Inilah Wanita-Wanita Hebat Di Jagad Teknologi


(Amalia Laisa) #1

5 Pelajaran Berharga dari Wanita yang Sukses di Ranah Teknologi

Update: Kami menambah informasi mengenai suami Sheryl Sandberg yang telah meninggal dunia dari tahun lalu.

Dewasa ini isu gender dan teknologi menjadi masaalah penting yang dihadapi wanita secara global. Pasalnya terdapat bias gender yang disebabkan minimnya jumlah wanita yang bekerja di ranah teknologi.

Fakta tersebut diperkuat dengan prediksi Deloitte yang menyatakan bahwa pada akhir 2016 kurang dari 25 persen pekerja teknologi informasi di negara-negara maju akan dipegang wanita. Sehingga kita kerap menemukan banyak celah pekerjaan yang seharusnya bisa dikerjakan oleh wanita.

Padahal sebenarnya ada banyak keuntungan jika wanita bekerja di ranah teknologi. Sebuah penelitian menyatakan bahwa perempuan memiliki dampak yang bisa mempengaruhi hingga 85 persen pembelian. Tak hanya itu saja, setengah dari pengguna produk teknologi terutama di bidang e-commerce dan marketplace adalah wanita, sehingga dibutuhkan analisa pemasaran dan inovasi terbaru dari sudut pandang wanita untuk mencapai target pasar.

Hal senada juga diutarakan oleh pendiri Girls Who Code, Reeshma Saujani bahwa salah satu cara tepat agar suatu perusahaan mencapai kesuksesan adalah dengan adanya keragaman pegawainya, termasuk keragaman gender.

Meski dengan jumlah sedikit, nyatanya ada beberapa wanita luar biasa yang menyangkal prasangka bahwa perempuan tidak cocok untuk bekerja di ranah teknologi. Mereka menunjukkan bagaimana seorang wanita mampu bekerja bahkan menjadi pemimpin di beberapa perusahaan teknologi terkemuka duunia dengan baik.

Siapa saja mereka? Apa saja pelajaran yang bisa kita ambil dari para wanita terkenal di ranah teknologi tersebut? Berikut ulasannya yang saya rangkum dari berbagai penelusuran.

Sheryl Sandberg (COO Facebook) – Milikilah kepercayaan diri maka keberhasilan akan menjadi milikmu

COO Facebook, Sheryl Sandberg merupakan sosok wanita di balik kesuksesan Facebook. Berkat tangan dinginnya Facebook berhasil menjadi salah satu media sosial terbesar di dunia. Istri dari mendiang Dave Goldberg, CEO SurveyMonkey, ini memiliki kontribusi besar untuk Facebook, salah satunya yaitu mengembangkan sistem periklanan mandiri Facebook setelah sebelumnya perusahaan tersebut hanya mengandalkan iklan dari Google saja.

Wanita yang pernah bekerja di Google sebagai Wakil Presiden Global Online Sales and Operation ini tidak hanya dikenal dalam kemampuannya di pekerjaan profesional, namun juga sebagai ibu dari dua anak yang menjalankan tugas sebagai orang tua dengan baik.

Pada tahun 2015, ia menuliskan sebuah buku yang berjudul Lean In untuk mendorong agar wanita memiliki kepercayaan diri menjadi pemimpin dan bisa mengubah dunia. Menurutnya ada beberapa hal yang menyebabkan minimnya pemimpin wanita.

Ia mengatakan bahwa sebagian besar kaum hawa cenderung menganggap rendah kemampuan mereka sendiri. Sehingga rasa percaya diri menjadi kunci pertama kesuksesan seorang wanita terutama saat bekerja.

Tak hanya itu saja, menjadikan pasangan hidup sebagai partner yang baik dengan membagi tugas pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak secara seimbang mampu memberikan peluang agar wanita memiliki waktu bekerja di luar rumah.

Selain itu, kebanyakan wanita cenderung mulai menjauh dari pekerjaan dengan tidak mau mengoptimalkan potensi dan mengambil promosi, saat mereka mulai berpikir untuk menikah dan memiliki anak. Padahal hal itu belum benar-benar terjadi dan bisa berujung dengan meninggalkan pekerjaan.

Percaya pada diri sendiri dan bernegosiasilah, miliki keberhasilan Anda!

Susan Wojcicki (CEO YouTube) – Menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarga

Susan Wojcicki mengawali kariernya di bidang teknologi dengan menjadi manajer pertama Google pada tahun 1999. Saat bekerja di Google, ia turut andil dalam dua akuisisi terbesar Google yaitu pembelian YouTube pada tahun 2006 serta pembelian DoubleClick pada tahun 2007. Berkat prestasinya tersebut ia menjadi CEO YouTube.

Sebagai seorang ibu yang memiliki lima anak, ia sering berbicara tentang pentingnya keseimbangan antara keluarga dan karier. Pencapaiannya menjadi wanita karier yang sukses tak membuatnya lupa akan tanggung jawabnya sebagai istri serta ibu rumah tangga yang baik.

Meski pada awalnya banyak rekannya yang meganggap ia akan menyerah pada pekerjaan setelah memiliki anak, ia percaya bahwa buah hatinya mampu memberikan dampak positif bagi pekerjaannya. Begitu pula sebaliknya, pekerjaan bisa menjadikannya sebagai ibu yang baik.

Tak hanya itu saja, menurutnya sukses itu tidak ditentukan berapa lama waktu bekerja. Karena jika bekerja 24 jam selama seminggu, maka ide-ide segar tidak akan datang. Sehingga istilah work life balance sangat tepat untuk diterapkan di berbagai perusahaan, terutama di industri kreatif.

Ginni Rometty (CEO IBM) – Bekerja keras, loyalitas, dan selalu mempelajari hal-hal baru

Pemilik nama asli Virginia Marie Nicosia atau lebih dikenal sebagai Ginni Rometty ini memang pantas menjadi orang tertinggi di salah satu perusahaan teknologi terbesar dunia, International Business Machines (IBM).

Kerja keras dan loyalitasnya terhadap pekerjaan tidak bisa diragukan lagi. Pasalnya sarjana ilmu komputer dan teknik elektro di Northwestern University ini meniti karirnya di IBM dari bawah sebagai System Engineer dan akhirnya berhasil mencapai puncak karier menjadi CEO IBM. Salah satu terobosannya sebagai CEO IBM adalah mengomersialkan software Watson.

Peran kesuksesaan CEO yang akrab disapa Ginni ini tidak luput dari peran didikan ibunya serta dorongan dari suaminya, Mark Rometty. Dibesarkan dari orang tua tunggal, Ginni mengaku bahwa ibunya adalah panutannya.

Sebagai wanita yang bekerja di ranah teknologi, ia berani keluar dari zona nyaman dengan mencoba berbagai pekerjaan di IBM. Mulai dari System Engineer pada tahun 1981. Sepuluh tahun setelahnya ia bergabung dengan IBM Consulting Group, dan pada tahun 2002 Ginni berhasil meyakinkan para konsultan PricewaterhouseCooper (PwC) untuk mau diintegrasikan dengan IBM.

Pada akhir tahun 2012 Ginni resmi menjadi ketua, presiden, dan CEO IBM. Pencapainnya menjadi orang nomer satu di IBM itu tak lepas dari kerja keras, loyalitas, dan mau mempelajari hal-hal baru dalam pekerjaan.

Saya selalu melakukan hal yang tidak pernah saya kerjakan sebelumnya. Pertumbuhan dan kenyamanan tidak bisa berjalan beriringan.

Meg Whitman (CEO Hewlett-Packard) – Fokuslah pada tujuan dan berani mengambil tantangan

Meg Whitman sempat bercita-cita menjadi dokter tetapi pada akhirnya terjun ke dunia bisnis dan politik. Selama sepuluh tahun ia memimpin eBay, banyak langkah luar biasa yang telah dilakukannya, sehingga perusahaan rintisan yang hanya memilki tiga puluh karyawan tersebut berkembang pesat menjadi perusahaan besar dengan jumlah karyawan mencapai 15.000. Berkat kesuksesannya memimpin eBay, ia pun diminta menjadi CEO HP.

Sebagai pemimpin yang dipercaya untuk memimpin perusahaan di tengah masalah merupakan tantangan besar bagi Meg Whitman. Langkah pertama yang diambil oleh istri Graffisth Harsh IV ini yaitu fokus pada tujuannya untuk meningkatkan pendapatan perusahaan dengan berani mengambil beberapa terobosan baru meski menuai pro dan kontra.

Salah satunya adalah dengan melakukan pemisahan HP menjadi dua, yaitu HP Enterprise dan HP Inc. Hal ini dilakukan sebagai salah satu strategi HP untuk meningkatkan pendapatan perusahaan. Dari situ HP perlahan mulai memperlihatkan perkembangannya.

Marissa Mayer (CEO Yahoo) – Kenali kelemahanmu dan temukan bakatmu

Semenjak remaja kecerdasan Marissa Mayer sudah terlihat. Setelah lulus pascasarjana di Stanford University, Marissa lebih memilih bekerja di Google yang saat itu masih berstatus perusahaan rintisan. Alasannya agar bisa belajar banyak dari orang-orang cerdas meski startup memiliki dua risiko kabangkrutan atau keberhasilan.

Istri investor Zachary Bogue ini mengawali karir sebagai engineer pertama wanita di Google. Namun, lambat laun ia menyadari bahwa bakat dan keahliannya bukan di bagian coding dan memutuskan mencari bidang keahlian lain yang bisa digunakan di Google.

Setelah mencoba banyak hal untuk menyelesaikan apa pun yang menjadi masalah di Google. Akhirnya ia berhasil menemukan bidang keahliannya yaitu menjadi orang terakhir yang memutuskan apakah tampilan pengguna Google yang dirancang sudah sesuai dengan standar dan gaya Google, serta memimpin beberapa proyek besar di Google.

Terakhir ia menjabat sebagai eksekutif dan juru bicara utama Google. Pada tahun 2011 ia menerima tawaran sebagai presiden sekaligus CEO Yahoo meski pada saat itu usianya masih terbilang muda.

Dari beberapa ulasan di atas, dapat disimpulkan bahwa seorang wanita bisa saja menjadi sukses di pekerjaan hingga mencapai puncak serta menjadi ibu rumah tangga yang baik. Selain itu, berbagai perubahan dan peloporan yang telah berhasil mereka lakukan bisa menjadi panutan bagi wanita muda saat ini.

Karena pada hakekatnya kesuksesan seseorang tidak berdasarkan pada ras, jenis kelamin, atau pun usia. Semua tergantung bagaimana usaha dan potensi yang dimiliki.

Artike ini diambil dari Tech In Asia Indonesia yang bersumber dari Girl Who Code


Bagaimana pendapat anda mengenai sarjana perempuan yang menjadi ibu rumah tangga?
(Raynold Agustinus) #2

##Aulia Halimatussadiah

Sumber : finansialku.com

Nama Aulia Halimatussadiah sudah lama dikenal di ranah startup Indonesia. Ia telah menciptakan beragam buku fiksi dan membangun beberapa bisnis online, termasuk toko buku online Kutukutubuku di 2006. Selain itu, ia juga memimpin startup yang menjadi platform self-publishing online Nulisbuku.

“Who were your greatest influencers – Myself and Everyone”

Ollie, sapaan akrab wanita berhijab ini, tetap berjuang di ranah ini karena telah berkomitmen untuk terus mempromosikan para entrepreneur wanita di Indonesia. Melalui GirlsinTechIndonesia, ia bersama dengan Anantya van Bronckhorst dan Ria Ariyanie memulai komunitas untuk founder startup wanita.

##Catherine Hindra Sutjahyo

Sumber gambar : kaskus.co.id

Catherine Sutjahyo meninggalkan pekerjaannya di McKinsey untuk bisnis yang lebih menantang: ia menjadi co-founder dan direktur Zalora Indonesia. Raksasa e-commerce ini merupakan bagian dari keluarga Rocket Internet dan diluncurkan di Indonesia pada tahun 2012.

“Saya memang suka start-up. Saya percaya potensi e-commerce di Indonesia, khususnya untuk produk fashion. Konsumen ingin gampang cari baju, tapi selama ini aksesnya kurang. Dengan e-commerce online seperti ini akan jauh lebih gampang,” menurut Catherine tentang alasan pendirian Zalora.

Menjadi bagian dari jaringan Rocket Internet otomatis membuat nama Catherine bersinar dan ia kini bertanggung jawab mengurus pendanaan jutaan dolar dari firma seperti JP Morgan dan Rocket Internet.

##Cynthia Tenggara

SUmber gambar : eunoiawomen.com

BerryKitchen merupakan layanan delivery katering yang mengantarkan makan siang kepada pelanggan yang sebagian besar merupakan pekerja kantoran. Sang founder, Cynthia Tenggara, sebelumnya bekerja di Groupon Indonesia, sehingga ia telah familier dengan perkembangan bisnis teknologi.

I am stubborn when people say that I can’t. It encourages me to prove that they are wrong. Cynthia Tenggara

Di Maret 2014, startup miliknya mendapat pendanaan dari ANGIN, angel investment asal Indonesia yang khusus mendanai startup menjanjikan yang dipimpin oleh wanita. Setahun berikutnya, BerryKitchen mendapat pendanaan lain dari East Ventures.

##Claudia Widjaya dan Yenti Elizabeth

Sumber gambar : id.techinasia.com

BerryBenka memulai bisnisnya dari skala toko online kecil di Agustus 2011. Dikepalai oleh dua wanita, Claudia Wijaya dan Yenti Elizabeth, BerryBenka mungkin belum sebesar Zalora, namun bisnis ini menunjukkan performa menjanjikan untuk meyakinkan East Ventures menanamkan investasi di 2012. BerryBenka mendapat investasi lainnya dari GREE Ventures di Januari 2013 dan pendanaan ketiga sebesar USD 5 juta (sekitar Rp 63 miliar) di akhir 2013.

Kedua wanita ini memulai bisnis kecil, hingga kini terus membesar.

##Diajeng Lestari

Sumber gambar : marketing.co.id

Diajeng Lestari bekerja di Mars Indonesia sebelum akhirnya terjun ke dunia e-commerce. Startup miliknya, HijUp, berfokus menjual barang fashion bagi Muslim. Dengan pertimbangan Indonesia memiliki populasi Muslim terbanyak, bisnis ini memiliki ide yang sangat bagus. Melakukan operasional secara bootstrap sejak 2011, HijUp mendapat investasi di 2015.

“Jika pandai bersyukur, Tuhan akan menambah nikmat yang diberikan.” –Diajeng Lestari-

Diajeng kini memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa e-commerce miliknya juga dapat populer di negara Muslim lainnya.

##Donna Lesmana

Sumber gambar : selipan.com

Donna Lesmana merupakan founder e-commerce khusus lingerie wanita, Lolalola. Ia sebelumnya berkecimpung di dunia e-commerce peralatan olahraga outdoor SukaOutdoor. Ia memutuskan untuk mendirikan Lolalola setelah mengetahui besarnya potensi ranah toko lingerie online di Indonesia. Startup ini diluncurkan pada Agustus 2014 dan saat ini telah didukung oleh Ardent Capital yang berbasis di Hongkong dan aCommerce sebagai mitra logistik dan marketing.

Dengan mitra handal tersebut, Donna mungkin juga akan membawa Lolalola ke negara-negara di Asia Tenggara lainnya.

##Grace Tahir

Sumber gambar : dailysocial.id

Grace Tahir telah bekerja di sektor kesehatan lebih dari satu dekade. Selain menjadi entrepreneur, Grace juga merupakan direktur RS Mayapada. Ia menjadi co-founder PilihDokter di 2014, sebuah platform yang ingin memberi solusi masalah kesehatan di Indonesia dengan cara menghubungkan konsumen dengan dokter handal dan menyediakan kesehatan berkualitas dan saran medis. Dan bisnis ini berjalan baik. PilihDokter telah mendapat pendanaan dari platform konsultasi dokter asal Singapura RingMD.

Selain itu, Grace mendukung ekosistem startup sebagai angel investor. Di September 2014, ia menanamkan investasi pada platform manajemen HR, Talenta.

##Hanifa Ambadar

SUmber gambar : swa.co.id

Hanifa Ambadar menjalankan jaringan media online Female Daily. Meskipun masih menjadi perdebatan apakah majalah online dapat dikategorikan ke dalam startup teknologi, Female Daily jelas masuk ke dalamnya. Dimulai dari blog fashion personal di 2005, Female Daily kini tumbuh besar – sangat besar lebih tepatnya.

Website mereka memiliki komunitas dan forum yang memungkinkan anggota terdaftar untuk menulis ulasan sebuah produk dan berpartisipasi di forum diskusi. Female Daily memiliki pandangan unik bagi wanita yang aktif di dunia online. Ini membantu Hanifa menjaring klien iklan dan juga membuat dirinya menjadi konsultan yang banyak dicari. Female Daily mendapat pendanaan USD 1 juta (sekitar Rp 13 miliar) yang digunakan untuk ekspansi bisnis.

##Nabilah Alsagoff

SUmber gambar : techinasia.com

Nabilah merupakan founder dan COO Doku. Melalui Doku, ia membangun platform untuk menghadapi persoalan rumit dalam pembayaran online di Indonesia. Doku telah melayani nama besar seperti Air Asia dan Sinar Mas.

Nabilah juga telah berada di ranah bisnis ini dalam jangka waktu lama. Ia mulai memikirkan tentang bisnis e-payment di 2002, saat ia masih menjadi konsultan bagi Kementerian Pariwisata Indonesia yang saat itu ingin membangun portal yang dapat membantu mengembalikan industri pariwisata Bali setelah peristiwa bom di pulau tersebut.

Pengalamannya menjadi inspirasi bagi banyak orang dan ia masih menyempatkan waktu untuk berbagi kisahnya dengan komunitas. Ia juga menjadi salah satu pembicara di Startup Asia Jakarta 2014.

Veronika Linardi

Sumber gambar : europeanbusinessreview.com

Veronika Linardi merupakan co-founder Qerja, sebuah startup yang memungkinkan para pencari kerja dan karyawan berbagi informasi gaji secara anonim – topik yang jarang dibahas secara terbuka. Platform milik Qerja serupa dengan model bisnis yang diterapkan di AS.

Di awal Maret 2015, Qerja mendapat pendanaan sebesar delapan digit dari SB ISAT Fund, sebuah joint venture milik SoftBank dan Indosat. Tentunya, para VC percaya bahwa Veronika dapat membawa Qerja ke level selanjutnya. Veronika memiliki banyak pengalaman di bidang SDM. Ia juga telah memimpin perusahaan perekrutan kerja miliknya yang bernama Linardi Associates sejak 2006.

Sumber : id.techinasia.com