Hilangnya Menjadi Rumor


Ketika itu sedang beredar rumor menyeramkan di salah satu SMA swasta di Semarang. Hingga kini rumor tersebut masih berdampingan dengan segala aktivitas di SMA tersebut tanpa diketahui pelakunya. Di siang hari, mbak Nadin seorang pedagang di salah satu kantin SMA swasta di Semarang tengah asyik memotong jahe untuk dibuat minuman susu jahe. Selesai memotong, ia meletakkan pisau di meja. Lalu ia keluar sebentar untuk memberikan pesanan susu jahe tersebut. Setelah kembali, ia mengambil pisau di tempat pisau untuk memotong sayuran.


 "Shiittt..." ucap Siya menirukan suara sepeda berhenti. Dengan sigap, kakinya menapak tanah agar dirinya tak terjatuh. Diparkirkan sepedanya di barisan paling depan. Belum banyak sepeda yang terparkir saat itu karena hari masih sangat pagi. 

Sementara itu di lobby,

 “Gaess, udah dateng tuh.. Gimana kita taruh mana ni??” tanya Ken. “Persediaan kita banyak ngga sih? Kalo banyak kita taruh di berbagai tempat aja,” ujar Keira. Jojo menghitung persediaan yang dibawa. “Ada 3 nih jumlahnya, gimana kalo kita taruh dapur, lorong menuju kelasnya, dan mejanya?” tanya Jojo.

 “Tapi ngomong-ngomong ngga papa nih? Ntar kalo kena marah guru BK gimana? Masih mending marah sih, tapi kalo dikeluarkan?? Kan kasihan,” jawab Veray dengan raut wajah khawatir.

 “Yaelaa ray, kan emang itu tujuan kita. Kita ambil bukti agar saat pengaduan kita memiliki bukti yang kuat dan ngga dikira asal nuduh. Tapi ini juga demi keamanan kita semua kok. Kita semua ingin bersekolah dengan rasa aman tanpa rasa takut. Jadi, kita harus bertindak demi itu.” timpal Keira. “Yauda ayo gaes kita bergegas. Posisi sesuai kata Jojo tadi ya,” tambah Keira. 

 Saat memasuki gerbang, tiba-tiba Siya menghentikan langkahnya. “Masih belum banyak orang ya? Main kesana dulu kali ya,” kata Siya pada dirinya sendiri sambil tersenyum. Selang beberapa menit, sampailah Siya di lokasi tujuan. 

 “Ada ngga ya?” tanyanya dalam hati sambil mengintip dari jendela. Tak perlu menunggu lama, kedua bola mata Siya berhasil menangkap bayangan bentuk benda yang sedang dicarinya. Diam-diam Siya memasuki ruangan itu dan mengambil benda tersebut. “Nah ini dia. Kayanya masih baru deh,”ujarnya. “Coba di belakang juga deh,” keluar ruangan lalu berjalan menuju bagian belakang sekolah. 

 “Kebiasaan deh mbak Nad, pintunya lupa dikunci,” kata Siya sesampainya di depan pintu. “Tapi ngga papa sih mbak, aku berterima kasih sama kamu hehee,” lanjutnya diikuti senyuman yang menampilkan gigi ratanya.

 Tepat setelah jam dinding menunjukkan pukul 7, semua murid telah memasuki kelas masing-masing. Dua mata pelajaran dengan waktu yang sama yaitu 45 menit telah berhasil membuat perut para murid keroncongan. Setelah bel istirahat berbunyi, murid-murid berhamburan keluar kelas kecuali Siya yang malah asik dengan lukisannya. 

 Di dalam kelas, Siya mulai menodai selembar kertas bersih dengan cat air. Ia tuangkan di dalamnya seluruh perasaan yang ia rasakan. Karena tengah asik dengan aktivitas corat coretnya, tanpa Siya sadari, telah berdiri seseorang berseragam PNS di sampingnya.

 Saat melangkahkan kaki menuju ruang BK, ditengah perjalanan Veray menghentikan langkahnya. “Ehh iyaa, bentar gaes aku lupa bawa kuncir, nanti bisa-bisa kena hukum kalo ketahuan guru BK. Bentar yaa tungguin,” langsung pergi meninggalkan teman-temannya. “Dasar Veray, ceroboh banget jadi cewe,” ucap Ken lalu duduk di bak.

 “Yaelaa Ken, namanya juga lupa kan wajar,” bela Jojo. “Kalo bukan cewe kamu, ngga mungkin kamu belain dia, Jo,” timpal Ken.

 “Udah ngga usah ribut. Oh ya Ken, lihat gambarnya dong, jelas kan wajahnya dia?” sambil mengambil hp Ken. “Yaiyalah jelas, siapa dulu yang motret,” ujar Ken dengan nada sombong.

 "Siya Almira," panggilnya. Siya pun terkejut lalu mengarahkan wajahnya dan memandang seseorang yang memanggilnya. Seseorang itu adalah Ibu Wena, seorang guru seni yang terkenal lembut namun tegas.

 Sesampainya di depan kelas, ketika hendak masuk tiba-tiba langkah Veray terhenti. Segera ia mengeluarkan hp lalu menelepon temannya untuk segera kembali ke kelas. “Jo say, cepat kamu dan yang lainnya kembali ke kelas. Ada hal yang harus kalian lihat!!!” seru Veray kemudian menutup telepon.

 “Lah ko dimatiin, kan aku belum jawab apa-apa,” kesal Jojo. “Kenapa Jo?” tanya Ken. Jojo pun menjawab, “Ayo gaes kita balik ke kelas. Ada hal penting!” berlari menuju kelas diikuti teman-temannya.

 Selang beberapa menit saja, teman-temannya datang dan mereka melihat kejadian yang sedang terjadi di dalam kelas dari depan pintu. “Ada apa, Ray?” tanya Keira. “Lihat tuh,” mengarahkan telunjuknya ke arah Siya dan Bu Wena berada. Melihat Keira dan gengnya berdiri di depan pintu kelas, membuat semua murid pun ikut berkumpul. 

 "Wahh gambarnya bagus Siya, dan tampaknya memiliki makna yang dalam ya. Kalau boleh tau apa makna gambarmu itu? Apa kamu ingin.." "Tidak bu," sela Siya dengan ekspresi ketakutan membuat guru seni itu mengerutkan raut wajahnya. Dengan kepala menunduk, Siya mulai menjelaskan, “Sebenarnya gambar ini adalah ungkapan sayang saya terhadap ibu saya. Dulu, ibu saya meninggal karena dibunuh oleh seseorang yang tidak saya kenal. Wajah orang itu juga tampak samar-samar. Tapi sangat jelas saya melihat pisau berdarah itu dan ibu yang terbujur kaku. Hal itu membuat saya trauma akan adanya pisau.”

 “Dan itu ada hubungannya kan dengan pisau-pisau yang selama ini kamu curi di sekolah ini?  Apakah kamu akan melakukan sesuatu? Seperti berencana membunuh seseorang mungkin??" tanya Keira memotong perbincangan Siya dan Ibu Wena. Mendengar suara Keira, membuat Siya dan Ibu Wena sama-sama mengalihkan pandangan ke arah Keira. 

 “Keira, ngomong apa kamu?” tanya Ibu Wena tak paham maksud ucapan Keira. “Saya dan teman-teman saya sudah tau bu atas rumor hilangnya pisau berkali-kali di dapur, di kantin, dan juga lab boga. Dan pelaku dibalik peristiwa ini adalah Siya. Siya yang mencuri pisau-pisau itu. Saya juga ada buktinya kok, Bu,” Ken mengeluarkan bukti yang dia maksud. 

 Ibu Wena terkejut melihat foto-foto yang ada di hp Ken. Dengan rasa tidak percaya, Ibu Wena menanyakan pada Siya sambil menunjukkan foto-foto tersebut. “Siya bisa tolong jelaskan pada ibu?” pinta Ibu Wena dengan beraut wajah sedih. 

“Maafkan saya bu, maafkan sayaa… karena telah mencuri pisau di sekolah. Sebenarnya saya sama sekali tidak pernah berniat membunuh seseorang kok, tindakan saya yang suka mengambil pisau diam-diam itu, karena saya hanya ingin melindungi siapapun agar tidak terluka terkena pisau. Seperti yang sudah saya ceritakan tadi, saya trauma akan adanya pisau. Maaf juga karena saya membuat semuanya menjadi takut,” panjang lebar penjelasan Siya dengan air mata yang masih terbendung.

 Ibu Wena duduk di samping Siya. Memandangi wajah Siya yang tertunduk takut. “Benarkah Siya?” tanya Ibu Wena sambil mengangkat wajah Siya. Siya berbalik memandang Ibu Wena. “Iya bu, saya tidak bohong,” “Lalu dimana kamu menyimpan pisau-pisau itu?” tanya Ibu Wena. "Ada di suatu tempat bu, nanti saya tunjukkan," jawab Siya. "Bisa nanti kamu berikan pisau itu pada ibu? Ibu janji sama kamu kalau ibu akan menjaga pisau itu baik-baik agar tidak melukai siapapun," kata Ibu Wena sambil tersenyum. 

 Melihat senyum Ibu Wena, Siya seperti merasakan kehadiran ibunya kembali. “Iya bu, saya akan berikan pada ibu,“ teriaknya diiringi dengan tangisan yang sudah tidak dapat ia bendung lagi. "Baiklah, ibu akan jaga kepercayaan kamu pada ibu," kemudia memeluk Siya dan dibalas pelukan erat oleh Siya.
 Melihat Siya, tiba-tiba atmosfer kelas menjadi mengharukan. Semua tak menyangka, jika masa lalu Siya ternyata sepahit ini. Kemudian Keira, Ken, Veray dan juga Jojo karena mereka telah berprasangka buruk pada Siya mencoba mencari bukti untuk melaporkan Siya kepada guru BK. Kini rumor tersebut telah mereda. Dan saat ini, Siya tengah mengikuti terapi atas traumanya di masa lalu ditemani oleh Ibu Wena.
11 Likes