Jangan Mati Pakai Kainku

20201017_204338_0000

TV tua itu sudah amat butut, gambarnya berbayang jadi tiga. Tapi dia masih suka menontonnya. Bukan tak mampu beli, dia tak ingin menggantinya. Sebab sesekali TV itu bercerita, “ini film kesukaannya, ini channel favoritenya. Oh! Dia menangis karena drama satu ini.”

Kompor di rumah itu sulit menyala, setiap mau masak harus berkali-kali cetak-cetek. Tapi dia juga tak mau menggantinya, sebab meski api yang keluar kian hari kian kecil, sesekali api itu bercerita, “Dia suka sekali masak, tapi sepertinya tidak berbakat. sesekali minyaknya nyiprat-nyiprat.”

“Hahaha… iya, dia menang ceroboh,” dia menanggapi cerita kompor itu.

Bahkan wajan hitam itu juga ikut berkisah, “tapi masakan dia enak loh. Nasi goreng ini kesukaannya. Yang kau buat terlalu asin sepertinya.”

“Oh ya? Duh bagaimana ini?” Kata pria yang ditinggal istrinya mati 1 tahun silam.

“Kau setiap hari masak nasi goreng, tapi tak pernah seenak buatannya.” Sendok dan garpu mengeluh. Kenangan mereka tentang nasi goreng enak masih kuat dan terus mencuat.

Pria itu hanya tersenyum getir, senyum yang sama setiap harinya. Rumah dan seluruh benda yang ada disana merawat kenangan istrinya dengan sangat baik. Sangat menyeluruh dan terasa sangat utuh. Membuatnya merasa sang istri masih sangat hidup. Entah diantara pigura yang menggantung, di remot tv, sofa atau bantal dan guling di kamar. Bahkan saat minum dari gelas milik mendiang istrinya, dia merasa mengecup pujaan hatinya.

Hatinya bergetar setiap saat, sebab istrinya hidup dimanapun dia berada. Bahkan kadang di lampu bohlam yang mati, teriakan sang istri masih terdengar, “Yah! Lampunya mati! Tolongin aku lagi jahit celanamu!”

Kemudian saat handuk basah menyentuk kasur, seisi kamar seolah menghakiminya dengan mengatakan, “istrimu akan sangat marah! Cepat gantung handuknya sebelum ketahuan!” Dan dia akan terburu-buru menjemur handuk di balkon kamar.

Kenangan yang menetap itu sesekali membawanya bernostalgi dan merasakan kebahagiaan sebab istrinya belum benar-benar mati. Tapi di sekali waktu, kenangan membuatnya terlalu rindu. Sampai-sampai memaksakan diri untuk bisa bertemu dengan sang istri. “Aku sangat merindukanmu, benar kau hidup di rumah ini dalam segala kenangan baik maupun buruk. Tapi aku ingin dirimu, ingin bersamamu!”

Dia pilih kain kesukaan sang istri, katanya mati menggunakan kain kesukaan sang istri menjadi tindakan romantis terakhir yang bisa dia lakukan. Dia ikat kain itu di tiang tengah rumah, salah satu ujungnya melingkar sempurna di lehernya. Dia siap menendang kursi yang dia naiki.

Tapi, sesaat sebelum itu tiba-tiba terdengar pintu kamar terbuka.

“Ayaaah!”

Istrinya keluar dari kamar, tubuh dan rambutnya dibalut handuk. “Ayah masak nasi tapi lupa gak dicetekin itu!”

Terkejut melihat kedatangan sang istri, dia segera melepas kain dali lehernya. Berlari menuju rice cooker dan menekan tombol untuk memasak.

“Terus ini, jangan naro gelas di atas dispenser yaa. nanti kesenggol jatoh! Pindahin!”

“I… iya iya.” dia berlari terbirit-birit, gelas di atas dispenser disabet, di pindah ke dekat kompor.

“Hih, udah dibilang, tempat sampahnya dikasih kresek dulu biar nanti buangnya gampang!”

Istrinya mengoreksi banyak hal, dia jadi sibuk bebenah. Terakhir istrinya bilang, “itu kain kesayanganku jadi kotor kalo kamu gantung disana! Duh, itu hadiah dari ibumu loh. Cepet ambil terus cuci! Aku mau ganti baju dulu.”

Dia melihat kain itu dengan rasa bersalah yang tak ada habisnya. Dia segera melepas kain itu, membawanya ke kamar dan mendapati ketiadaan. Istrinya tak benar-benar datang. Tadi hanya sekumpulan ingatan tentang kebiasaan yang dilakukan istrinya semasa hidup. Kenangan itu menyelamatkan dirinya dari kematian. “Maafkan aku! Aku begitu kacau sampai kau harus terus mengawasiku. Terima kasih!”


Derisna
ig : @Derisnaaaaa

17 Oktober 2020
Dalam rangka Challenge 30 hari menulis sastra
Tema 8 : Kenangan | Cerpen

source ilustrasi : Vectorstock edited by Derisna

Beri dukungan dengan like dan share, jangan sungkan tinggalkan kritik dan saran agar aku bisa terus melalukan perbaikan :two_hearts: