Hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam melakukan Transportasi pasien (transport of casuality)?

image

Transportasi pasien atau memindahkan pasien dan satu tempat ke tempat lain seringkali diperlukan, namun perlu diingat bahwa pasien dengan sakit yang kritis tidak mempunyai atau hanya mempunyai sedikit cadangan fisiologik. Sehingga pemindahan pasien kritis dapat menimbulkan problem yang besar.

Alasan itulah maka pemindahan pasien kritis memerlukan perencanaan yang cermat serta pengawasan yang ketat.

Hal-hal apa yang harus diperhatikan dalam melakukan Transportasi pasien (transport of casuality) ?

Trasportasi pasien adalah sarana yang digunakan untuk mengangkut penderita/korban dari lokasi bencana ke sarana kesehatan yang memadai dengan aman tanpa memperberat keadaan penderita ke sarana kesehatan yang memadai.

A. Prosedur transport pasien :

  1. Lakukan pemeriksaan menyeluruh. Terdiri dari pemeriksaan Airway (jalan nafasnya harus bebas), Breathing ( pasien harus bisa bernafas spontan, dan bila tidak bisa bernafas spontan dapat dilakukan pernafasan buatan). Circulation ( nadi teraba dan tensi terukur).

  2. Amankan posisi tandu di dalam ambulans. Pastikan selalu bahwa pasien dalam posisi amam selama perjalanan ke rumah sakit

  3. Posisikan dan amankan pasien. Selama pemindahan ke ambulans, pasien harus diamankan dengan kuat ke usungan

  4. Pastikan pasien terikat dengan baik dengan tandu. Tali ikat keamanan digunakan ketika pasien siap untuk dipindahkan ke ambulans, sesuaikan kekencangan tali pengikat sehingga dapat menahan pasien dengan aman.

  5. Persiapkan jika timbul komplikasi pernafasan dan jantung. Jika kondisi pasien cenderung berkembnag ke arah heti jantung, letakkan spinal board pendek atau papan RJP di bawah matras sebelum ambulans dijalankan.

  6. Melonggarkan pakaian yang ketat

  7. Periksa perbannya

  8. Periksa bidainya

  9. Naikkan keluarga atau teman dekat yang harus menemani pasien

  10. Naikkan barang-barang pribadi

  11. Tenangkan pasien.

B. Teknik Pemindahan pada pasien

Teknik pemindahan pada klien termasuk dalam transport pasien, seperti pemindahan pasien dari satu tempat ke tempat lain, baik menggunakan alat transport seperti ambulance , dan branker yang berguna sebagai pengangkut pasien gawat darurat.

Macam-macam pemindahan pasien yaitu :

  1. Pemindahan pasien dari tempat tidur ke brankar
  2. Pemindahan pasien dari tempat tidur ke kursi
  3. Pemindahan pasien ke posisi lateral atau prone di tempat tidur

C. Transportasi pasien kritis
T
ransportasi pasien-pasien kritis ini berisiko tinggi sehingga diperlukan komunikasi yang baik perencanaan dan tenaga-tenaga kesehatan yang sesuai. Pasien harus distabilisasi lebih dulu sebelum diberangkatkan. Prinsipnya pasien hanya ditranspotasi untuk mendapat fasilitas yang lebih baik dan lebih tinggi di tempat tujuan.

Perencanaan dan persiapan meliputi :

  • Menentukan jenis transportasi (mobil, perahu, pesawat terbang)
  • Menentukan tenaga kesehatan yang mendampingi pasien
  • Menetukan peralatan dan persediaan obat yang diperlukan selama perjalanan baik kebutuhan rutin maupun darurat
  • Menentukan kemungkinan penyulit
  • Menentukan pemantauan pasien selama transportasi

Komunikasi yang efektif sangat penting untuk menghubungkan :

  • Rumah sakit tujuan
  • Penyelenggara transportasi
  • Petugas pendamping pasien
  • Pasien dan keluarganya

Untuk stabilisasi yang efektif diperlukan :

  • Resusitasi yang cepat
  • Menghentikan perdarahan dan menjaga sirkulasi
  • Imobilisasi fraktur
  • analgesia

Sumber :

Kristanto Yuli Yarsa, Nanang Wiyono, Agus Djoko Susanto, R.T.H. Soepraptomo, Accident dan emergency (first aid), RS Dr.Moewardi Surakarta dan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta

Pemindahan pasien kritis dengan aman didasarkan atas 5 pedoman, yaitu:

  1. perencanaan
  2. sumber daya manusia
  3. peralatan
  4. prosedur
  5. lintasan.

Kategori Transportasi Pasien

  1. Transportasi intra mural (pemindahan dalam satu lingkup RS).
  2. Transportasi ekstra mural (pemindahan di luar RS). Ada 3 jenis pemindahan:
    • Pre RS (primer) dari tempat kejadian ke RS.
    • Inter RS (sekunder) Pemindahan dan RS ke RS lain.
    • International, Jarak Iebih dari 5.000 km.
  3. Kategori Transportasi lainnya.
    • Transportasi Neonatus/anak.
    • Transportasi pada pasien yang mengalami kecelakaan sewaktu menyelam.
    • Transportasi pasien ICU pada saat kebakaran.

Transportasi Intra Mural


Pemindahan pasien dalam lingkungan RS seringkali diperlukan, sebagai contoh dan UGD, kamar operasi atau dan ruangan!zaal yang akan masuk ke ICU, ataupun untuk keperluan diagnostik. Pemindahan pasien dalam lingkungan RS relatif sederhana, meskipun pada keadaan darurat tetap harus diperhatikan/diantisipasi.

Keuntungan dan intervensi pemindahan pasien harus mempertimbangkan resiko dan pemindahan tersebut, lebth-lebih pada pasien kritis. Langkah-langkah pemindahan pasien harus ditata dengan baik, sehingga dapat terhindar dan bahaya baru atau resiko lain.

  • Perencanaan
    Perencanaan harus ditetapkan sebagai protokol dan dibuat sejelas mungkin. Perawatan selama pemindahan harus sebanding dengan perawatan selama di ruangan. Waktu pemindahan harus ditetapkan. Termasuk rute perjalanan yang akan dilewati. Komunikasi antar petugas untuk koordinasi mempunyai peranan penting. Perencanaan yang salah akan menyebabkan memefektifitas dan memperpanjang atau memperlama perjalanan pemindahan.

  • Sumber Daya Manusia
    Jumlah tenaga, ketrarnpilan/skill petugas harus dipertimbangkan sesuai dengan kondisi pasien yang dipindahkan. Tim transportasi merupakan kombinasi dan dokter, perawat clan profesi lain yang terkait. Setiap anggota tim harus familiar terhadap peralatan yang digunakan, mempunyai kemampuan serta berpengalaman mengenali dan mengatasi masalah, seperti kemampuan untuk pembebasan jalan nafas, ventilasi, resusitasi ataupun tindakan kedaruratan lain. Di dalam tim harus ada pembagian tugas yang jelas, sehingga memudahkan prosedur.

  • Peralatan
    Peralatan selama pemindahan harus tetap berfungsi sampai tempat tujuan. Peralatan harus mudah penggunaannya, dan tidak dibenarkan peralatan diletakkan pada pasien atau dibawa oleh petugas. Peralatan yang dibawa disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi pasien. Monitor EKG, denyut nadi dan tensi diperlukan oleh setiap pasien (kecuali pada pemindahan pasien dalam proses penyembuhan ke bangsal perawatan biasa).

    Monitor respirasi, oksi metri, alat defebrilasi dan suction harus disediakan pada pasien yang tergantung pada ventilator atau pasien yang unstabil. Ventilator portable akan memberikan ventilasi yang lebih konsisten dibandingkan dengan kantong Resusilator manual.
    Monitor tekanan darah otomatis non invasif dan pompa imfus sangat dibutuhkan. Kotak emergency kit jangan berisi obat-obat emergency analgetik, seclatif, pelumpuh otot dan intubasi set sangat membantu untuk meigatasi masalahmasalah darurat yang mungkin terjadi selama tindakan transportasi pasien. Peralatan yang menggunakan ants listrik harus tetap berfungsi. Selama perjalanan, bila perlu membawa baterai cadangan.

    Peralatan yang terpasang pada pasien seperti dramage, USD, mfus line atau cup line, catheter harus dipastikan dalam keadaan aman selama perjalanan. Semua peralatan tersebut harus siap pakai dan diperiksa secara teratur.

  • Prosedur
    Tim transport harus terbebas dan tugas lain. Petugas penerima telah siap sebelum pemindahan dimulai, waktu kedatangan diketahui dengan jelas. Sebelum berangkat alat-alat siap, perbaikan pasien dapat dilakukan mis, pemberian sedatif, mengganti cairan infus, transfusi yang habis, memastikan obat-obat motorik telah masuk ke dalam infus, dan sebagainya. Pemberian trnasport tidak boleh mengabaikan pengobatan dan perawatan dasar pasien.

  • Lintasan
    Tempat tidur/brancard, peralatan dan petugas dengan aman dapat melewati seluruh rute perjalanan. Jika tempat tidur tidak dapat melewati rate mis pintu/lift gunakan brancard. (Kelemahan brancard tidak cukup membawa alat yang dibutuhkan). Hindari trauma pada pasien atau petugas selama memindahkan pasien.

    Lift harus digunakan selain pengunjung/wartawan sebelum memindahkan pasien sehingga tidak menghambat perjalanan. Gerakan dan getaran yang kasar harus dimmimalkan. Status pasien dipenksa setiap interval tertentu. Segala perubahan keadaan pasien atau konclisi kritis yang mungkin terjadi dicatat.
    Pemindahan pasien dapat menggunakan temapat tidur dengan catatan tempat tidur beserta petugas dapat masuk lift dan dengan aman dapat melewati seluruh rute.

Transportasi Ekstra Mural


  • Perencanaan
    Koordinasi dan komunikasi yang baik antar tim evaluasi, tim ambulans dan petugas pada kedua tujuan akhir adalah sangat penting. Komunikasi yang kurang akan membatasi penyebaran informasi yang jelas dan memungkiukan petugas spesialis kurang dapat mempertimbangkan dengan tepat akan adanya situasi yang kritis. Saluran telepon dan faksimile mengenai resusitasi atau pelaksanaan pasien kritis sebelum tim evaluasi tiba.

  • Sumber Daya Manusia
    Semua anggota tim harus mempunyai kemampuan dan pengalaman dalam diagnostik dan resusitasi. Petugas yang biasa terkena mabuk perjalanan sebaiknya menghindari misi ini. Mabuk perjalanan bagi pasien juga perlu diperhitungkan, karena dapat menyebabkan aspirasi. Medikasi yang paling efektif untuk mabuk perjalanan adalah Hydrobromide Hyosine (Skopolamine) berefek selama 4 jam pertama perjalanan. Suntikan transdermal dapat berefek selama 8 jam. Efek sampingnya adalah sedasi, mulut kering dan distromia.

  • Peralatan
    Peralatan secara umum yang diperlukan antara lain tempat tidur/brancard yang aman selania perjalanan, kotak medis dengan berat di bawah 40 kg. Peralatan untuk proteksi petugas seperti sarung tangan, masker, dan sebagamya.
    Apabila menggunakan peralatan elektronika harus dilengkapi dengan baterai cadangan untuk 2 kali perhitungan. Mat komunikasi jarak jauh. Peralatan selngkapnya dapat dilihat pada lampiran.

  • Prosedur
    Penilaian pasien di tempat kejadian meliputi A, B, C dan resusitasi ditambah koreksi suku dan biokimia. Lakukan intubasi jika perlu di luar kendaraan. Tandatanda vital/data-data penting seperti AGD, X Ray dilakukan sebelum berangkat dan dilakukan cross cek golougan darah. Pasien yang gelisah mungkin perlu diberikan sedasi.

    Perhatikan selang drainase ketika mengangkat pasien. Tercabutnya selang drainase dapat menambah resiko pneumothoraks. Kateter IV lebih baik dipasang jauh dan persendian dan terjamin keamanannya. Jalur vena sentral mungkin dibutuhkan. Penggunaan infus pump dapat mengurangi terputusnya aliran infus. Infus dengan tekanan dapat diindikasikan untuk penggantian volume cairan yang darurat. Obat-obat IV dipersiapkan dan diberi label dengan baik sebelum digunakan. Jika nutri dihentikan hams diperhitungkan kejadian hipoglikemia harus dicegah dengan memberikan infus dekstrose 10 % dan monitor gula darah. Syringe pump dapat mengontrol pengaturan obat dan cairan dengan baik selama perjalanan.

  • Passage
    Transportasi udara digunakan untuk lintas kota atau medan yang berat, darat biasa digunakan untuk daerah perkotaan, atau daerah yang memungkinkan. Pesawat udara menjadi pilihan untuk sebagian besar sistim medik darurat, baik helikopter ataupun pesawat. Masalah utama penggunaan transport udara adalah ketinggian yang menyebabkan berkurangnya tekanan parsial oksigen, menmgkatnya tekanan gas di mang tertutup, dan menurunnya suhu udara.
    Pasien yang mungkin terganggu clengan ketinggian (hipoksernia berat) dapat diberikan oksigen 100 % dan diterbangkan dengan ketinggian serendah yang diijinkan. Posisi melintang akan memberikan perubahan terkecil pada cairan tubuh, tetapi hanya sedikit alat transportasi yang mempunyai ruang untuk ini.

Ada beberapa problem penting yang dapat terjadi dalam perjalanan antara lain:

  • Brankard pasien tidak sesuai dengan kendaraan yang cligunakan.
  • Lingkungan atau cuaca yang tidak baik.
  • Ketidaknyamanan perjalanan, terik matahari, malam han.
  • Getaran dan suara bising.

Transportasi Khusus


a. Transportasi pada Neoratus

Inkubator biasanya besar dengan berat ± 80 kg, dan menggunakan tenaga 200 W (menggunakan AC atau DC) tmtuk hemostatis suhu dan sekitar 20 W untuk monitoring. Kegunaan dan gas medis serta energi listnik disediakan di kendaraan adalah untuk mengurangi silinder gas dan tenaga baterai konservatif yang hams dibawa. Aeronudical transport adalah penting untuk mengatur Fi02, meminimalkan resiko terjadinya fibroplasia retrolental.

b. Transportasi pada Pasien yang mengalami kecelakaan sewaktu menyelam

Pasien dengan nyeri dikompresi atau emboh gas arterial tidaklapat ditolelir walau kedalamannya rendah (100-200 m), karena gelembung yang meluas akan mengakibatkan eksaserbasi gejala klinis. Untuk perjalanan udara, sebagian besar pasien dengan kecelakaan di saat menyelam diberi oksigen 100 % dengan masker wajah, dan dievaluasi dengan kecepatan penuh pada tekanan permukaan air laut ke unit hiperbarik yang dapat dipindahkan, dapat dibawa ke tempat kejadian, tetapi beberapa modelnya dapat menimbulkan beberapa masalah pembawaan, dan kurangnya ruangan untuk membawa.

c. Transportasi Pasien ICU bila terjadi kebakaran

Penyebab kematian terbesar adalah inhalasi asap ddan keracunan CO serta Sianida. Konsekuensmya, ketika timbul kebakaran di dalam/di dekat Ruang ICU, pertamatama petugas harus memindahkan pasien yang bernafas spontan. Pasien dengan ventilasi mempunyai suplai udara sendiri dan dapat dipindahkan belakangan dimana asap telah menginfiltrasi masuk. Lift tidak boleh digunakan.

Beberapa hal prinsip dalam pemindahan pasien perlu mendapat perhatian, antara lain:

  1. Jelaskan pada pasien jika memungkinkan.
  2. Stabilisasi pasien seoptimal mungkin sebelum berangkat.
  3. Harus terencana,jangan tergesa-gesa.
  4. Pertahankan stabilitas selama perjalanan.
  5. komunikasi yang adekuat antara pengirim dan penerima.

LAMPIRAN


Alat-alat
Peralatan untuk transportasi intra mural, antara lain:

  1. Oksigen
  2. Ventilator manual
  3. Pleura drainase (WSD)
  4. Urin bag dan drai yang lain
  5. Defibrilator lengkap monitor EKG
  6. Pace maker biasanya external pacing
  7. Cairan infus
  8. Alat dialisis (CAVH, CVVH)
  9. Pulse oksimetri
  10. Termogulation (pelindung dan hawa dingin)
  11. Emergency kit
  12. Cadangan baterai
  13. Alat monitor (EKG, tekanan darah invasif, respirasi, oksimetri, suhu dll).

Peralatan untuk ekstra mural, antara lain:

  1. Respirasi
    Airways, ambubag dengan mask, ventilator portable lengkap, simple spirometer.
    Alat intubasi : ETT, laringskope, magil forceps, yunger suction, tracheostomi tube.
    Pleura drainase : kateter, trocar, kanul vena besar, scapel howard kelly forceps, heimlich valves, drainase bag, set jahit kulit Nebulizer.
  2. Sirkulasi
    Monitor, defibrilator, pulse oksimetri, spygnomanometer, tensimeter, kateter vena perifer atau sentral, cairan kristaloid, kateter arteri dan set monitor, spuit, infus pump atau syringe pump.
  3. Gastrointestinal NGT dengan bag.
  4. Renal
    Dower catheter/kondom dengan bag.
  5. Umum
    Lampu senter, plester, label, gunting, antiseptik, pakaian dli.
  6. Obat-obatan
    • Obat-obatan sirkulasi.
    • Inotropik
    • Atropin
    • Beta bloker
    • Neostigmin
    • Antri aritmia
    • Antiliipertensi
    • Deuretic
    • Potasium
    • Magnesium
    • Sodium bicarbonat
    • Calcium cloride
    • Glucosa hipertonic
    • Penisilin atau yang lam
    • Heparin
    • Vitamin K
    • Oxitocin
    • Bronchodilator
    • Narkotik
    • Narkotik antagonis
    • Antikonvulsi
    • Sedatif
    • Neuromuskuler bloker
    • Anti emetik
    • Anestesi lokal
    • General anestesi
  7. Mat lain
    Termometer
    Alat lab sederhana.

Referensi :

  • Te oh, 1990, Sydney London Boston Singapore Toronto Wellington, Intensive Care Manual, Third Edision.