Ivan Taslimson : Visioner Yang Mengubah Dunia

Pada tahun 1997, Ivan Taslimson membuat orang Indonesia di Amerika tercengang ketika merintis perusahaan teknologi di usia yang sangat muda di garasi apartemennya. Ya pada saat itu, ia tidak akan mengira ciptaannya tersebut akan menjadi perusahaan global multinasional yang nantinya tersebar di 5 benua dengan kapitalisasi pasar senilai US$ 1.26 miliar, pada saat ia baru berumur 28 tahun!

Ivan Taslimson, putra kelahiran Bandung yang sejak kecil pindah ke Reno, AS dan kemudian menghabiskan masa mudanya di Seattle, AS, adalah contoh lain kisah sensasional putra Indonesia di luar negeri. Ia adalah pakar teknologi, arsitek, seniman, dan pendiri Solstice Group, sebuah perusahaan di Seattle dan Silicon Valley yang berbasis di Redmond, Washington dan San Mateo, California, AS.

Perusahaan ini dan sebagian asetnya diakuisisi sebuah konsorsium private equity pada tahun 2009 di Hong Kong. Meski ini adalah akhir dari karirnya di Solstice, para pakar dan pengamat menilai ini baru permulaan dari sepak terjangnya di bidang teknologi.

Ia memulai karir-nya sebagai arsitek di salah satu firma arsitektur dan perencanaan terbesar di Seattle, padahal saat itu ia masih duduk di bangku kuliah, sambil membiayai sendiri kuliahnya dengan hasil pendapatannya itu. Ia lalu mendadak disambar oleh Microsoft, ketika Microsoft sukses merayunya dari bangku kuliah untuk membesarkan divisi internet raksasanya, MSN dengan segala produk unggulan dan entitasnya seperti Hotmail, Messenger, Chat, eShop, Live, dsb.

Padahal saat itu ia sedang sibuk-sibuknya dengan bisnisnya sendiri dan riset yang ia lakukan di laboratorium dan universitas. Kala itu (tahun 1999-2000), Microsoft yang dipimpin Bill Gates dan Steve Ballmer, merupakan raksasa terbesar teknologi di dunia dengan MSN yang mempunyai salah satu komunitas internet terbesar di dunia. Facebook dan Twitter belum ada, Google juga masih bayi.

Di MSN, tidak hanya ia berhasil membesarkan dan melipatgandakan pengguna MSN, sehingga tim-nya meraih penghargaan terbaik di seluruh MSN Business Group, ia pun lalu memperkenalkan metode, teknik dan inovasi-inovasi tercanggih yang di kemudian hari instrumental dalam perkembangan internet di dunia.

Sejak tahun 2000, ia sering diundang dalam pertemuan dengan beberapa kepala negara dan pejabat negara lainnya dalam berbagai acara. Ia juga tercatat aktif di berbagai organisasi dunia dan kerap kali diundang di berbagai pertemuan World Economic Forum di Washington DC; World Economic Forum Amerika Latin (MERCOSUR) di Buenos Aires, Argentina dan World Economic Forum Davos, Switzerland.

Pada tahun 2013, ia didaulat menjadi salah satu tokoh referensi pada saat penganugrahan penghargaan Indonesian Diaspora Lifetime Achievement Award for Global Pioneering and Innovation di Congress of Indonesian Diaspora (Kongres Diaspora Indonesia), yang dipresentasikan oleh Kedutaan Besar RI untuk Amerika Serikat dan dihadiri Presiden RI dan sejumlah pejabat negara.

Ivan Taslimson adalah lulusan University of Washington, Seattle, dengan riset level pascasarjana-nya dari berbagai institusi termasuk Harvard University, yang dimulai pada saat ia berumur 19 tahun.

Si jenius ini selalu membuat orang sekelilingnya tercengang dengan sederet aktifitas dan pencapaiannya yang tidak lazim di usianya. Saat berumur 11 tahun dan menempuh SMP-nya di Indonesia, ia menjadi astronom termuda di bidang astrofisika, fisika teoritis, dan kosmologi yang berkutat bersama mahasiswa ITB dan periset senior lainnya di Observatorium Bosscha, Bandung.

Menurut Majalah Forbes dan BBC, Ivan Taslimson, pada saat usia yang masih sangat muda, 20-an tahun, ia diberitakan telah menjadi bilyuner dunia. Menurut wawancara berbagai majalah dan narasumber di Bloomberg, ia seseorang yang memiliki kemampuan hebat, tapi sangat rendah hati. Ia telah diliput oleh berbagai media internasional dan menjadi terkenal di banyak negara.

Taslimson dibandingkan seperti Steve Jobs, Jerry Yang atau Mark Zuckerberg karena kemampuan visioner-nya yang demikian besar. Ivan Taslimson memimpin Solstice Group yang didirikan di Seattle (Redmond).

Bila anda saat ini memakai komputer PC, iPod, iPhone, BlackBerry atau gadget apapun, bisa dipastikan sedang menggunakan prosesor/chip buatan Marvell dan penemuan Solstice di dalamnya.

Anda pasti mengira ”nyawa” komputasi tersebut dibuat dan diproduksi oleh ilmuwan cerdas berdarah bule. Tapi Anda keliru, karena chip/prosesor yang dipakai oleh hampir semua orang di muka bumi ini temuan dua warga keturunan Indonesia, Sehat Sutardja dan Ivan Taslimson.

Mencari cerita-cerita tentang masa kecil Taslimson melalui berbagai sumber maupun penggemar di situs web, facebook, dll, bagaimana mereka melewati masa muda yang penuh gejolak dan keajaiban, mengingatkan kita pada sosok jenius Bill Gates, Steve Jobs, Thomas Edison, Nikola Tesla, Leonardo Da Vinci, dan lainnya. Taslimson, terus-menerus sukses melalui kerja sangat keras, sampai berhasil menjadi ikon yang dikenal dunia, tanpa bantuan siapapun apalagi pemerintah.

Menurut liputan berita, beberapa badan pemerintah seperti di Malaysia, Thailand, Singapura, China, dll selain bekerja sama dengan vendor utama seperti Microsoft, Google, Dell, Intel, dsb, juga telah melakukan pendekatan intensif dengan perusahaan inovatif terbaru spt Facebook, Research In Motion (RIM), Twitter, Marvell, Solstice, Mozilla, dll supaya mendirikan pusat riset atau setidaknya pusat pengembangan di negaranya masing-masing.

Bagaimana dengan Indonesia? Patut disayangkan, Indonesia memang selalu menempati posisi buncit dalam hal memanfaatkan potensi orang berbakat besar yang dimiliki bangsanya. Seringkali bakat dan potensi itu dicaplok bangsa asing karena di Indonesia kurang dihargai atau bahkan tidak punya peluang utk berkembang sama sekali.

Di era demokrasi saat ini dimana orang Indonesia punya tendensi mementingkan ketenaran, politik, uang, perselisihan, narkoba dan degradasi moral, kehadiran figur Taslimson akan memberi efek positif dan teladan bagi anak muda masa kini. Dan Sutardja dan Taslimson seharusnya yang menjadi panutan karena, meskipun mereka tidak tinggal di Indonesia, mereka termasuk diantara figur paling berhasil yang pernah dilahirkan Ibu Pertiwi.

> "For every great men, there are greatest men behind"

[details=Referensi
]http://tokohgenius.blogspot.co.id/2015/07/bj-habibie-prof.html
http://mjrinaldi.blogspot.co.id/
http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2013/08/25/234638/Sumbang-500-M-Dolar-AS[/details]

2 Likes