Google Reward - M Nosa Sandi Prasetyo

Nosa

Nosa laki-laki kelahiran 30 September 1999 asal Bukir, Kota Pasuruan, Jawa Timur berhasil mendapatkan reward dari Google sebesar USD 7,500,00. Gamer yang berhasil membuat software ketika berada di bangkus SMP. Ketika memasuki SMA dia mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial, akan tetapi ketika kuliah dia mengambil jurusan Teknik Informatika.

Nosa kuliah di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Yadika Bangil atas dorongan orang tuanya.Selama kuliah, Nosa suka membantu beberapa developer untuk menyelesaikan masalah bug. Nosa sering melaporkan masalah yang ditemukannya terkait IT kepada pembuat program atau developer. Dia pun kerap mendapat imbalan dari perusahaan atas bantuannya menemukan masalah tersebut.

Sebagai pencari bug (bug hunter), Nosa pernah berkeinginan untuk dapat menemukan bug di Google. Mesin pencarian terbesar di dunia ini emang membuka kesempatan untuk dapat menemukan bug nih atau biasanya disebut (bug bounty). Nosa kemudian melakukan percobaan pada Maret 2018 dengan menggunakan browser Internet Explorer dan Mozilla Firefox dan berhasil menemukan bug kemudian dikirimkan ke Google akan laporan tersebut di tolak. Pada 11 Agustus 2018, Nosa melakukan percobaan keduanya dengan metode yang berbeda. Masuk ke halaman my account, kemudian berlanjut ke sub-domain bussiness-google. Dan berhasil mendapatkan bug yang akhirnya di terima laporan tersebut oleh Google.

Nosa pun menambahkan analisanya dan bilang kalau celah pada Google tersebut merupakan celah yang sangat riskan atau dikenal dengan sebutan ‘click hijacking’. Akhirnya Google membalas email Nosa dan kata-katanya kayak gini nih guys “ As Part of Google Vulnerability Reward Program, the panel decided to issue a reward of $7.500.00. (Sebagai bagian dari Google Vulnerability Reward Program, kami memutuskan untuk memberikan hadiah USD 7.500,00),” itulah balasan Google yang diberikan kepada Nosa. Alhasil Nosa pun kaget dan ga menyangka juga kalo dia itu bisa mendapatkan uang sebanyak itu dari hobbynya.

M. Nosa Sandi Prasetyo namanya. Laki-laki kelahiran 30 September 1999 asal Bukir, Kota Pasuruan, Jawa Timur, ini diganjar USD 7.500 oleh Google setelah berhasil temukan bug. Hacker

Belajar di jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial pada saat Sekolah Menengah Atas (SMA) tidak menghalanginya untuk belajar Information and Technology (IT), ilmu yang biasanya dipelajari orang-orang dengan latar pendidikan ilmu pengetahuan alam.

Ketertarikan remaja 19 tahun itu terhadap IT sudah dimulai sejak masih anak-anak. Saat berada di bangku Sekolah Dasar, Nosa sangat menyukai game . Kemudian memasuki Sekolah Menengah Pertama, dia mulai mengenal dunia software bahkan sudah dapat membuat virus sederhana.

Keterampilan Nosa kian diasah hingga saat duduk di bangku SMA, Nosa dapat membuat program instruksi untuk menjalankan dan mengeksekusi perintah.
Saat itu, dia mulai ‘membobol’ akun rapor online dan akun ujian berbasis Android. Hal itu dilakukan setelah sebelumnya dia berhasil menunjukkan cara menemukan bug . Meski berhasil meretas akun, dia tidak memanfaatkan keahliannya itu untuk kepentingan pribadi.

Nosa justru melaporkan masalah yang ditemukannya terkait IT kepada pembuat program atau developer . Dia pun kerap mendapat imbalan dari perusahaan atas bantuannya menemukan masalah tersebut.

Setelah lulus SMA, Nosa sempat ditawari melanjutkan pendidikan IT di perguruan tinggi melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Namun karena berasal dari bidang IPS, kesempatan itu pun tidak bisa diambilnya.

Dia sempat memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Tapi dengan dorongan orang tua, akhirnya Nosa melanjutkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Yadika Bangil.

Sebagai pencari bug ( bug hunter ), Nosa pernah berkeinginan untuk dapat menemukan bug di Google. Korporasi pemilik mesin pencarian terbesar di dunia ini memang membuka ruang untuk dapat menemukan bug ( bug bounty ). Nosa pun melakukan percobaan pertamanya pada Maret 2018 dengan menggunakan browser Internet Explorer dan Mozilla Firefox.

Saat itu dia sempat menemukan bug , namun laporan yang dikirimnya itu ditolak Google. Lima bulan kemudian, tepatnya 11 Agustus 2018, Nosa melakukan percobaan keduanya dengan metode berbeda.

Kali ini dilakukannya dengan mencoba mengutak-atik akun Google. Dia masuk ke laman my account , kemudian berlanjut ke sub-domain bussiness-google . Akhirnya, bug pun dia tangkap. Saat itu, Nosa mendapat balasan, " Nice catch (tangkapan bagus)".

M. Nosa Sandi Prasetyo namanya. Laki-laki kelahiran 30 September 1999 asal Bukir, Kota Pasuruan, Jawa Timur, ini diganjar USD 7.500 oleh Google setelah berhasil temukan bug. Hacker ini bercita-cita menjadi ‘pengangguran sukses’.

Belajar di jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial pada saat Sekolah Menengah Atas (SMA) tidak menghalanginya untuk belajar Information and Technology (IT), ilmu yang biasanya dipelajari orang-orang dengan latar pendidikan ilmu pengetahuan alam.

“Saya biasa dipanggil Nosa,” kata dia, saat memulai perbincangan dengan wartabromo.com , Rabu (26/9/2018).

Ketertarikan remaja 19 tahun itu terhadap IT sudah dimulai sejak masih anak-anak. Saat berada di bangku Sekolah Dasar, Nosa sangat menyukai game . Kemudian memasuki Sekolah Menengah Pertama, dia mulai mengenal dunia software bahkan sudah dapat membuat virus sederhana.

Keterampilan Nosa kian diasah hingga saat duduk di bangku SMA, Nosa dapat membuat program instruksi untuk menjalankan dan mengeksekusi perintah. Saat itu, dia mulai ‘membobol’ akun rapor online dan akun ujian berbasis Android. Hal itu dilakukan setelah sebelumnya dia berhasil menunjukkan cara menemukan bug . Meski berhasil meretas akun, dia tidak memanfaatkan keahliannya itu untuk kepentingan pribadi. Nosa justru melaporkan masalah yang ditemukannya terkait IT kepada pembuat program atau developer . Dia pun kerap mendapat imbalan dari perusahaan atas bantuannya menemukan masalah tersebut.

Setelah lulus SMA, Nosa sempat ditawari melanjutkan pendidikan IT di perguruan tinggi melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Namun karena berasal dari bidang IPS, kesempatan itu pun tidak bisa diambilnya. Dia sempat memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Tapi dengan dorongan orang tua, akhirnya Nosa melanjutkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Yadika Bangil.

Sebagai pencari bug ( bug hunter ), Nosa pernah berkeinginan untuk dapat menemukan bug di Google. Korporasi pemilik mesin pencarian terbesar di dunia ini memang membuka ruang untuk dapat menemukan bug ( bug bounty ). Nosa pun melakukan percobaan pertamanya pada Maret 2018 dengan menggunakan browser Internet Explorer dan Mozilla Firefox. Saat itu dia sempat menemukan bug , namun laporan yang dikirimnya itu ditolak Google. Lima bulan kemudian, tepatnya 11 Agustus 2018, Nosa melakukan percobaan keduanya dengan metode berbeda.

Kali ini dilakukannya dengan mencoba mengutak-atik akun Google. Dia masuk ke lama my account , kemudian berlanjut ke sub-domain bussiness-google . Akhirnya, bug pun dia tangkap. Saat itu, Nosa mendapat balasan, " Nice catch (tangkapan bagus)".

Nosa mengungkapkan, celah bug yang ia temukan termasuk celah keamanan yang sangat kritis atau ’ click hijacking '. Gayung bersambut, ‘Mbah Google’ merespons laporannya hingga Nosa mendapat balasan dari Google melalui email pada Selasa pagi (25/9). Email itu berisi ucapan terima kasih dan besaran reward yang diterimanya.

As Part of Google Vulnerability Reward Program, the panel decided to issue a reward of $7.500.00. (Sebagai bagian dari Google Vulnerability Reward Program, kami memutuskan untuk memberikan hadiah USD 7.500,00),” bunyi penggalan kalimat dalam email yang diterima Nosa dari Google.