Horor! Arwah Kecelakaan Menghuni Pohon Kresen

selamat malam dictioners, Setiap hari, anakku selalu bermain di bawah kerindangan pohon. Tentunya, hal itu membuatku bahagia karena aku tak perlu mengkhawatirkan keberadaannya. Kemampuan verbalnya pun terasah dengan mengucapkan beberapa kosakata. Dia bsia setengah hari bermain di situ. Namun, siapa sangka ternyata dia bergaul dengan Nina. Kata anakku, ia masih seumuran dengannya dan sering menemaninya main-main. Meskipun bocah belum pandai menyusun kronologi suatu kisah, namun aku bisa menangkap maknanya.

Di saat anakku bermain mobil-mobilan, Nina bermain bonek di sampingnya, Terkadang, ia bermain masak-masakan dan memberikannya kepada anakku. Aku pikir, itu hanyalah sebuah teman imajinasinya. Taoi, siapa sangka kalau ternyata Nina adalah makhlus halus yang menunggu pohon kresen itu. Awalnya, pohon tersebut kecil dan memang sudah berada di situ sebelum aku pindah ke rumah yang kini ku tempati. Benarkah? Bagaimana menurut kalian?

menurut sumber yang saya baca, dari kisah seseorang yang telah disebutkan diatas, kisah tersebut berlanjut. Selama dua minggu anakku bermain di sana, ia hampirhampir lupa dengan keberadaanku. Ia selalu senang menggerakkan mainnya dengan muatan tanah yang sengaja ia keruk. Keanehan lain muncul manakala aku melihatnya berbcara sendiri. Bahkan ia sering tertawa geli saat truknya menjatuhkan muatan pasirnya. Saat aku tanya dari balik jendela dapur, ia hanya menjawab jika truknya jatuh dan itu membuatnya lucu. Namun, gestur telunjuknya kemudian ditempelkan pada bibir seperti memberi kode untuk tak bicara.Hanya saja, pandangannya ke arah lain.

Keanehan ketiga datang setelah main di samping kresen, aku menyuapinya. Ia bilang kalau Nina juga lapar dan ingin disuapi. Aku pun melakukan gesture angin kea rah yang ia maksud. Namun, ia juga menyebutkan satu nama lagi, Mbah Yadi. Kemudian ia menunjuk ke arah jendela dapur. Bulu kudukku pun mulai berdiri, mengigat, anakku tak pernah aku kenalkan dengan pria bernama ‘Yadi’.Kudukku lebih tinggi daripada ia menceritakan pertemuan awalnya dengan ‘Nina’. Di saat itu, aku hanya berusaha menenangkan dir dan menyuruh anakku untuk bilang supaya Mbah yadi dan Nina segera pulang. Sesuai perintahku, anakku pun mengucapkan kalimat tersebut di siang bolong itu.