Film "JOKER" Apakah Termasuk Pseudobulbar Affect?

20200410_232148_0000

Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti
( warganet)

Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti

Begitu opini sebagian warganet usai menonton film joker. Kutipan ini kian memperkuat nilai yang memberikan pemakluman atas tindakan-tindakan mengerikan Joker, karena sejatinya sebagai seorang Arthur Fleck dia digambarkan sebagai orang yang baik. Menurut saya kutipan tersebut seolah mencari pembelaan bagi fleck, karena menurut saya jahat ya jahat, baik ya baik tidak ada keraguan dalam hal itu.

Film joker yang dibintangi oleh Joaquin Rafael Phoenix rupanya mulai meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan mental di ranah publik. Dalam film joker tersebut, Joaquin memerankan karakter komedian Arthur Fleck yang gagal dalam kehidupan sosialnya. Dimana didalam film ini jika Fleck berubah menjadi jahat, banyak pengidap penyakit mental yang memutuskan mengakhiri hidup mereka. Menurut data dari WHO, dalam rentan usia 15- 29 tahun, satu orang setiap 40 detik dapat melakukan bunuh diri dan upaya bunuh diri. Bunuh diri terjadi di semua wilayah di dunia. faktanya, 79% dari bunuh diri global terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Film joker ini menurut saya termasuk kedalam gangguan mental Pseudobulbar Affect (PBA).

Menurut Time to Change, organisasi yang bertujuan untuk memerangi diskriminasi terhadap kesehatan mental asal Inggris, lebih dari sepertiga masyarakat berpikir orang dengan masalah kesehatan mental cenderung keras. Dalam film Joker ini kita dapat menarik benang merahnya yakni adapun gejala awal yang perlu kita ketahui jika seseorang memiliki pseudobulbar affect ( PBA), seperti tangisan dan tawa yang tidak terkendali hingga berlebihan. Bahkan, seseorang yang tadinya tertawa sangat berlebihan bisa secara tiba-tiba menangis seperti yang di lakukan oleh Fleck .

PBA?

PBA disebut juga sebagai Pathological Laughter and Crying (PLC). Ada beberapa gejala yang menunjukkan seseorang terkena PBA. Dilansir dari mayoclinic, gejala utama ditandai dengan perilaku berupa tertawa atau menangis secara berlebihan, tetapi tidak berhubungan dengan keadaan emosinya. Penyakit ini muncul karena gangguan yang terjadi pada syaraf. Seorang yang memiliki PBA akan mengalami emosi secara normal, terkadang akan mengekspresikannya dengan berlebihan, tanpa sebab, dan pada waktu yang tidak seharusnya. PBA yang parah akan menyebabkan rasa malu, isolasi sosial, kecemasan hingga depresi. Akibatnya, kondisi ini dapat mengganggu kehidupan sehari-hari. Gangguan PBA seringkali tidak terdiagnosis karena sulit membedakannya dengan masalah emosional lain. Dikutip dari Parkinsonnewstoday, PBA terjadi ketika gangguan sistem saraf memengaruhi area otak yang mengontrol ekspresi dari emosi, seperti korteks prefontal.

Karakter Arthur Fleck dalam film Joker digambarkan tidak bisa mengontrol tawa. Dia bisa terbahak-bahak meski perasaannya sedang emosi, sedih atau gundah. Apa benar Pseudobulbar Affect memiliki gejala khas seperti yang dialami Joker?

Meneruskan catatan Antara, Dokter Merry Dame Cristy Pane dari Alodokter menerangkan, pseudobulbar affect (PBA) adalah gangguan pada sistem saraf yang membuat seseorang tiba-tiba tertawa atau menangis tanpa dipicu sebab apapun.

“Perubahan emosi yang tiba-tiba ini sering membuat penderitanya merasa malu, cemas, mengalami depresi, hingga mengisolasi diri dari lingkungan”.

Gejala yang sering dialami penderita PBA di antaranya bisa tiba-tiba menangis atau tertawa. Menurut Merry, penderitanya bisa mengeluarkan reaksi yang berkebalikan dengan perasaannya, entah tertawa saat merasa sedih atau menangis ketika gembira. Penderita PBA juga biasanya menangis atau tertawa dalam durasi yang lebih lama dari orang normal.

Tak hanya itu, ekspresi wajah, lanjutnya, tidak sesuai dengan emosi dan dia bisa mendadak berubah marah-marah atau frustrasi.

WASPADA TERHADAP RISIKO PBA

Apakah PBA termasuk penyakit langka? Tidak juga. Di Indonesia, gangguan mental ini mungkin terdengar asing, malah bisa dihitung jari yang mengetahuinya. Dikutip dari pbainfo.org, Amerika Serikat memiliki catatan sejarah berebeda. Pengidap PBA di negeri Paman Sam tersebut berjumlah mencapai dua juta orang. Sedangkan pengidap gejala yang mirip PBA lebih banyak lagi, yaitu sampai enam juta orang!

Masih dari sumber tersebut, faktor risikonya cukup segmented. Artinya, hanya segelintir orang yang berpotensi mengidap PBA. Semisal pernah mengalami trauma otak (seperti yang dialami Arthur sejak kecil). Selain itu, bisa juga karena awalnya dipicu oleh penyakit stroke, alzheimer, multiple sclerosis, demensia, dan parkinson.

Selain PBA, Joker Pun Alami Skizofrenia

Penggemar DC Comics tentunya sudah hafal dengan tingkah Arthur Fleck yang kerap berdelusi. Delusi adalah jenis gangguan mental di mana penderitanya tidak dapat membedakan kenyataan dan imajinasi, sehingga ia meyakini dan bersikap sesuai dengan hal yang ia pikirkan. Hal ini bukan sengaja ia lakukan.

Alih-alih sadar, pengidap skizofrenia mengalami kesulitan untuk membedakan mana kehidupan nyata dan khayalan semata. Itu mengapa, Arthur sering kali berdelusi dengan ‘skenario’ karangannya sendiri. Seperti mengencani wanita atau menjadi komika sukes hingga akrab dengan tokoh selebriti Murray Franklin.

Gangguan delusi ini pun dibagi ke dalam beberapa jenis. Dalam film Joker, kemungkinan besar ia mengalami waham kebesaran (grandiose). Dicirikan, penderita skizofrenia dengan delusi grandiose merasa punya rasa kekuasaan, identitas, kecerdasan yang membumbung tinggi. Bahkan meyakini bahwa dirinya sangat bertalenta. Mirisnya lagi, penderita juga sering berkhayal punya relasi khusus dengan public figure hebat. Padahal kenyataannya tidak demikian.

Jadi menurut saya Pseudobulbar Affect sulit untuk dicegah. Bagi orang yang menderita penyakit ini, pencegahan yang dapat dilakukan adalah untuk menghindari munculnya episode menangis dan tertawa tanpa sebab yang jelas. Episode tersebut dapat dikontrol dengan mengonsumsi obat-obatan yang diberikan oleh dokter serta menjalani terapi. Dengan begitu, penderita PBA dapat beradaptasi dengan kondisinya dan bisa tetap menjalani aktivitas sehari-hari secara normal.

DAFTAR PUSTAKA
https://mojok.co/terminal/author/Syifa-Ratnani-Faradhiba-Jane/ Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti: Joker bukan orang baik yang tersakiti Stop Bermental Korban!.
https://hellosehat.com/hidup-sehat/psikologi/delusi-dan-halusinasi-apa-bedanya/
https://www.alodokter.com/pseudobulbar-affect-pba

3 Likes