Inspiratif "Disebuah Bandara"

images (34)

Suatu pagi yang cerah, Di sebuah Bandara Internasional yang super sibuk, tampak seorang wanita muda berada diantara barisan penumpang yang sedang menunggu antrean masuk ke bandara. Setelah wanita itu chek in dan menyelesaikan berbagai administrasi penerbangan, ia langsung menuju ke ruang tunggu penumpang.

Sambil menunggu jadwal keberangkatan, ia menuju kantin bandara untuk membeli cemilan, yaitu sebungkus biskuit dan sebuah majalah. Selanjutnya wanita tersebut menuju ke ruang tunggu penumpang dan duduk disamping seorang pria yang sedang membaca koran.

Setelah duduk, ia melahap biskuit yang ada diatas meja sambil membuka lembaran-lembaran majalah yang baru dibelinya. Namun, alangkah terkejut si wanita itu saat pria di yang berada disebelahnya juga ikut mengambil dan melahap kepingan biskuit yang ada diatas meja tanpa izin darinya.

Dalam hati, ia hanya menduga bahwa ini hanya ulah pria iseng. Namun kejadian ini terulang kembali. Setiap wanita itu mengambil biskuit, si pria ikut mengambil dan mencicipi biskuit tersebut. Wajah si pria tampak tenang, tanpa merasa bersalah. Sebaliknya, wanita muda itu kian jengkel dengan sikap pria tersebut. Dalam hati ia berkata: “Walaupun penampilanmu elegan, namun kelakuanmu seperti maling. Betapa memalukan”, geramnya.

Beberapa saat kemudian, hanya tersisa 1 keping biskuit diatas meja. Dengan senyum mengembang, pria itu menawarkan biskuit terakhir kepada wanita itu. Dengan wajah jengkel, ia menolak. Seketika kepingan biskuit terakhir itupun masuk kedalam mulut pria misterius itu.

Jadwal keberangkatanpun tiba. Wanita tersebut bergegas menuju ke pesawat. Saat berada di tempat duduk pesawat, ia membuka tasnya, mengambil handphone dan menonaktifkannya. Namun alangkah kagetnya ia saat melihat didalam tasnya ada bungkusan biskuit yang tadi ia beli dikantin bandara. Masih utuh. Sama sekali belum tersentuh.

Pikirannyapun melayang membayangkan kejadian barusan. Ternyata biskuit yang ia makan saat dibandara bukan miliknya, tetapi milik si pria tersebut. Betapa malunya ia mengenang kejadian tersebut. Seketika ia merasa menjadi perempuan paling egois dan paling tolol di dunia.

Ya, itulah ending dari ceritanya. Walaupun nggak hepi ending, tetapi tetap ada pelajaran yang bisa kita petik.

Terkadang kita terlalu sering melihat sesuatu dari kacamata kita, tanpa berusaha melihatnya dari kacamata orang lain. Itu salah satu kesimpulan yang dapat saya ambil.

Apa kesimpulan Anda setelah membaca cerita diatas? Mungkin bisa aja berbeda?

SUMBER :

terkadang orang tak tau apa sudut pandang dan apa yang harus mereka perbuat dengan sudut pandang mereka sendiri, yang terkadamg malah membikin mereka hancur karna salah persepsi dari sudut pandang yang mereka yakini.
ada dua prinsip dalam pengertian ini, pertama :
cobalah menerima dan memikirkan tentang pola pikir mereka, buang rasa keegoisan dalam diri dan emosi kita hanya karna rasa gengsi dan malu, karna rasa gengsi dan malu hanya akan menghantarkan kita kedalam keterpurukan yang tanpa kita sadari telah menelan kita disaat kita tidak tau lagi jalan pikiran kita sendiri.
gengsi itu perlu, karena dengan adanya gengsi kita akan semakin berkaca tentang tolak ukur peringkat diri kita dibanding orang lain, tapi bukan berarti kita harus mengagungkan gengsi kita, jadikan gengsi itu sesuatu yang penting namun bukan prioritas utama, tertkadang kita perlu gengsi untuk meningkaty namun terkadang kita perlu buang gengsi itu untuk jadi yang lebih baik dari yang sekarang.