereka sebenarnya teman-temanku yang lulusan sarjana. Mereka suka membaca, ya setidaknya membaca koran sebagaimana yang telah kami tanda tangani bersama di kontrak kerja. Aku tak sudi kalau nanti tersebar kabar di grup ikatan alumni kalau pegawaiku yang juga teman-temanku ini tak aku penuhi kewajibanku sebagai bos. Ya walaupun cuma bos bakso yang punya beberapa rombong dan yang menggiling, membuat isian baksonya itu teman-temanku sendiri.

“Bu, ini koran hari ini, maaf baru sampai.”

“Wah kok telat, pak?”

“Iya, maaf. Saya tadi harus mengambil antrean di puskesmas dulu buat istri saya dan menemani dia sebentar. Maklum bu, kalau Senin begini Puskesmas kadang ramai.”

“Baik pak, tidak apa-apa. Terima kasih.”

Huft, untung saja koran hari ini tiba. Ya walaupun cuma berlangganan satu koran dan ini dibuat giliran terus terang saja aku cukup keberatan. Belum lagi langganan lainnya berupa majalah-majalah yang terbit mingguan ada, terbit bulanan ada. Cukup berat juga. Tapi tak apa, daripada aku dijadikan rerasan .

Daripada aku nganggur lebih baik aku perawani saja dulu korannya. Tentunya aku membaca koran bisnis dan ekonomi. Selain aku lulusan yang ada di rumpun ekonomi, aku juga harus baca keadaan global untuk menganalisis dampaknya terhadap bisnisku ini. Ya walaupun cuma juragan bakso, tapi kalau tiba-tiba ada krisis moneter seperti aku kecil dulu ya bisa-bisa bangkrut dalam sekejap aku.

Tak perlu lama aku memahami apa yang tersaji dalam koran bagian bisnis dan ekonomi itu. Aku mencoba buka-buka halaman yang lainnya. Hingga mataku tertuju pada satu nama. Ya aku ingat nama itu dan suatu peristiwa saat kami masih SMP dulu dan presentasi tentang cita-cita di pelajaranbimbingan konseling (BK).

“Cita-citamu apa?”

“Aku lihat dong cita-citamu!”

“Nanti saja akan aku beri tahu, toh nanti semua akan presentasi.”

Guru BK telah memasuki ruang kelas dan mempersilakan murid-murid mempresentasikan biodata, cita-cita, dan motto mereka. Sebagai pembuka murid dengan absen buncit dipersilakan maju dulu. Sembari kami semua mempersiapkan diri untuk presentasi dari nomor absen paling belakang.

Aku yang berada di urutan awal merasa tenang-tenang saja saat itu. Sebab pasti aku mendapatkan giliran yang terakhir. Namaku Adinda dan menempati posisi awal di daftar absensi kelas kami. Setelah itu ada sederet nama Ahmad yang mengantri absen di belakangku. Itu berarti para Ahmad itu akan presentasi terlebih dahulu dibandingkan aku.

Pasti ini mudah sekali bagi Ahmad Paijo itu. Ia dikenal sangat percaya diri dalam segala urusan. Kepercayaan dirinya itulah yang membuatnya berani menghadapi tantangan apa saja. Tapi tentu saja urusan kepintaran di kelas akulah yang memenangkan itu. Aku optimis juga pasti setelah lulus SMP ini aku akan melanjutkan ke SMA yang bagus karena aku pandai.

Namun dipikir-pikir sesi BK yang hanya sedikit itu tentulah tidak bisa menjangkau semua murid. Oleh karena itu guru kami yang semula menyesuaikan absen dari ke tiga puluh siswa itu mengacak semua murid yang belum maju. Pak guru akan mencoret nama-nama yang telah maju itu. Tiba giliran Ahmad Paijo yang dipanggil. Ia begitu percaya diri mengatakan cita-citanya. Tanpa basa-basi dan melihat contekan kertas ia mengenalkan dirinya di hadapan kami.

“Nama saya Ahmad Paijo. Jangan panggil Ahmad atau Paijo saja, karena banyak yang memiliki nama itu. Nanti saya tidak akan terkenal kalau dipanggil salah satunya. Maka gabung saja nama saya, siapa tahu kalau nanti saya terkenal, kalian semua akan ingat nama saya.”

“Hahahaha,” tawa menggema di ruang kelas kami, namun Ahmad Paijo yang percaya diri itu melanjutkan kisahnya.

“Aku tidak akan menyebutkan tanggal lahirku, karena belum tentu ulang tahunku akan kalian peringati. Apalagi menyebut bapak ibuku bisa-bisa kalian lebih mengingat mereka sebagai bahan candaan daripada namaku sendiri. Aku Ahmad Paijo akan mengatakan mengenai hobiku, cita-cita, dan mottoku.”

“Ah, lama! Langsung sajalah!” Celetuk seorang temanku.

“Aku Ahmad Paijo hobi, cita-cita, dan mottoku berhubungan dengan keberanian, sebagaimana kalian menjulukiku Ahmad Paijo Sang Pemberani. Aku berharap keberanianku untuk sesuatu yang baik dan benar. Sekian dan terima kasih.”

“Wah! Gak jelas! Gak jelas! Pasti Adinda jelas ini cita-citanya.” Seorang kawan menyebut-nyebut namaku. Ah sial! Tidak mungkin aku maju. Makin tambah dag dig dug saja.

“Bagus, Paijo. Sekarang giliran Adinda, sesuai kata teman-temannya.” Pak guru mempersilakan aku.

Sial! Aku maju dengan jantung yang berdegup kencang. Aku membacakan kertas yang sudah aku cetak rapi dan kuberi bingkai bunga-bunga di pinggirannya. Awalnya suaraku gemetar, namun lama-lama lancar.

“Sa…ya… Adinda. Bapak saya Mat Slamet, ibu saya Sumarni. Saya punya kakak bernama Ananda. Saya anak bungsu. Bapak ibu saya bekerja di rumah sebagai tukang bakso. Saya suka membantu mereka melayani pelanggan dan juga menghitung uang, itu adalah hobi saya. Cita-cita saya nanti punya cabang bakso di mana-mana. Motto saya: terus berusaha sampai sukses.”

“Cita-cita kok bakulan bakso. Kurang tinggi tau cita-citamu!” Celetuk seorang teman.

“Sudah-sudah. Jual bakso itu sendiri tidak mudah. Apalagi kalau cabangnya banyak. Harus pintar mengatur ini dan itu, ya bahan untuk baksonya, orang-orang yang dikerjakan, modalnya, dan macam-macam. Untuk kali ini karena waktu kurang 5 menit, kita akhiri saja pelajaran BK hari ini. Semoga cita-cita kalian semua bisa tercapai. Jangan lupa kertasnya dikumpulkan semua ke ketua kelas, lalu kalau ada jam kosong kita lanjut mengenalkan cita-cita itu.”

Ah benar pula, sejak hari itu aku pun bertekad untuk membantu mengembangkan bisnis yang dimiliki keluargaku. Aku rundingan dengan kakakku Ananda bagaimana menjadikan rombong kami semakin terkenal di wilayah kecamatan. Kakakku belajar bagaimana membuat varian bakso yang belum ngetren saat itu, sedangkan aku meningkatkan pelayanan yang baik bagi para pelanggan.

Aku tak tahu bagaimana Ahmad Paijo yang diam-diam aku cintai karena keberaniannya dulu bisa menjadi seperti ini. Namanya tertulis di koran sesuai dengan presentasinya dahulu. Ahmad Paijo. Seorang wartawan sebuah berita online yang jarang aku buka, menulis opini politik di koran yang aku jadikan langganan ini. Analisisnya sangat asyik dan tajam mengenai situasi ekonomi dan politik yang sedang terjadi dan bagaimana prediksinya yang memihak banyak orang yang berasal dari kalangan menengah ke bawah.

Aku semakin merasa jatuh cinta dengannya. Tentu bukan cinta dalam arti yang sesungguhnya, karena aku pun telah memiliki anak dari suami yang saling mencintai dan menghargai seperti Adimas. Aku mencintai tulisannya yang berpihak kepada rasa kepedulian terhadap manusia lain yang ia berikan. Ah Ahmad Paijo, teruslah buatku dan banyak orang jatuh cinta dengan keberanianmu dalam memihak orang-orang seperti kami.

“Ibu buatkan aku susu!” Suara anakku menegurku dari nostalgiaku.

“Bapakmu ke mana?”

“Bapak beli daging ke pasar.”

“Ya sudah ibu ke dapur dulu. Kamu duduk sini dulu ya!”

“Nggih, bu.”

Aku berharap anakku yang masih suka minum susu itu memiliki keberanian sepertimu, Ahmad Paijo.