Jadi, Apakah Tengkulak Benar-benar Membantu Petani Keluar dari Persoalan Perekonomian?

Salah satu permasalah utama petani di perdesaan adalah panjangnya mata rantai pengolahan dan distribusi. Setidaknya petani harus melalui lima rantai distribusi yaitu penebas, tengkulak, juragan, distributor dan pasar untuk kemudian sampai kepada konsumen. Setiap mata rantai, tentunya akan mengambil keuntungan masing-masing, menyebabkan harga pada tingkat konsumen akan melonjak 50-100 persen ditambah dengan ongkos produksi atau biaya operasional. Tentu hal ini menyebabkan gap yang cukup besar antara harga petani dengan harga yang diterima konsumen.

Kegiatan pertanian di pedesaan tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan tengkulak. Tengkulak merupakan pihak yang membeli hasil panen dari petani baik berupa sayur maupun palawija. Kehadiran tengkulak di rantai distribusi pertanian edesaan cukup menimbulkan pro dan kontra. Pihak pendukung menyetujui bahwa keterlibatan memberikan peran besar dalam sistem pertanian, sebab tengkulak bukan hanya sebagai pembeli, tetapi tengkulak juga memiliki peran penting sebagai penyedia modal bagi petani.

Namun di sisi lain, peran-peran tengkulak yang beragam ini tentunya menyebabkan petani memiliki ketergantungan. Ketergantungan tersebut ditimbulkan oleh adanya hubungan sosial yang bersifat solidaritas dan bersimbiosis sehingga petani tidak dapat keluar dari ikatan tersebut. Diperkuat dengan studi Hasanuddin (2009) tentang “Akar Penyebab Kemiskinan Petani Hortikultura di Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung” menjelaskan bahwa petani dapat jatuh miskin karena keterikatan dengan tengkulak. Akibat dari ketergantungan ini di antaranya hubungan bersifat lama dan langgeng, petani memiliki sikap menggantungkan diri, menerima harga rendah, dan mudah dieksploitasi oleh tengkulak sebab tengkulak memberikan pinjaman kepada para petani dengan perjanjian setelah panen baru dilunasi dengan keuntungan mencapai dua hingga tiga kali lipat dari modal pinjaman.

Berdasarkan dua fenomena di lapang tersebut, menimbulkan skeptis (keraguan) akan kehadiran para tengkulak ditengah-tengah rantai pasok komoditas pertanian, yaitu apakah tengkulak benar-benar membantu petani keluar dari persoalan perekonomiannya?

Sumber:

Hasanuddin, Tubagus. 2009. Akar Penyebab Kemiskinan Petani Hortikultura di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Bandar Lampung: Jurnal Agrikultura. Vol. 20, No. 3, pp : 164-170. https://doi.org/10.24198/agrikultura.v20i3.947

1 Like

Tengkulak memiliki peran penting dalam sistem pemasaran pertanian karena tengkulak memiliki jaringan sosial yang luas. Selain itu, jaringan sosial yang dimiliki oleh tengkulak kenyataannya tidak dimiliki oleh petani biasa sehingga dapat menciptakan hubungan ketergantungan di antara keduanya.

Summary
Summary

This text will be hidden

https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/ijsep/article/download/6213/4521&ved=2ahUKEwimyKGN-tfyAhXPb30KHQtADN8QFnoECEAQBg&usg=AOvVaw2tlNJvc7dJY1GPsdZMwEuG

2 Likes

Aku setuju bahwa persoalan hubungan yang dapat dikatakan “toxic” antara petani dengan tengkulak ini bukan sesimpel hubungan jual-beli komoditas pertanian saja, namun lebih rumit dari itu. Kebanyakan petani sayangnya tidak memiliki cukup modal untuk mulai melakukan budidaya pertanian sehingga mereka membutuhkan pinjaman modal. Nah, disinilah sebenarnya penyebab mengapa tengkulak seringkali disebut merugikan atau bahkan menyiksa para petani. Tengkulak sering menawarkan pinjaman modal kepada petani agar mereka dapat mulai berbudidaya. Namun menurut cerita yang aku dengar saat mewawancarai petani, tengkulak seringkali menawarkan kontrak di depan yang mengikat petani untuk menjual komoditasnya hanya ke tengkulak tersebut. Harga jual komoditas tersebut seringkali telah ditentukan di awal sehingga petani tidak dapat bertindak banyak sehingga mereka hanya mendapatkan sangat sedikit keuntungan atau bahkan dapat dirugikan.

Lebih lanjut lagi menurut Marmudah dan Harianto (2014), masalah ketergantungan petani terhadap tengkulak umumnya dirasakan oleh petani dengan lahan sempit. Hal tersebut dapat terjadi karena penghasilan petani dengan lahan sempit cenderung sedikit sehingga membutuhkan suntikan modal tambahan. Sulitnya mendapatkan pinjaman modal dari tempat lain menyebabkan mereka tidak memiliki pilihan lain selain meminjam ke pada tengkulak yang menawarkan pinjaman. Dengan demikian, bargaining position atau posisi tawar petani terhadap tengkulak cenderung rendah sehingga mereka lebih menuruti apa yang dikatakan tengkulak yang telah meminjami mereka modal usaha.

Aku menyimpulkan bahwa mayoritas tengkulak tidak menguntungkan petani karena mereka lebih mementingkan keuntungan mereka sendiri. Pinjaman yang diberikan tengkulak hanya bersifat solusi sementara saja yang tidak banyak membantu petani dan bahkan dapat merugikan mereka. Hal tersebut juga ditunjukkan oleh banyaknya penelitian yang mencari alternatif solusi, seperti Paillin dan Talib (2013) yang menyarankan untuk lebih mengaktifkan koperasi sebagai sarana penyedia modal dan tujuan penjualan hasil panen yang lebih menguntungkan petani.

Sumber

Marmudah, E., & Harianto, S. (2014). Bargaining Position Petani dalam Menghadapi Tengkulak. Paradigma, 2(1), 1-5.

Paillin, D. B., & Talib, T. (2013). Alternatif Penanggulangan Tengkulak dalam Usaha Budidaya Rumput Laut di Kabupaten Seram Bagian Barat. ARIKA, 7(1), 65-80.

1 Like

Ibaratnya adalah apakah tengkulak itu teman atau musuh bagi petani.
Sebelumnya kita mengenal kategori petani berdasarkan luas kepemilikan lahannya itu terbagi menjadi 3 golongan, antara lain petani kecil, petani sedang, dan petani besar. Kaitannya dengan peran tengkulak ini, yang paling dirugikan adalah para petani kecil. Selanjutnya “petani” yang akan aku sebut akan merujuk pada petani kecil.

Saya setuju dengan opini ini. Petani dengan kepemilikan lahan yang hanya berkisar antara 0,5-2 ha saja kebanyakan tidak memiliki kuasa untuk mengendalikan transaksi jual beli yang sedang berjalan. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi, seperti kerentanan atau kelemahan jasmani, derajat sosial, relasi dan komunikasi. Hal tersebut yang kemudian mendorong terciptanya kesepakatan antara petani dan tengkulak mengenai suatu komoditas tertentu.
Lalu apakah para petani akan terus berputar pada roda perekonomian yang demikian? Jawabannya adalah tergantung. Saya akan memaparkan 2 pandangan yang berbeda tentang apakah tengkulak itu membantu atau justru menjatuhkan.

  1. Di satu sisi, tidak bisa dipungkiri bahwa memang tengkulak itu membantu perekonomian petani, mulai dari penyedia kebutuhan bertani hingga membantu pemasaran dan tahap pasca panen. Bayangan saja, andai petani menyuplai semua kebutuhan bertaninya sendiri mulai dari pra tanam hingga pasca panen bahkan sampai tahap pemasaran, mungkin hasil yang didapat lebih banyak, namun itu juga sebanding dengan tenaga dan waktu yang dikorbankan. Jadi, bagaimanapun juga, keberadaan tengkulak sangat krusial bagi keberlangsungan distribusi komoditas dari petani ke konsumen.
  2. Stigma bahwa tengkulak adalah pemilik modal inilah yang ditanggapi menjadi sebab kerugian petani. Banyak petani di Indonesia merugi akibat harga beli produk hasil pertanian yang rendah oleh para tengkulak. Sifat ketergantungan muncul akbiat adanya interaksi berkelanjutan antar keduanya seperti yang disampaikan oleh kak @dinarizki

Saya menyimpulkan bahwa tengkulak secara nyata membantu kondisi perekonomian petani, namun tidak dengan kesejahteraannya. Hubungan keduanya akan terus mengikat satu sama lain dan berkutat pada hal yang sama.

Referensi

Muhammad, A., Heliawaty, Kawamura, Y., & Syarifuddin, Y. (2018, June). Agricultural Development-Marketing Nexus: Is Tengkulak truly Enemy of Smallholders in Indonesian Rural Area? International Journal of Agriculture System, 6 (1), 60-67. doi:10.20956/ijas.v6i1.1498
Millah, I. (2015). Dinamika Survival Petani Sayuran (Studi Deskriptif Petani Sayuran di Desa Kalipadang Kecamatan Benjeng Kabupatan Gresik). Skripsi. Surabaya: Universitas Airlangga.