Indonesia Negara Agraris, Mengapa Selalu Impor Beras?


Data Badan Pusat Statistik menyebutkan pada Juli 2021, nilai impor Indonesia mencapai 15,1 miliar dolar AS. Salah satu penyumbang impor pada bulan itu adalah beras 41,6 ribu ton dengan nilai 18,5 juta dolar AS. Kebijakan impor beras selalu menuai polemik karena adanya beberapa kepentingan yang saling berlawanan. Di satu sisi impor bertujuan menjaga cadangan dan stabilitas harga. Di sisi lain petani sebagai produsen juga butuh pendapatan yang layak untuk menjaga usaha pertanian tanaman padi tetap berjalan.
Impor beras yang dilakukan pemerintah merupakan upaya untuk mengamankan cadangan konsumsi dalam periode tertentu. Menurut Youdics, apa yang menjadi faktor impor beras dari luar negeri selalu terjadi padahal negara kita kaya akan potensi agrarisnya?

1 Like

Kalo aku beribacara sebagai anak SMA seperti dulu, aku paling anti dan paling menentang impor, apapun bentuk dan alasannya. Namun kini kebetulan aku kuliah di rumpun pertanian, membuatku jadi lebih membuka mata dan pikiran tentang fenomena impor di tengah negara agraris ini. Coba kita ganti pertanyaannya dengan obyek lain, misalnya “Indonesia negara kepulauan, mengapa masih melakukan impor garam?” Bukankah akan menimbulkan suatu keheranan yang sama, kan?
Jadi, meskipun negara kita negara agraris, namun faktanya jumlah populasi di Indonesia sangatlah banyak, jumlah demand lebih besar daripada supply. Faktor pengalihan lahan fungsi sawah yang marak saat ini turut menyumbang alasan dilakukannya impor, banyak lahan yang tadinya sawah berubah menjadi pelabuhan, bandara atau pun lahan utntuk industri, bahkan yang baru-baru ini adalah pembangunan jalan Tol Bawen Yogyakarta. Pembangunan pelabuhan, bandara sampai infrastruktur ikut sebagai penyumbang alasan terbesar mengapa kita harus mengimpor beras. Seperti yang kita ketahui juga bahwa ada supply dan demand , bagaimana kita bisa mengendalikan harga pada saat sisi supply nya itu terbatas jadi kita harus tetap melakukan impor beras.

Selain itu, jika ditinjau dari ilmu Perdagangan Internasional yang pernah aku peroleh, setiap negara pasti memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitifnya masing-masing. Hal tersebut yang mengakibatkan setiap negara di dunia bergantung dengan sistem perdagangan yang sama, dengan produk yang berbeda - beda sesuai dengan kapasitas masing - masing dan sumber daya yang tersedia di tiap negara. Seluruh sistem perdagangan ini yang menjamin terjadinya transaksi antar negara, dan hasil keuntungan ini yang menciptakan adanya perputaran uang internasional, dari hasil perdagangan antar negara, dengan kata lain ekspor impor. Ada perjanjian dari berbagai negara, untuk saling membeli dan menjual produk tertentu yang merupakan produk utama dari negara - negara ini, beras dan banyak bahan lain adalah bagian dari komoditi yang diperdagangkan antar negara dan merupakan bagian dari perjanjian dagang ini. Maka jika menyangkut perjanjian dagang, ketersediaan produk bukan menjadi salah satu faktor pertimbangan, perputaran uang internasional harus terjadi, lepas dari Indonesia mampu atau tidak untuk swasembada beras, perjanjian perdagangan impor beras yang sudah disepakati harus tetap terjadi, oleh karena itu impor beras tetap dilakukan berdasarkan perjanjian dagang tersebut. Tetapi ini hanya salah satu alasan mengapa kita impor beras, dan alasan ini bukan merupakan alasan utama.

Masalah beras dan agraria merupakan masalah yang jauh lebih kompleks dari penilaian kita tentang itu. Lihat petani saat ini, apakah mereka hidup berkecukupan? Tentu semua tahu jawabannya, menjadi petani bahkan bukan pilihan bagi sebagian besar orang, banyak warga pedesaan yang lebih memilih jadi karyawan pabrik daripada meneruskan usaha orangtuanya menjadi petani, dan lebih menguntungkan jika akhirnya sawah itu juga dijual kepada orang lain untuk dikembangkan menjadi usaha lain seperti pabrik, pemukiman, dll. Perkembangan seperti ini yang menyebabkan semakin lama ketersediaan tanaman pangan menjadi berkurang. Tentu kita tidak dapat menyalahkan petani untuk lebih memilih tidak bertani lagi, karena memang arah pembangunannya tidak ke agraria sehingga semua kebijakan tidak banyak berpihak pada bidang ini. Jadi masalah utamanya adalah kebijakan dari pemerintah itu sendiri, tanpa adanya arah pembangunan kepada bidang agraria, maka impor beras dan bahan kebutuhan pokok lain akan selalu terjadi.

Kalau dari sumber yang Saya baca ada beberapa alasan kenapa negara kita sebagai negara agraris masih lakukan impor beras setiap tahun.

  1. Rata-rata semua penduduk Indonesia, dengan penduduk kira-kira 250 juta jiwa, masih menjadikan beras sebagai makanan pokok. Sehingga jumlah permintaan beras tinggi dan untuk menstabilkan stok nasional dan harga beras dipasaran maka pemerintah melakukan impor beras dari negara lain.
  2. Kurangnya koordinasi antar pemerintah, instasi terkait, dan petani di Indonesia meskipun sebenarnya kenyataanya Indonesia tidak perlu mengimpor beras dan mungkin karena adanya perbedaan data yang membuat pemerintah tetap melakukan impor beras untuk berjaga-jaga.
  3. Adanya perjanjian dari berbagai negara, untuk saling membeli dan menjual produk tertentu yang merupakan produk utama dari setiap negara, baik beras dan banyak bahan lain agar tetap terjadi perputaran uang secara nasional.

Alasan-alasan diatas adalah beberapa alasan yang Saya temukan saat membaca referensi dan mungkin benar seperti itu.

Referensi