Hanya Lihat Ke Depan

20201017_113713_0000

Mas Ugu adalah laki-laki pemberani. Yang melakukan perjalanan seorang diri. Menuju ke sebuah desa makmur lestari. Tempat ditempanya permata suci. Katanya bisa kabulkan banyak permohonan tanpa kecuali.

Dia sangat bersemangat, melewati rintangan-rintangan berat. Mengabaikan segala godaan yang menghambat, termasuk untuk rehat. Dia makan sambil berlari, minum sambil berjalan, tidur sambil merangkak. Tak berhenti bahkan meski hanya sedetik.

Dia juga teguh pada tujuan, tak tergiur banyak pemberhentian. Bahkan meski melewati kastil penuh perhiasan, yang menawarkan harta cuma-cuma. Dia bahkan ogah singgah di satu kota yang isinya adalah wanita-wanita setia, yang bersedia menemani dalam berbagai keadaan dengan sukarela.

Apalagi hanya desa yang menawarkan tempat duduk yang nyaman dan berbagai ketenangan disekitarnya.

Selain itu dia juga piawai mengayun pedang, saat musuh berdatangan, sekali ayunan saja dia sudah menang. Dia berjalan tanpa kendala, hanya melihat ke depan. Keinginan mendapatkan permata suci tiada bandingan. Hasratnya hanya untuk permata itu.

Bahkan saat seseorang datang, sementara jadi teman seperjalanan. Dia tak cukup memperhatikan, padahal orang itu begitu dermawan. Sebagai kawan orang itu juga sangat bisa diandalkan. Tapi, Mas Ugu hanya peduli pada jalan di depan. Persetan katanya soal berkawan, dia hanya ingin ke depan. Menuju permata suci pengabul harapan.

Dan lagi, dia sendirian. Setelah itu dia rasa kesepian, tapi dia benar-benar tak bisa menghentikan rasa ingin memiliki permata suci. Dia mengalahkan rasa sepi dan memilih terus berjalan, hanya melihat ke depan.

Dia menolak henti saat melewati seorang anak terbaring hampir mati. Nampaknya anak itu kelaparan, tapi Mas Ugu tak sedia membantu. Sebab jika berhenti sejenak, permata suci mungkin sudah dimiliki orang lain.

Dan saat semakin dekat menuju desa yang dituju, langkahnya semakin cepat. sekarang dia tak bisa melihat pemandangan di kiri dan di kanan. Hanya melihat ke depan, tempat permata yang dia inginkan berada.

Padahal di kirinya ada laut, dengan ombak tenang dan pasir lembut. Di kanannya ada taman, dihias ribuan bungga dan sekumpulan tempat duduk yang nyaman.

Desa yang dia tuju sudah terlihat, sayang dia tak sempat memandangi dirinya yang sudah menua. Langkahnya semakin pelan saja, desa itu terasa tak mendekat. Desa itu ada di puncak bukti yang landai, tapi Mas Ugu nampaknya sudah tak kuat. Tapi, dia sudah berjalan sejauh ini, akhirnya dia tetap berusaha. Dia berhasil melewati gerbang desa. Dan mendapati permata di pusat desa tanpa penjagaan. Dia merangkak menuju tempat permata.

Kilau mulai terlihat, senyumnya nampak puas. Permata ada di depan mata. Dengan sisa-sisa tenaga, dia raih permata itu. Muncul lah sekumpulan asap dan terdengar sebuah tanya. “Apakah hal yang paling kau inginkan?”

Mas Ugu nampak siap menyampaikan keinginan, “Aku ingin harta melimpah, pendamping setia, hidupnyng tentram, lingkunan yang nyaman, serta kemampuan membantu sesama.”

Tapi alih-alih mengabulkan, si permata malah bertanya, “apa yang paling kau inginkan?”

“Aku ingin semua tadi.”

“Tapi hal itu pernah hampir kau miliki, namun kau menolak. Itu bukan yang paling kau inginkan. Apa yang paling kau inginkan?”

"Kenapa kau masih bertanya? Itu lah yang paling aku inginkan?

“Apa yang paling kau inginkan?”

“Permata tidak berguna!”

Mas Ugu mulai frustasi, permata itu tak mengabulkan satupun keinginannya. Dia marah lalu melempar peemata itu. Perjalanan jauh jadi sia-sia. Permata tidak berguna itu tak bisa membayar lelah Mas Ugu. Dia keluar dari desa, berdiri di puncak bukit itu dan melihat kembali perjalanan yang sudah dia lewati.

Tapi kemudian dia menangis meraung-raung “Disana! Jika aku ingin harta, padahal bisa berhenti di kastil pertama. Disana juga! Jika aku ingin pendamping setia, harusnya bisa dapat dari sana! Kenyamanan, ketentraman dan semua yang aku inginkan ternyata ada di sepanjang perjalanan. Tapi aku lalai! Permata itu benar, aku bisa saja menikmati semuanya! Tapi sekarang aku tak berdaya, tak bisa kembali sana!”


Derisna
ig : @Derisnaaaaa

13 Oktober 2020 (dikumpulkan terlambat)
Dalam rangka Challenge 30 hari menulis sastra
Tema 7 : Perjalanan | Cerpen

source ilustrasi : pinterest edited by Derisna

Beri dukungan dengan like dan share, jangan sungkan tinggalkan kritik dan saran agar aku bisa terus melalukan perbaikan :two_hearts: