Hujan Di Toko Pakaian

Vivant Vintage - Boston Magazine (1)

Hari ini seluruh kelas delapan ramai membicarakan studytour yang akan dilaksanakan pekan depan. Tidak terkecuali Kara. Ia salah satu perempuan yang sangat antusias untuk mengikuti program kelasnya tersebut. Kara terlihat senang, di depan teman-temannya ia seolah sudah membuat rencana apa yang akan dilakukannya nanti ketika disana.

Bu Mira datang membawa setumpuk kertas yang merupakan biodata yang harus diisi oleh para siswa tidak lupa ditanda tangani oleh orang tua masing-masing.

“Makasih ya Bu… “ ucap Kara ketika menerima lembar kertasnya.

“Apa kamu nanti diizinkan ikut Kara?” tanya Bu Mira. Sebagai wali kelas, Ia sudah sangat hapal dengan sifat dari orang tua siswanya, apalagi Kara. Bu Mira pernah bicara pada Mama Kara, ia diminta untuk mengawasinya, karena Kara memang termasuk anak yang sangat aktif. Kara juga merupakan anak satu-satunya, sebab itu mungkin orang tua Kara sedikit protektif.

“Sudah pasti dong, Bu!” jawab Kara sambil tersenyum lebar.

Bu Mira lalu melanjutkan membagikan kertas pada siswa lainnya.

“Maaf Bu, kalau tidak mengikuti kegiatan ini apa boleh?” tanya salah satu siswa.

“Memang kenapa?”

“Hmm… saya takut orang tua saya tidak memiliki biayanya, Bu.”

Bu Mira menghela napas pelan, “Sebenarnya ini kegiatan wajib, namun jika memang itu yang menjadi alasannya yasudah tidak apa-apa. Mungkin nanti kamu akan diberikan tugas pengganti.”

Setelah sampai di rumah, Kara langsung berganti pakaian lalu membuka tasnya untuk mengisi biodata yang tadi diberi oleh Bu Mira. Setelah itu, Kara membuat daftar barang apa saja yang akan dibawanya. Kara membuka lemari pakaiannya, untuk memilih baju yang akan dikenakan selama studytour. Memang sih, selama kegiatan diharuskan memakai seragam, tetapi Kara ingin mencoba menjadi pusat perhatian.

“Ma, ini tolong tanda tangan disini.” Pinta Kara saat mamanya sedang menonton televisi, mama Kara baru saja pulang setelah seharian bekerja.

“Ini apa nak?” ucap mama Kara.

“Ini data untuk studytour minggu depan Ma, kata Bu Mira harus ditanda tangani sama orang tua.”

“Kamu yakin akan baik-baik saja disana?”

Mira menggangguk cepat.

“Baiklah, ini sudah Mama tanda tangan. Nanti sehari sebelum berangkat Mama akan menelepon Bu Mira. Untuk memastikan kamu tidak membuat kericuhan.”

Mira seperti tidak mendengarkan jawaban dari Mamanya, “Hmm… Ma, tapi aku boleh nggak besok sepulang sekolah ke toko baju dulu…”

Mamanya yang sedang fokus dengan acara televisi akhirnya memutar kepala dan menghadap Kara. “Untuk apa Kara sayang?”

“Soalnya Kara mau pakai baju baruuuuu…” Jawab Kara sembari memohon, “Boleh yahhh Ma…” Kara menunjukkan mata puppy eyes andalannya.
Kalau sudah begitu Mama Kara hanya bisa pasrah.

Keesokan harinya, setelah bel pulang sekolah Kara meminta Pak Kardi selaku supir pribadi Kara untuk mampir ke toko baju yang berada tidak jauh dari sekolah. Pak Kardi pun sudah mengetahui hal ini dari majikannya.

Setelah sampai, Kara meminta Pak Kardi menunggu di luar. Ia memastikan bahwa dirinya akan baik-baik saja. Kara menjelajahi setiap rak yang memajang pakaian-pakaian perempuan remaja yang menjadi trend saat ini. Kara akhirnya terfokus pada satu kemeja berwarna peach yang di ujungnya terdapat saku serta hiasan bunga berwarna biru langit. Kemudian, Kara berjalan untuk mencari satu celana jeans yang akan menjadi bawahannya.

Setelah hampir satu jam Kara berkeliling toko, akhirnya Kara mendapatkan apa saja yang ia inginkan. Kara menuju meja kasir untuk membayar semua biaya belanjanya.

Kara berjalan menuju pintu keluar, disaat yang bersamaan hujan turun dengan derasnya. Pak Kardi sudah menunggunya dengan payung terbuka ditangan kirinya.

Saat hendak menuju mobil, Kara seperti melihat sosok yang ia kenal. Seorang teman yang sedang duduk di pinggir toko sambil berteduh.

“Pak, sebentar ya… itu ada teman Kara.” Ucap Kara.

Kara menghampiri sosok tersebut, lalu menyapanya, “Lita?” Dan ternyata memang benar, itu Lita teman sekelasnya. “Kamu… ngapain disini?”

Lita semula tidak mengenal wajah Kara karena matanya sedikit basah terkena air, namun kemudian menyadari orang tersebut sudah menyebutkan namanya. “Hai Kara… Ini aku lagi jualan kue.”

Kara mengatupkan bibirnya, “Jualan kue? Untuk apa? Memang kamu biasa seperti ini?”

“Iya… aku memang setiap pulang sekolah selalu berjualan, terlebih minggu depan ada studytour bukan? Jadi, aku mencari uang sendiri untuk membayar biayanya”

Kara terperanjat, tidak menyangka temannya begitu hebat. Ia lalu membandingkan Lita dengan dirinya yang jauh berbeda, Kara bisa mendapatkan apa saja yang ia inginkan tanpa harus bersusah payah terlebih dahulu.

Akhirnya, setelah perbincangan yang cukup membuat hati Kara menyentuh, ia memutuskan untuk membeli semua kue yang Lita jual. Kara malu, padahal ia memiliki baju yang sebenarnya belum dipakai, namun Kara merengek pada mamanya minta dibelikan yang baru. Lalu Kara mengajak Lita untuk pergi kerumahnya. Kara akan bicara pada mamanya tentang apa yang sudah dialami oleh dirinya, dan tanpa berpikir dua kali Kara siap untuk membantu Lita.

Setelah kejadian itu, Kara merasa harus lebih banyak bersyukur. Masih banyak orang diluar sana yang membutuhkan. Kara belajar banyak dari Lita. Ia seumuran dengannya, namun sudah bisa bekerja mencari uang sendiri.

Kara mulai memikirkan sesuatu, ia ingin mengikuti jejak Lita. Ia ingin bisa mandiri, agar bisa membantu orang lain lebih banyak lagi.

“Terimakasih Lita, aku menjadi lebih banyak bersyukur dengan apa yang aku punya sekarang .” Ucap Kara dalam hati.

By : Annisa Husniya
Pic : Pinterest