Informasi apa yang minimal harus diketahui untuk menilai status gizi pada lansia?

Penilaian status kesehatan agak sulit ditentukan karena terjadi pelemahan fisik lansia.
Informasi apa yang minimal harus diketahui untuk menilai status gizi pada lansia?

Pengukuran status gizi digunakan untuk menentukan status gizi, mengidentifikasi malnutrisi (kurang gizi atau gizi lebih) dan menentukan jenis diet atau menu makanan yang harus diberikan pada seseorang.

Untuk mengukur status gizi lansia sebaiknya menggunakan lebih dari satu parameter sehingga hasil kajian lebih akurat (Depkes RI, 2003).

Pengukuran status gizi dapat melalui penilaian diatetik, pemeriksaan fisik, pengukuran antropometri dan pemeriksaan biokimia. Alat pengkajian lain yang dapat digunakan untuk menentukan status gizi adalah MNA (The Mini Nutritional Assessment).

Penilaian Diatetik

Penilaian diatetik merupakan pengukuran status gizi yang dilakukan dengan mengumpulkan informasi tentang kebiasaan makan, jenis makanan dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi status gizi seseorang.

Meiner (2006) menjelaskan bahwa informasi yang dibutuhkan dalam penilaian diatetik mencakup jumlah dari makanan dan snack per hari, kesulitan mengunyah dan menelan, masalah atau gejala gastrointestinal yang mempengaruhi proses makan, kesehatan mulut, penggunaan gigi palsu, riwayat atau penyakit bedah, tingkat aktivitas, penggunaan obat-obatan, selera makan, membutuhkan asisten untuk menyiapkan makanan, pilihan makanan dan riwayat alergi.

Selain itu, Biro et al (2002) dalam Fatmah (2010) mendefinisikan penilaian diatetik sebagai penilaian yang menggambarkan kualitas dan kuantitas asupan dan pola makan lansia melalui pengumpulan data dalam survei konsumsi makanan.

Penilaian diatetik terdiri dari beberapa metode untuk mengumpulkan informasi riwayat makan (fod recall) yang dibutuhkan. Metode tersebut terdiri dari 24 hours food recall dan dietary record untuk metode jangka pendek sementara dietary history dan food frequency questionnaire untuk metode jangka panjang (Fatmah, 2010).

Untuk keakuratan dan relevansi Food recall atau riwayat makan sebaiknya mencakup informasi spesifik tentang jenis makanan yang dicerna, metode persiapan dan perkiraan yang akurat dari jumlah makanan. Tujuan dari food recall adalah untuk memperkirakan rata-rata jumlah kalori dan protein yang dicerna sehari-hari dan untuk mendeteksi pola asupan makanan (Meiner, 2006).

Pengkajian diatetik pada lansia dilakukan melalui pengukuran asupan makanan secara retrospektif sehinggga memerlukan konfirmasi. Hal ini sesungguhnya kurang tepat dilakukan karena tidak satu pun metode pengkajian diatetik menghasilkan estimasi kebutuhan energi umum yang akurat pada lansia karena pada lansia terjadi defisit memori atau gangguan kognitif lainnya (Fatmah, 2010).

Pemeriksaan Klinis

Pemeriksaan klinis secara umum terdiri dari dua bagian, yaitu riwayat medis dan pemeriksaan fisik. Riwayat medis yaitu catatan mengenai perkembangan penyakit individu. Sedangkan pemeriksaan fisik yaitu melihat dan mengamati gejala dan tanda gangguan gizi (Supariasa, 2001).

Data seperti berat dan tinggi badan, tanda-tanda vital, kondisi lidah, bibir, gusi, turgor kulit, kelembaban kulit, warna kulit, kondisi rambut dan penampilan secara keseluruhan dapat menunjukkan tandatanda klinis seseorang tentang status gizinya (Ebersole, 2009).

Tanda-tanda klinis malnutrisi atau ketidakseimabangan gizi tidak spesifik karena ada beberapa penyakit yang memiliki gejala yang sama, tetapi penyebabnya berbeda. Oleh karena itu pemeriksaan klinis ini harus dipadukan dengan pemeriksaan lain seperti antropometri, pemeriksaan biokimia, dan peneilaian diatettik sehingga keseimpulan dalam penilaian status gizi dapat lebih tepat dan lebih baik (Supariasa, 2001).

Cara ini relatif murah dan tidak memerlukan peralatan canggih namun hasilnya sangat subjektif dan memerlukan tenaga terlatih (Fatmah, 2010). Oleh karena itu, pemeriksaan ini jarang dilakukan untuk menilai status gizi pada lansia keculai dilakukan oleh tenaga yang sudah terlatih.

Antropometri

Antropometri merupakan salah satu metode pengukuran status gizi yang dilakukan dengan cara mengukur kerangka tubuh manusia. Antropometri adalah pengukuran dimensi tubuh, seperti tinggi badan, berat badan, skinfold, dan berbagai pengukuran tubuh lainnya yang dapat digunakan untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan pada anak-anak serta untuk menilai protein dan kalori pada orang dewasa (Dudek, 1997).

Pengukuran antropometri ini mudah dilakukan karena memiliki banyak keuntungan. Pengukuran antropometri merupakan pengukuran prosedur pengukuran yang sederhana, yang dapat dilakukan dalam waktu kurang dari 5 menit. (Ebersole, 2009).

Pengukuran ini memiliki keuntungan berupa jenis pengukuran objektif, noninvasive dan relatif cepat, mudah dan tidak membutuhkan biaya besar untuk melakukannya (Dudek, 1997).

Perubahan komposisi tubuh yang terjadi pada pria dan wanita yang bervariasi sesuai tahapan penuaan, dapat mempengaruhi antropometri. Akibatnya, nilai standar antropometri dari populasi dewasa tidak dapat diterapkan pada kelompok lansia.

Seleksi variabel-variabel antropometri untuk menentukan status gizi lansia harus berdasarkan validitas, ketersediaan standarisasi teknik-teknik pengukuran, data rujukan serta kepraktisan (Fatmah, 2010).

Penilaian status gizi lansia diukur dengan antropometri atau ukuran tubuh, yaitu Tinggi Badan (TB), Berat Badan (BB), Lingkar Lengan Atas (LLA), dan ketebalan kulit trisep/ skinfold.

  • Berat Badan

    Berat badan adalah pengukuran kasar terhadap berat jaringan tubuh dan cairan tubuh. Berat badan adalah variabel antropometri yang sering digunakan dan hasilnya cukup akurat. Berat badan juga merupakan komposit pengukuran ukuran total tubuh.

Pengukuran berat badan sangat menentukan dalam menilai status gizi seseorang. Meningkatnya berat badan dapat menunjukkan bertambahnya lemak tubuh atau adanya edema, dan penurunan berta badan dapat menunjukkan adanya perkembangan penyakit maupun asupan nutrisi yang kurang (Fatmah, 2010).

  • Tinggi Badan

    Tinggi badan merupakan parameter penting bagi keadaan yang telah lalu dan keadaan saat ini, serta menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Dalam kondisi normal, tinggi badan tumbuh bersama dengan pertambahan usia.

    Namun, pada lansia akan mengalami penurunan tinggi badan akibat terjadinya pemendekan columna vertebralis dan berkurangnya massa tulang (12% pada pria dan 25% pada wanita), osteoporosis dan kifosis. Pengukuran tinggi badan dilakukan dengan menggunakan alat microtoise dengan ketlitian 0,1 cm (Fatmah, 2010).

    Pada lansia yang mengalami kelainan tulang dan tidak dapat berdiri, tidak dapat dilakukan pengukuran tinggi badan secara tepat (Fatmah, 2010). Meiner (2006) juga menjelaskan bahwa tinggi badan lansia yang tidak dapat berdiri tanpa bantuan dapat diperkirakan dengan mengukur tinggi lutut.

    Hasil dari pengukuran tinggi lutut lalu di hitung berdasarkan formula yang sudah ada. Sementara itu Schlenker (1993) dalam Fatmah (2010) menyebutkan bahwa ada metode lain yang dapat dipakai untuk memprediksi tingi badan, yaitu dengan pengukuran tinggi lutut, tinggi duduk dan panjang depa.

    Proses penuaan tidak mempengaruhi panjang tulang di tangan (panjang depa), kaki (tinggi lutut) dan tinggi tulang vertebra.

    • Panjang Depa

      Panjang depa direkomendasikan sebagai prediktor paling akurat dalam mengembangkan model tinggi badan prediksi untuk lansia. Hal ini dikarenakan pada kelompok lansia, terlihat adanya penurunan nilai panjang depa yang lebih lambat dibandingkan dengan peurunan tinggi badan, sehingga disimpulkan bahwa panjang depa cenderung tidak banyak berubah seiring dengan pertambahan usia.

      Fatmah (2010) menggambakan Nomogram atau konversi tinggi badan dari panjang depa adalah 23,47 + 0,826 x panjang depa untuk prediksi tinggi badan pria dan untuk prediksi tinggi badan wanita adalah 28,312 + 0,784 x panjang depa.

    • Tinggi Lutut

      Tinggi lutut berkorelasi dengan tinggi badan lansia. Tinggi lutut direkomendasikan oleh WHO (1999) untuk digunakan sebagai prediktor dari tinggi badan seseorang yang berusia ± 60 tahun (lansia). Proses bertambahnya usia tidak berpengaruh terhadap tulang yang panjang seperti lengan dan tungkai, tetapi sangat berpengaruh terhadap tulang belakang.

      Nomogram atau konversi tinggi badan dari tinggi lutut untuk prediksi tinggi badan pria adalah 56,343 + 2,102 x tinggi lutut sedangkan untuk prediksi tinggi badan wanita adalah 62, 682 + 1,889 x tinggi lutut (Fatmah, 2010).

    • Tinggi Duduk

      Pengukuran tinggi duduk dilakukan bila lansia tidak dapat berdiri dan atau merentangkan kedua tangannya sepanjang mungkin dalam posisi lurus atau jika salah satu atau kedua buah pergelangan tangan tidak dapat diluruskan karena sakit atau sebab lainnya. Penuruanan tinggi badan dapat dipengaruhi oleh berkurangnya tinggi duduk ketika potongan tulang rawan antara tulang belakang mengami kemunduran seiring peningkatan usia. Tulang-tulang panjang menunjukkan sedikit perubahan seiring dengan bertambahnya usia.

      Nomogram atau konversi tinggi badan dari tinggi duduk adalah 58,047 + 1,210 x tinggi duduk untuk prediksi tinggi badan pria dan untuk prediksi tinggi wanita adalah 46,551 + 1,309 x tinggi duduk (Fatmah, 2010).

  • Lingkar Lengan Atas (LLA)

    Pengukuran lingkar lengan atas adalah pengukuran massa otot yang dilakukan dengan cara mengukur lingkar lengan bagian atas lalu dibandingkan hasilnya dengan nilai standar. Pengukuran lingkar lengan atas (LLA) bertujuan untuk mengukur massa otot (Rospond, 2008).

    Pengukuran LLA adalah suatu cara untuk mengetahui risiko kekurangan energi protein (Supariasa, 2001). Pengukuran LLA tidak dapat digunakan untuk memantau perubahan status gizi dalam jangka pendek. Pengukuran LLA dilakukan untuk menilai apakah seseorang mengalami kekurangan energi kronik atau tidak. Ambang batas LLA dengan risiko kekurangan energi kronik di Indonesia adalah 23,5 cm.

    Apabila ukuran LLA kurang dari 23,5 cm artinya orang tersebut berisiko mengalami kekurangan energi kronik (Supariasa, 2001).

  • Tebal Lipatan Kulit/ Pengukuran Skinfold

    Pengukuran ketebalan lipatan kulit trisep/skinfold bertujuan untuk memperkirakan jumlah lemak tubuh karena sekitar 50% dari lemak tubuh biasanya terletak di daerah subkutan (Heimburger, 2006).

    Pengukuran ini memberikan perkiraan cadangan lemak tubuh. Lipatan kulit yang dapat diukur untuk pengkajian mutrisi meliputi bisep, trisep, lipatan subkapsular dan suprailiak kemudian diakses cenderung membuat Triceps Skinfold (TSF) menjadi metode yang paling umum digunakan dalam menentukan lemak subkutan (Rospond, 2008).

Pemeriksaan Biokimia

Pemeriksaan biokimia atau laboratorium adalah pemeriksaan yang digunakan untuk mengukur kadar darah dan urin dari nutrisi atau untuk mengevaluasi fungsi biokimia tertentu berdasarkan asupan yang cukup dari nutrisi serta secara objektif dapat mendeteksi masalah gizi dibandingkan dengan pengukuran dan pemeriksaan lain (Dudek, 1997).

Pemeriksaan biokimia yang sering digunakan adalah teknik pengukuran kandungan berbagai zat gizi dan substansi kimia lain dalam urin. Hasil pengukuran tersebut dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan. Pemeriksaan ini dapat memberikan gambaran tentang kadar gizi dalam darah, urin dan organ lain, perubahan metabolik tubuh akibat kurangnya konsumsi zat gizi tertentu dalam waktu lama serta cadangan zat gizi salam tubuh (Supariasa, 2001).