Hal-hal apa saja yang termasuk kedalam Sihir ?

jin
sihir

(Bima Satria) #1

Sihir adalah suatu pekerjaan untuk mendekati setan dan meminta pertolongan. Dan dikatakan sesuatu yang halus dan lembut sebabnya, ia termasuk perkara yang tersembunyi yang tidak terjangkau oleh pengelihatan manusia.

Hal-hal apa saja yang termasuk kedalam Sihir ?


(Denta Ileana Akleema) #2

Fenomena-fenomena yang termasuk kedalam kategori Sihir adalah sebagai berikut.

Jampi-jampi, Ahli Nujum Dan Santet


Jampi termasuk hal yang dipebolehkan dengan syarat menggunakan kalimat-kalimat berbahasa Arab, baik yang berasal dari Al-Qur’an maupun As-sunnah, disertai dengan tidak adanya keyakinan bahwa hal itu memberikan pengaruh secara penuh dan hanyabisa terjadi atas izin dan perintah Allah SWT sedangkan dengan selain hal itu maka tidak diperbolehkan. Jampi, guna-guna atau mantra yang digunakan untuk tujuan tertentu seperti untuk mencelakakan orang lain. Karena itu sihir dapat menimbulkan dampak seperti sakit, kematian, kebencian gairah syahwat bahkan hingga perceraian serta perselingkuhan.

Ahli nujum adalah membuat ramalan yang isinya hukum-hukum dan pengaruh adalah diharamkan dalam Al-Qur’an dan As-sunnah, bahkan diharamkan lewat lisan seluruh para utusan. Kadang-kadang ada orang mengatakan bahwa tukang ramal, dukun dan ahli nujum terkadang benar, dan jawaban kebenaran mereka kerapkali sebagai kepalsuan terhadap manusia. Mereka mengatakan dengan kata-kata yang bersifat umum kepada manusia, memerlukan segi-segi penafsiran. Bila perkaranya sudah terjadi mereka menafsirkan dengan penafsiran yang cocok dengan kata- katanya. Dan yang diakui ahli-ahli nujum dan tukang-tukang ramal serta tukang sihir adalah kesesatan besar dan kemunkaran yang tidak boleh diabaikan kepada orang-orang yang diberi agama oleh Allah dan diajarkan kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya, hendaklah mereka mengingkari kesesatan ini dengan perkataan, lalu menjelaskan kebatilan ini dengan dalil serta pandangan akal.

Kemudian kepada para penguasa, hendaklah menindak orang-orang yang mengaku ngaku tahu akan yang ghaib, baik tukang ramal para dukun maupun pengundi nasib. Oleh karena itu, tidak dibenarkan seorang muslim pergi kepada ahli nujum dan menanyakan terhadap mereka hal-hal yang berhubungan dengan masa depan seperti jodoh, kemudian mengenai menyangkut hubungan suami istri dan keluarga tentang kecintaan, kesetiaan, perselisihan yang akan datang. Dan diantara peristiwa-peristiwa yang terjadi pada ahli nujum ialah mengundi dengan kerikil, biji gandum dan sebagainya padahal Allah telah berfirman kepada Nabi-Nya :

Katakanlah : “ Tak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib, kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan”. (an-Naml :65)

Santet


Santet sebagai salah satu perbuatan kufur yang diharamkan oleh Allah SWT. Orang yang mempelajari ilmu santet, sesungguhnya mereka mempelajari hal-hal yang hanya mendatangkan mudarat bagi diri mereka sendiri, dan tidak pula mendapatkan kebaikan di sisi Allah. Praktik-praktik santet sudah banyak dipraktikan sejak lama dan hingga sekarang masih ada bahkan di jaman moderen sekarang ini, seperti pemasukan benda terhadap perut korban dan hal-hal aneh lainya sehingga sakit yang mereka rasakan tidak kunjung sembuh diakibatkan oleh dukun sihir yang mempunyai kekuatan besar.

Ramalan Dan Perdukunan


Perdukunan dan peramalan adalah pengakuan mengetahui ilmu ghaib dan perkara-perkara yang ghaib, seperti mengabarkan apa yang akan terjadi di muka bumi dan apa akibatnya, menunjukan di manatempat sesuatu yang hilang. Semuanya itu melalui permohonan bantuan setan-setan yang mencuri dengar dari langit. Hal itu karena setan mencuri kalimat dari ucapan malaikat kemudian disampaikan ke telinga dukun, dan dukun tersebut berbohong dengan ratusan kali kebohongan, lalu orang-orang mempercayainya disebabkan oleh suatu kalimat (yang benar tersebut) yang di dengar oleh setan dari langit.

Padahal Allah sendirilah yang mengetahui ilmu ghaib, barangsiapa yang mengaku berserikat dengan-Nya dalam sesuatu dari ilmu ghaib, baik dengan perdukunan atau lainya atau dia yang membenarkan orang yang mengetahui ilmu ghaib, maka berarti ia telah menjadikan sekutu bagi Allah SWT dalam sesuatu yang merupakan kekhususan bagin-Nya.

Perdukunan tidak terlepas dari kemusyrikan, sebab ia mendekatkan diri kepada syetan-syetan dengan apa yang mereka cintai. Diantara hal yang perlu diperhatikan dan diwaspadai adalah bahwa tukang sihir, dukun dan peramal itu mempermainkan akidah umat islam dimana mereka menampakan diri seakan-akan sebagai tabib (dokter). Ibnu al-Qayyim dalam bukunya mengatakan

Dukun-dukun adalah utusan-utusan setan, karena orang-orang musyrik bergegas kepada mereka, minta tolong kepada mereka dalam urusan urusan besar, percaya kepada mereka Tersebar dikalangan orang banyak bahwa jin yang mengetahui yang ghaib

Kesalahan terbesar itu terjadi pada orang-orang yang awam, karena mereka meyakini bahwa sebagian manusia seperti tukang ramal dan dukun mengertahui yang ghaib. Dan kita bisa melihat banyak dari kalangan orang-orang pergi ke tukang ramal dan dukun itu, mereka selain menanyakan mengenai masalah tentang pencurian dan kriminal yang terjadi, mereka juga meminta agar tukang ramal itu memberitahu tentang perkara-perkara yang belum dan yang akan terjadi pada mereka serta anak-anaknya. Penanya dan yang ditanya benar-benar telah hampa tangan karena yang ghaib itu hanya dapat diketahui di sisi Allah.

Allah tidak menampakanya kecuali kepada orang yang dikehendaki dari hamba-hambanya yang shaleh. I’tikad bahwa si pulan yang mengetahui yang ghaib adalah I’tikad berdosa, menyesatkan dan bertentangan dengan akidah Islam yang benar yang menjadikan pengetahuan tentang yang ghaib hanyalah bagi Allah semata. Adapun bila perkaranya melampaui batas sampai meminta fatwa kepada orang-orang yang mengakui yang ghaib, maka dosanya menjadi besar.

Dalam Shahih Muslim dan Musnad Ahmad disebutkan sebuah hadis dari sebagian istri-istri Nabi saw, dari Nabi saw, bahwa beliau bersabda :

“Barangsiapa yang datang kepada tukang ramal lalu menanyakan tentang sesuatu, maka shalatnya tidak dikabulkan empat puluh malam” (H.R. Muslim dan Ahmad)

Jenis-jenis Sihir


1. Sihir Penyakit

Bentuk sihir penyakit biasanya berupa sakit atau tidak berfungsinya salah satu anggota tubuh tertentu, tanpa ada sebab yang jelas dan tidak dapat terdeteksi ilmu kedokteran seperti lumpuh pada salah satu anggota tubuh tertentu, sakit yang dirasakan seperti ditusuk-tusuk, tiba-tiba timbul luka atau benjolan pada tubuh, kulit bernanah, gatal-gatal selama bertahun-tahun, sakit pada tubuh yang berpindah-pindah.

Apabila manusia terkena sihir sakit, jin bersarang diotak, yaitu dipusat salah satu indra, sesuai dengan permintaan tukang sihir baik di pusat pendengaran, pengelihatan, tangan maupun kaki.

2. Sihir Hayalan (Sihr Al-Takhyil)

Sihir pandangan mata, dalam sejarah sihir semacam ini pernah dilakukan oleh para tukang sihir pendukung Fir’aun dihadapan masyrakatnya. Tali-tali yang mereka lemparkan mantra-mantra sihir terlihat seperti ular-ular yang bergerak.

Adapun ciri-ciri sihir khayalan yaitu

  • Sesuatu yang diam (tak bergerak) terlihat bergerak, dan yang bergerak terlihat diam.

  • Yang kecil terlihat besar dan yang besar terlihat kecil.

  • Apa yang dilihat bukan yang sebenarnya. Seperti orang melihat tali atau tongkat bagaikan ular yang bergerak (merayap)

3. Sihir Gangguan Jiwa ( Sihr Al-Junun)

Kharijah ibn al-Shalah meriwayatkan dari pamanya, bahwa ia datang kepada Rosulullah SAW, lalu masuk islam. Dalam perjalanan pulang ia melewati satu kaum yang di antara mereka itu, ada seorang laki-laki gila diikat dengan besi. Mereka berkata,

“Kami mendengar, bahwa anda membawa kabar baik.Apakah anda mempunyai sesuatu yang dapat mengobati orang ini (orang gila) “( pamanya ia pun sembuh.

Lalu mereka memberi saya seratus ekor kambing. Setelah itu saya datang kepada Rosulullah SAW dan menceritakan apa yang telah saya lakukan itu. Beliau bertanya,

Apakah kamu mengucapkan yang lain, selain surat Al-Fatihah ?

Saya menjawab, Tidak” (HR. Abu Daud. Dalam al-Thibb no 19.)

Terjadinya sihir gila itu karena jin yang ditugaskan menjalankan sihir, masuk ke tubuh orang yang dituju dan bersarang di otaknya, sesuai perintah tukang sihir. Kemudian ia menekankan dan menyempitkan sel-sel otak yang berfungsi untuk berfikir mengingat, atau melakukan pekerjaan lain yang hanya diketahui oleh Allah SWT. Dalam keadaan demikian, ciri-ciri tersebut akan tampak pada orang yang disihir.

Ciri-ciri sihir gila yaitu:

  • Mengamuk tanpa sebab yang jelas.
  • Sering berbicara sendiri.
  • Tanpa sebeb yang jelas tertawa dan menangis sendiri.
  • Melakukan gerakan-gerakan tubuh yang aneh.

4. Sihir Permusuhan Atau Pemisah

Perbuatan sihir dengan tujuan menceraikan atau memisahkan antara suami dan istrinya, atau untuk menimbulkan kebencian anatara dua orang teman. Terjadinya sihir pemisah itu, ketika orang yang akan melakukan perbuatan sihir pergi menemui tukang sihir dan meminta agar tukang sihir menceraikan antara “si fulan” dengan istrinya. Kemudian tukang sihir meminta nama orang yang dimaksud dan nama ibunya, lalu meminta “bekas” (atsar) seperti: rambut, pakaian, atau peci.

Bekas (atsar) yang dimaksud di sini adalah sesuatu yang biasa menempel di tubuh atau dipakai seseorang, sehingga mengandung bau keringatnya, seperti rambut, pakaian, peci, saputangan, dan sebagainya.

Bila tidak bisa, maka sihirnya dilakukan melalui air, lalu tukang sihir memerintahkan agar air tersebut dijalan yang biasa dilalui orang yang akan disihir. Apabila air tersebut dilangkahi, maka orang itu akan terkena oleh sihir, atau air tersebut dicampurkan dengan makanan atau minuman.

Ciri-ciri sihir pemisah :

  • Keadaan berbalik secara tiba-tiba, dari rasa cinta menjadi benci.

  • Banyak keraguan (prasangka) di anatara keduanya.

  • Tidak ada upaya saling memaafkan

  • Membesar-besarkan penyebab timbulnya perselisihan, meskipun sepele

  • Perubahan wajah suami di mata istrinya, dan wajah istri di mata suaminya. Sehingga, suami melihat istrinya bagaikan wanita yang buruk, meskipun kenyataanya ia termasuk wanita cantik. Dan yang terlihat di wajah istrinya itu adalah setan dalam bentuk yang buruk, sementara istri melihat suaminya bagaikan orang yang menakutkan.

  • Orang yang terkena sihir (istri atau suami) selalu tidak senang terhadap apapun yang dikerjakan pasanganya.

5. Sihir Mahabbah

Sihir mahabbah atau sihir cinta, biasa disebut pelet, merupakan sihir yang dapat membuat seseorang jatuh cinta terhadap orang lain, walaupun sebetulnya dia tidak mencintainya. Nabi Muhammad SAW bersabda :

Mantra-mantra, jimat dan jampi adalah syirik.

Ciri-ciri sihir cinta :

  • Senang dan cinta berlebihan.

  • Keinginan besar untuk sering melakukan hubungan seksual.

  • Tidak dapat menahan keinginan untuk melakukan hubungan seksual.

  • Kepatuhan yang membabibuta.

6. Sihir Suara (Sihir Al-Hawatif)

Terjadinya sihir tersebut ketika tukang sihir mengutus jin menugaskannya untuk menganggu manusia, baik pada waktu tidur maupun pada waktu jaga. Pada waktu tidur jin tersebut di dalam mimpi menjelma menjadi binatang buas yang siap menerkam. Sementara pada waktu jaga, ia memanggil orang yang dituju dengan suara-suara orang yang dikenal oleh pasien, ataupun suara-suara yang tidak dikenal. Kemudian ia menanamkan keraguan kepadanya, cirri-ciri sihir ini berbeda-beda sesuai dengan kuat dan lemahnya pengaruh sihir. Kalau pengaruhnya kuat bisa membuat orang tersebut gila, tatapi kalau pengaruhnya lemah, hanya membuat orang selalu ragu atau was-was.

Ciri-ciri Sihir Hawatif

  • Mimpi yang menakutkan.
  • Mimpi seolah-olah ada yang memanggil.
  • Mendengar suara yang mengajak berbicara
  • Mimpi seolah-seolah akan jatuh dari tempat yang tinggi
  • Mimpi dikejar-kejar binatang

Referensi :

  • Musthafa Murad, Minhajul al-Mukmin , cet. 1(T.tp.: Pustaka Arafah,2011).
  • Hurmain, Sihir Dalam Pandangan al-Qur’an, Vol,21 No 1 2014
  • Musthafa Asyur, Amalan Baru Dalam Pandangan As-Shuyuthi, ( Darul Hikmah, 1995)
  • Endra K Pribadi, Mahluk Halus Dalam Fenomena Kemusyrikan (Jakarta:Selemba Diniyah, 2004), Cet 1.
  • Wahid Abdussalam Baly, Ilmu Sihir Dan Penangkalnya (Jakarta: Logos Wacana Ilmu , 1995 ), Cet 1.