Gap Year Pendidikan: Mempersiapkan Diri atau Membuang Waktu?

Gap year adalah suatu istilah yang disematkan kepada siswa atau peserta didik yang telah menyelesaikan suatu jenjang pendidikan, namun tidak langsung melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya (Rosmilawati, 2017). Dengan kata lain, gap year merupakan penundaan (umumnya setahun) untuk mengikuti pendidikan di jenjang berikutnya yang dikarenakan berbagai alasan. Gap year paling umum ditemui pada siswa yang telah lulus dari bangku SMA namun masih menunda untuk kuliah di perguruan tinggi karena berbagai alasan, seperti belum diterima di kampus atau jurusan yang diinginkan, adanya keterbatasan finansial, dan sebagainya.

Siswa yang memilih untuk gap year biasanya tidak hanya berdiam diri selama satu tahun. Mereka biasanya mengisi waktunya dengan les atau bimbingan persiapan seleksi masuk perguruan tinggi di tahun berikutnya, mengikuti volunteer , magang, bekerja, dan sebagainya. Dengan demikian, gap year diharapkan dapat menambah pengetahuan dan kemampuan mereka sebelum memasuki jenjang pendidikan berikutnya.

Namun, tidak sedikit juga masyarakat yang memandang negatif gap year karena menurut mereka pilihan tersebut cenderung membuang waktu dan dapat menambah pengeluaran yang tidak perlu. Siswa yang gap year dinilai telah membuang waktunya selama setahun sehingga dikhawatirkan mereka akan terlambat atau terlalu tua saat lulus kuliah nanti. Selain itu, mereka yang mengisi waktu gap year -nya dengan les atau mengikuti bimbingan belajar dinilai menambah beban orang tua karena harus mengeluarkan uang untuk membayar les tersebut.

Menurut pendapat Youdics, apakah gap year cenderung memiliki manfaat yang positif atau negatif bagi yang menjalaninya? Apakah gap year dapat menjadi kesempatan mengembangkan diri atau malah membuang-buang waktu saja?

Sumber

Rosmilawati, I. (2017). Jalan panjang menuju sekolah alternatif: Refleksi pengalaman remaja kurang beruntung dalam meraih pendidikan. Jurnal Untirta, 2(1), 102-111.

Sumber Gambar: How to Spend a Gap Year During Coronavirus | College Transitions.

2 Likes

Menurut pendapat saya, tolak ukur untuk dapat menggambarkan gap year sesuatu yang membuang-buang waktu atau mempersiapkan diri ialah bagaimana seseorang mengisi kekosongan waktu tersebut. Beberapa memilih untuk gap year karena tidak bisa masuk ke universitas yang diharapkan lalu terus berusaha selama waktu kekosongan tersebut dengan mengambil kelas tambahan atupun mengikuti kursus. Lain hal jika ada seseorang yang memilih gap year tanpa alasan yang jelas dan tidak melakukan apapun selama waktu kekosongan tersebut, hal tersebut jelas membuang-buang waktu.

Tetapi, kita tidak bisa memandang gap year sebagai sesuatu yang negatif karena tidak sedikit yang bisa sukses walaupun mereka memilih untuk gap year. Setiap orang memiliki waktunya sendiri, tidak perlu berlomba-lomba ataupun membandingkan diri dengan orang lain.

1 Like

Setiap sesuatu yang kita pilih tentunya memiliki dampak positif dan juga negative yang dilihat dari berbagai sisi. Aku pribadi belum pernah melakukan gap year sebelumnya, alasannya karena aku ingin bisa lulus kuliah S1 pada usia 22 tahun sehingga tidak ingin menunda dalam menempuh Pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi. Menurutku tidak ada salahnya bagi seseorang yang memutuskan untuk gap year, karena tentunya mereka memiliki banyak pertimbangan pada keputusan mereka seperti yang telah disebutkan pada deskripsi topik di atas.

Jika berdasarkan pertanyaan, apakah gap year cenderung memiliki manfaat negative atau positif maka aku akan menjawab bahwa hal tersebut tentunya tergantung dari bagaimana seseorang memanfaatkan waktu luang yang mereka punya dan tujuan mereka memutuskan gap year. Jika tujuan gap year ini karena ingin mempersiapkan bekal yang lebih matang, maka kemungkinan besar mereka akan memanfaatkan waktu gap year mereka dengan hal-hal yang bermanfaat seperti belajar, latihan fisik, les, atau bahkan magang. Namun sebaliknya, jika mereka tidak memiliki tujuan yang jelas maka kemungkinan mereka akan menghabiskan waktunya dengan sia-sia sehingga hal ini cenderung tidak bermanfaat. Sehingga menurutku, gap year merupakan sebuah kesempatan besar untuk kita dapat manfaatkan dengan sebaik-baiknya dalam mengembangkan kualitas diri kita. Untuk itu, sebelum memutuskan untuk gap year maka kita terlebih dahulu menentukan apa tujuan utama dari gap year itu sendiri untuk kita.

1 Like

Aku sendiri sangat sependapat dengan pernyataan ini.

Memilih untuk menghabiskan jeda setahun dari kegiatan akademik perlu tanggung jawab yang besar. Tidak sedikit yang dikalahkan oleh rasa malas dan berujung pada mengisi waktu dengan perbuatan yang sia-sia. Beberapa orang terkadang beruntung karena oleh orang tuanya dapat diikutsertakan dalam bimbingan belajar yang dapat memperdalam kemampuan mereka. Namun, dari orang beruntung ini ada juga yang menjadikan bimbingan belajarnya hanya sebagai formalitas, lantas memilih bermain dan bersantai.
Gap-year ini baru akan berguna bila betul-betul diisi dengan kesungguhan. Aku pribadi merasa ada baiknya jika gapyear tidak melulu soal belajar persiapan ujian saja. Ada baiknya bila pembelajaran itu diselingi juga oleh pengenalan lebih jauh mengenai kampus maupun prodi yang diincar. Lantas dikaitkan pula dengan karier yang ingin dituju.
Dalam suatu penelitian dikatakan bahwa,
Setelah gap year, kaum muda dilaporkan mencerminkan hasil kinerja yang lebih tinggi, pembentukan pilihan karir, peningkatan kemampuan kerja, dan berbagai keterampilan hidup.
Aku rasa hal ini yang sebenarnya amat perlu ketika seseorang memutuskan untuk gapyear. Jangan sampai setelah setahun penuh berjuang masuk ke satu prodi, kemudian setelah kuliah merasa salah jurusan.
Kemudian, satu hal yang entah terlupa atau memang tidak ingin diketahui adalah adakalanya juga seseorang memilih gapyear karena ia tidak punya pilihan. Di tengah beasiswa yang tersebar dimana-mana, masih ada juga orang yang terkendala finansialnya. Pada akhirnya mereka terpaksa menunggu kesempatan beasiswa lain sambil bekerja.
Jadi, aku rasa baiknya kita tidak perlu memberikan cap negatif pada orang-orang yang gapyear. Kalaupun ada yang menyia-nyiakan waktunya itu akan menjadi kerugian bagi dirinya sendiri

Sumber
Martin, A. J. (2010). Should students have a gap year? Motivation and performance factors relevant to time out after completing school. Journal of educational psychology , 102 (3), 561.

1 Like

Sebenarnya untuk masalah gap year ini aku kurang begitu paham karena Alhamdulillah dulu aku tidak mengalaminya, tapi aku punya beberapa teman dan saudara yang memilih untuk gap year. Aku setuju dengan beberapa pendapat teman-teman diatas bahwa indikator gap year yang benar-benar merupakan persiapan diri atau malah kegiatan yang membuang waktu adalah kegiatan yang dilakukan orang tersebut selama gap year.

Menurutku terdapat beberapa alasan orang melakukan gap year, misalkan membantu pekerjaan orang tuanya, kurang beruntung dalam ujian masuk perkuliahan dan tidak ada backup plan berupa tes mandiri, merasa kurang persiapan untuk bisa masuk ke universitas impian, dan masih banyak lagi. Itu semua merupakan beberapa alasan personal dibalik gap year seseorang. Kemudian mungkin juga terdapat alasan gap year seseorang untuk tidak ingin kuliah dulu agar bisa bermain-main terlebih dahulu. Ini menurutku juga pilihan yang tidak perlu dipermasalahkan dan sah-sah saja. Setidaknya hal ini dilakukan karena ditakutkan apabila dia memaksa untuk “buru-buru” kuliah dan masuk pada jurusan yang kurang diminati, nantinya malah akan tidak maksimal dan menyia-nyiakan uang kuliah yang sudah dibayarkan. Jadi, jangan terlalu menjudge gap year nya seseorang, karena mungkin terdapat alasan personal dibalik semua itu yang tidak perlu diketahui orang lain. Setiap orang memiliki waktunya dan progress atau pencapaian setiap orang tidak bisa disamaratakan.

1 Like