Hotman Paris Gelar Sayembara Kasus Jessica Berhadiah Lamborgini

Liputan6.com, Jakarta - Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea menggelar sayembara berhadiah mobi‎l Lamborghini bagi siapapun yang bisa menyadarkan ahli yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Menurut Hotman, keterangan ahli racun JPU yakni AKBP Nursamran Abadi dan I Made Agus Gelgel Wirasuta tidak rasional, terkait perkiraan Jessica Kumala Wongso memasukkan racun sianida.

Dia mempertanyakan, bagaimana bisa dua ahli tersebut memberikan keterangan soal waktu racun sianida masuk ke es kopi Vietnam, yang seharusnya keterangan tersebut hanya dapat diberikan oleh saksi fakta.

“Rentang waktu dimasukkannya bahan beracun natrium sianida oleh pelaku ke dalam minuman kopi yang diminum oleh korban disebut adalah rentan waktu 16.30-16.45 WIB pada Rabu 6 Januari 2016,” ujar Hotman dalam keterangan tertulis siaran pers Hotman Paris & Partners.

“Rentang waktu menurut saksi ahli merupakan rentang waktu di mana minuman kopi beracun tersebut berada di dalam penguasaan pemesan minuman,” lanjut dia.

Hotman pun mempersoalkan, mengapa tambahan keterangan dari kesaksian dua ahli itu dimasukkan dalam persidangan. Padahal berdasarkan pasal 184 ayat 5 KUHAP disebutkan bahwa, baik pendapat atau pun rekaan yang diperoleh dari hasil pemikiran saja, bukan merupakan keterangan saksi.

“Kejadian itu pada 6 Januari 2016. 3 Bulan kemudian yakni 11 April 2016, saksi ahli baru berpendapat sianida dimasukkan pukul 16.30 WIB. Bahkan bila kopi dicampur saat di dalam penguasaan pemesan minuman. Ahli bukan saksi fakta, bukan peramal, bukan Tuhan,” tukas Hotman.

Dia juga menganalogikan kejadian itu dengan sebuah kasus.

“Pada tanggal 13 Januari 2016 pukul 12.00 WIB, si Poltak dituduh mencuri laptop dari gedung A di Jalan Kebon Sirih. Tidak ada yang melihat si Poltak mencuri laptop tersebut. Akan tetapi saksi A melihat Poltak pukul 10.00 WIB di lapangan parkir. Dan saksi B melihat Poltak pukul 14.00 WIB membawa satu unit laptop di Pasar Senin. Kesaksian si A dan B ini disebut Kesaksian Berantai atau Ketting Bewijs,” kata Hotman.

“Si Poltak bisa dihukum walau tidak ada yang lihat dia mencuri laptop. Akan tetapi saksi A dan B harus saksi fakta dan berantai. Bukan saksi ahli seperti kasus Jessica,” lanjut dia.

Dengan kesaksian seperti itu, Hotman menganggap terdakwa baru bisa dijatuhi vonis karena mencuri. Namun, keterangan tersebut tidak boleh didapat dari saksi ahli melainkan saksi fakta.

Untuk itu, Hotman menantang bagi siapa saja yang bisa menyadarkan dua ahli, yakni Nursamran dan Gelgel untuk kembali ‎memberi kesaksian yang benar di depan majelis hakim sebelum putusan, akan mendapatkan mobil Lamborgini senilai Rp 12 miliar.

Hanya saja hadiah tersebut cuma diberikan kepada lembaga sosial atau amal. Bukan perorangan

Sumber :

Bagaimana menyikapi pasal 184 ayat 5 KUHAP dalam kasus Jessica ?
Apakah perbedaan antara saksi ahli dan saksi fakta serta apa yang dimaksud dengan kesaksian berantai ?

Pasal 184 KUHAP :

(1) Alat bukti yang sah ialah:
a. keterangan saksi;
b. keterangan ahli;
c. surat;
d. petunjuk;
e. keterangan terdakwa.
(2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.

Oleh karena itu, beradasarkan Pasal 184 KUHAP diatas, maka keterangan ahli merupakan alat bukti yang sah didalam persidangan. Tetapi, keterangan seperti apa yang sah didalam persidangan, diatur pada Pasal 185 ayat 5 KUHAP,

(5) Baik pendapat maupun rekaan, yang diperoleh dari hasil pemikiran saja, bukan merupakan keterangan ahli.

dimana, pendapat yang didapat dari pemikiran tidak boleh dijadikan keterangan. Sehingga muncul permasalahan ketika ahli menyatakan bahwa sianida dimasukkan pada pukul 16.30.

Memasukkan sianida kedalam kopi pada pukul 16.30-16.45 merupakan hasil pemikiran ahli, tanpa didasari oleh fakta yang ada.

###Saksi Ahli, Saksi Fakta dan Kesaksian Bearantai

Pada dasarnya, didalam KUHAP hanya dikenal saksi, tanpa melihat apakah saksi ahli atau saksi fakta. Sesuai dengan Pasal 1 ayat 26 KUHAP,

(26) Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri.

Apabila mengacu pada Pasal 1 ayat 26 KUHAP, maka keterangan yang diajukan harus berdasarkan dengan fakta, yaitu sesuatu yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri.

Sayangnya dalam Pasal 1 KUHAP tidak ada definisi dari Ahli. Ahli disini hanya dijelaskan pada pasal 1 ayat 28. Pada ayat 28 tersebut hanya dibahas terkait dengan keterangan ahli, bukan ahli itu sendiri.

(28) Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan.

Sedangkan keterangan saksi dijelaskan pada pasal 1 ayat 22 KUHAP,

(27) Keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya itu.

Dari pasal 1 KUHAP, terlihat bahwa tidak ada yang dinamakan saksi ahli, yang ada adalah SAKSI, yang lebih condong ke istilah saksi fakta, dimana saksi tersebut harus mendengar, melihat dan mengalami sendiri terhadap sebuah kejadian.

Yang diakomodir oleh KUHAP adalah keterangan ahli, bukan AHLI itu sendiri.

Mohon masukan apabila ada kesalahan, terimakasih