Ikhlaskan Kenangan

memories
IKHLASKAN KENANGAN
Jika kau berkata bahwa kehilangan adalah hal lumrah, maka tidak bagiku. Kehilangan membuatku runtuh. Kehilangan membuat jiwaku luruh tak berbekas. Kehilangan menambah kenanganku yang semakin menumpuk. Aku tak ingin berpura-pura bahagia, jika kenyataannya aku tak bertenaga bagai bunga tanpa mahkota. Bagaimana mungkin aku harus menerima kenangan yang teramat menyakitkan? Bahkan kaupun takkan sanggup menuntunku dalam kegelisahan. Tolong ajari aku bersama kata ‘ikhlas’ agar aku dapat menghancurkan benteng keegoisanku ini.

“Mengapa kau selalu bergumam tanpa suara, Mai?” Sejenak aku mencari asal suara yang menyapaku dan kutemukan si Lesung Pipit tersenyum tanpa jeda.

“Ah… Apa urusanmu, Pit? Pastinya kau sudah tahu apa yang membuatku begini.” Dia menghampiriku dan menemaniku duduk di sebuah kursi kayu.

“Apa kau masih merasa kehilangan? Kapan kau akan ikhlas dengan semua ini?”
“Mudah sekali kau berkata ikhlas. Kau belum merasakan apa yang kualami saat ini.”

Kudengar dia hanya menghela nafas. Mungkin dia sudah letih mendengar ocehanku yang seolah-olah aku begitu menderita hanya karena sebuah kata ‘kehilangan’. Tapi percayalah, aku memang benar-benar menderita. Sosok yang kupuja-puja sejak dulu, tiba-tiba menebarkan pesona kepada kembang desa lain.

“Pit, aku ingin merasakan sebuah kata ikhlas dalam diriku untuk menerima segalanya. Tapi bagaimana caranya?”

“Kau takkan pernah merasa ikhlas jika kau selalu termenung tak berdaya seperti ini. Pelajari dulu apa arti ikhlas. Setelah kau memahaminya, lakukanlah sesuai kemampuanmu. Jika kau sudah melakukannya, maka kau akan menerima kehilangan menjadi kenangan.”

Aku mendengar wejangan nya saja sudah membuatku semakin ingin termenung saja. Tapi apa salahnya jika kucoba idenya?

Dahulu, aku begitu mudahnya memberikan nasihat-nasihat bijak kepada orang lain, tapi kini saat aku mengalami apa yang mereka alami, aku seakan-akan hanya bisa bungkam tanpa gerak. Ternyata sebuah keikhlasan itu tidak mudah. Tidak hanya terlontar dalam seuntai kata dari bibir semata. Tapi hati juga harus berbicara dengan sepenuh hati hingga kita benar-benar lupa apa yang terjadi.

Aku seringkali mendengar pertanyaan, “Berapa lama kita akan merasa ikhlas dengan semuanya?” Apa kau bisa menebaknya? Ya, waktunya tidak terbatas. Tidak ada batasan untuk belajar mengikhlaskan segalanya. Lalu, mengapa aku masih saja belum bisa?


Aku masih bersyukur masih bertemu dengan tarian angin yang melepas penatku. Sudah sebulan lamanya si Lesung Pipit tak berkunjung menemuiku. Mungkin dia sudah bosan dengan penampilanku yang malang ini.

Selama sebulan ini, aku masih termenung dan mencari cara agar aku bisa ikhlas dengan kenangan yang kumiliki dan kurasa aku telah menemukan caranya. Tak perlulah aku memaperkan caraku. Kau hanya cukup tahu bahwa aku sudah mulai mengenal kata ikhlas. Tak mudah memang untuk menumbuhkannya, apalagi di sela-sela keegoisanku yang begitu kokoh.

Ikhlas berarti menerima hal apapun. Meskipun hal itu membuatmu terpuruk sekalipun, tapi kau harus ikhlas agar perjalanan hidupmu tak terhenti begitu saja. Seperti diriku, kini aku telah ikhlas dengan kepergiannya bersama wanita yang lebih indah dariku. Apakah ini tentang cinta? Bukan, aku tak begitu mencintainya. Hanya saja aku merasa kecewa karena aku tak bisa seperti dirinya yang begitu mudahnya mencampakkan sebuah rasa. Aku masih terbayang kenangan saat aku memberikan rasa percayaku kepadanya dan jika kuingat semua itu semakin menyesakkan.

Kuikhlaskan dirinya, kenangannya, dan segalanya sebab aku hanya ingin berbahagia dengan sebuah kelapangan dada. Aku hanya ingin merasa lega tanpa ada dendam yang berkecamuk dalam dada.


Image by: google
Cerita Pendek tema: Kenangan
Challenge 30 Hari Menulis Sastra