Gadis Buta di Seberang Jalan

f6e239baa40a4e06fc83019322cebbce

Summary

https://id.pinterest.com/pin/342695852892219422/?nic_v2=1abtUYxob

Hujan turun begitu deras. Membasahi tanah yang sudah lama kering. Bau tanah basah yang menyejukkan hati itu kembali tercium. Menemani kesendirianku yang terjebak hujan di pelataran sebuah toko buku. Baru saja aku selesai melihat-lihat novel dan membeli peralatan menggambar. Ketika aku ingin pulang, tiba-tiba saja hujan mengguyur bumi dengan deras. Aku tidak bisa pulang karena aku tidak membawa kendaraan. Aku hanya berjalan kaki ke toko buku itu karena rumahku hanya berjarak 300 meter dari toko itu. Dan aku juga tidak membawa payung. Aku tidak mengira hujan akan turun.

Aku duduk di kursi yang berada di pelataran toko buku itu. Bersama dengan beberapa orang lainnya yang juga menunggu hujan reda. Aku hanya diam sambil mengamati kendaraan yang melintas. Di seberang jalan aku melihat dau orang gadis kecil. Baju mereka lusuh dan sedikit basah karena hujan. Mereka juga tidak mengenakan alas kaki. Di seberang jalan itu mereka sedang berteduh di halte bus sambil bercengkrama. Wajah mereka nampak sangat bahagia. Sepertinya obrolan mereka asyik sekali. Beberapa kali aku melihat mereka tertawa bahagia. Saat aku tengah asyik memperhatikan mereka, aku menyadari satu hal. Salah satu gadis itu nampaknya tidak bisa melihat. Aku membayangkan bagaimana hidupku jika aku tidak dapat melihat apapun. Semua terasa gelap. Tak bisa mengetahui warna dan bentuk. Pasti sangat menyedihkan. Tapi, aku sama sekali tidak melihat kesedihan di wajah mereka. Bahkan gadis kecil yang satunya lagi dengan sabar dan ikhlas mau menerima dan menemani gadis kecil buta itu.

Tak lama, hujan pun reda. Aku berjalan pulang menuju rumah. Dua gadis kecil itu juga pergi meninggal halte bus itu. Dalam perjalanan pulang aku masih terus membayangkan dua gadis kecil yang kulihat tadi.Dari penampilan mereka, mereka terlihat seperti orang yang hidup kekurangan. Bahkan untuk membeli alas kaki saja mereka tidak bisa hingga harus merasakan panas dan dinginnya jalanan. Ditambah lagi dengan kondisi salah satu diantara mereka yangtidak sempurna. Tiba-tiba aku merasa malu pada diriku sendiri. Aku yang hidup serba berkecukupan, punya banyak pakaian dengan berbagai model dan warna, punya sepatu dan sandal dari berbagai merk, dan memiliki anggota tubuh yang lengkap. Namun, aku masih sering mengeluh. Aku sering uring-uringan memilih baju ketika ingin hangout dengan teman-temanku, selalu ingin membeli sepatu ketika melewati sebuah toko sepatu, bahkan sering mengeluh di depan cermin karena wajahku yang menurutku serba kekurangan.

Aku teringat ketika beberapa hari yang lalu aku dan mamaku pergi ke acara pernikahan salah satu kerabatku. Di acara itu kami berjumpa dengan saudaraku yang saat ini bekerja di salah satu agensi model. Tubuhnya tinggi, langsing, kulitnya putih dan Nampak halus. Wajahnya terlihat sangat proporsional dan tidak ada noda sedikit pun. Aku sangat iri melihatnya. Sepulang dari acar pernikahan itu,aku berdiri di depan cerpin memandangi diriku dari ujung kaki hingga ujung rambut. Tubuhku pendek, kurus, dan tidak berbentuk. Mirip seperti triplek. Kemudian aku mendekatkan wajahku ke cermin. Terlihat beberapa jerawat menghiasi wajahku. Aku pun langsung menuju kasur dengan rasa kesal. Aku ingin menjadi perempuan yang sempurna seperti saudaraku itu agar bisa tampil percaya diri.

Kini aku menyadari suatu hal. Aku dan hidupku itu ternyata sangat sempurna. Harusnya aku bersyukur masih bisa melihat kekurangan diriku. Bahkan hal sekecil jerawat di wajah saja aku masih bisa melihatnya dengan jelas. Tidak seperti gadis kecil yang kulihat di seberang jalan tadi. Terima kasih Tuhan, telah menurunkan hujan hari ini. Karena hujan, aku bisa melihat gadis kecil itu dan menyadari betapa sempurna dan bahagianya hidupku selama ini.