[Hoax] Apakah keseringan bermain tiktok dapat mengakibatkan ''Tiktok Syndrome"?

Bagi kaum Milenial pasti sudah tak asing lagi dengan aplikasi Tiktok, platform untuk berbagi video ini dirilis tahun 2017 , sudah tergolong aplikasi lama bukan? Di tahun 2019 Tiktok kembali mengepakkan sayapnya dan berhasil menyaingi WhatsApp sebagai aplikasi mobile yang paling banyak diunduh. Namun siapa sangka, ditengah euforia para pengguna TikTok, muncul seorang penggunanya yang mengaku terkena “Tiktok Syndrome” . Banyak yang percaya dan tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa itu hanyalah sindiran. Bagaimana menurutmu?

  • Hoax
  • Fakta

0 voters

Menurut saya adanya Tiktok Syndrome adalah hoax. Hal tersebut dibuktikan dengan berita yang dikeluarkan oleh Kominfo terkait disinformasi Tiktok Syndrom, dapat dibaca di [https://www.kominfo.go.id/content/detail/27439/disinformasi-video-remaja-mengalami-tiktok-syndrome/0/laporan_isu_hoaks]. Di dalam berita tersebut, dijelaskan bahwa setelah kominfo melakukan penelusuran, pemuda bernama Kesar (pemilik akun instagram @kesarnst) tersebut memang benar mengunggah video itu, namun dengan disertai caption “Kisah seorang remaja yang terkena TikTok syndrome. Komedi sarkas (awas konten sensitif)”. Dengan demikian, sang pembuat video tersebut telah membuat disclaimer bahwa video itu hanya bersifat sarkasme atau sindiran dan tidak benar-benar mengalami Tiktok Syndrome

1 Like

Informasi tersebut merupakan hoax. Dalm video yang beredar tersebut, pemuda bernama Kesar itu memberikan testimoninya di hadapan kamera. Ia mengaku menderita Tiktok syndrome lantaran terlalu sering berjoget Tiktok. Setelah ditelusuri, ternyata pengakuan tersebut merupakan konten sindiran yang sengaja dibuat oleh pemuda itu di Instagram. Selain itu diberitahukan pada caption Instagramnya jika video tersebut hanya komedi sarkas, yang ia tulis sebagai berikut, “Kisah seorang remaja yang terkena TikTok syndrome. Komedi sarkas (awas konten sensitif)”.

Sumber : https://www.suara.com/news/2020/06/24/121452/heboh-pengakuan-penderita-tiktok-syndrome-ini-faktanya