© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Faktor-faktor apa yang mempengaruhi Kecemasan Berkomunikasi ?

Kecemasan berkomunikasi

Kecemasan berkomunikasi adalah situasi yang terancam, tidak menyenangkan yang diikuti oleh sensasi fisik, psikis akibat kekhawatiran karena tidak mampu menyesuaikan atau menghadapi situasi saat berkomunikasi tanpa sebab yang pasti, yang muncul sebelum atau selama berkomunikasi.

Faktor-faktor apa yang mempengaruhi Kecemasan Berkomunikasi ?

Kecemasan komunikasi yang dialami individu dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut DeVito, (2001), faktor yang mempengaruhi meningkatnya kecemasan komunikasi yaitu:

  • Degree of Evaluation
    Semakin tinggi individu merasa dirinya sedang dievaluasi, maka kecemasan akan semakin meningkat.

  • Subordinate Status
    Saat individu merasa bahwa orang lain memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik atau pengetahuan yang jauh lebih luas darinya, maka kecemasan berkomunikasi akan semakin meningkat.

  • Degree of Conspicuousness
    Semakin menonjol seorang individu, maka kecemasan berkomunikasi akan semakin tinggi. Inilah alasan mengapa orang yang berpidato di antara khalayak ramai, akan lebih cemas dibandingkan mereka yang berbicara dalam sebuah kelompok kecil.

  • Degree of Unpredictability
    Semakin banyak situasi tak terduga, maka semakin besar tingkat kecemasan.

  • Degree of Dissimilarity
    Saat individu merasakan sedikit persamaan dengan teman bicaranya, maka individu tersebut akan merasakan kecemasan berkomunikasi.

  • Prior Success and Failures
    Keberhasilan atau kegagalan individu di satu situasi berpengaruh terhadap respon individu pada situasi berikutnya.

  • Lack of Communication Skills and Experience
    Kurangnya kemampuan dan pengalaman akan menyebabkan kecemasan berkomunikasi, terutama jika tidak berusaha untuk meningkatkan kemampuannya.

Kecemasan komunikasi yang dialami individu dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Merujuk pada pendapat McCroskey (1984), penyebab timbulnya kecemasan komunikasi antara lain :

  1. Heredity (Keturunan)
    Faktor keturunan dapat menimbulkan kecemasan pada diri seseorang. Proses pembelajaran yang diterima dari orang tua akan mempengaruhi sikap seseorang. Dalam hal ini, artinya seseorang akan mengadopsi nilai-nilai yang diberikan orang tua, misalnya seseorang yang dididik dengan pola asuh yang tidak memberikan kebebasan dalam berpendapat, kemungkinan besar akan menerapkan hal yang sama pada generasi dibawahnya.

    Sebaliknya, seseorang yang tumbuh dewasa dalam pola asuh yang memiliki kebebasan dan keterbukaan dalam mengemukakan pendapat, akan dapat membentuk generasi yang aktif.

  2. Environment (Lingkungan)
    Individu yang berada dalam lingkungan baik itu keluarga, teman ataupun masyarakat yang cenderung merasa cemas ketika melakukan komunikasi akan dapat memiliki kecenderungan untuk mengalami kecemasan dalam melakukan komunikasi.

  3. Reinforcement (Penguatan)
    Kecemasan komunikasi dipengaruhi oleh seberapa sering individu mendapat penguatan untuk melakukan komunikasi dari lingkungan sekitarnya. Individu yang menerima reinforcement positive dalam komunikasi akan dapat mengurangi kecemasan komunikasi, sedangkan individu yang jarang diberikan kesempatan untuk melakukan komunikasi dan tidak didorong untuk berkomunikasi akan mengembangkan sikap negatif mengenai komunikasi sehingga muncul kecemasan komunikasi.

    Reinforcement adalah proses belajar, individu yang belajar mengembangkan komunikasi akan dapat mengurangi kecemasan komunikasi dibandingkan individu yang tidak belajar untuk mengembangkan komunikasi yang akan dilakukan.

  4. Communication Situasion (Situasi Komunikasi)
    Situasi komunikasi yang dialami seseorang dapat menjadi pemicu timbulnya kecemasan. Situasi formal merupakan situasi dimana seseorang cenderung akan mengalami kecemasan komunikasi.

    Seseorang yang mampu berkomunikasi dengan baik ketika berada dalam situasi informal seperti mengobrol dengan temannya, belum tentu dapat melakukan komunikasi dengan baik ketika berada dalam situasi formal seperti di dalam kelas, pidato dihadapan umum, rapat dan situasi-situasi formal lainnya.

  5. Evaluation (Penilaian)
    Dalam situasi komunikasi tertentu seseorang merasa bahwa dirinya akan dinilai oleh orang lain, hal tersebut dapat menimbulkan kecemasan. Penilaian dapat mengangkat dan menjatuhkan harga diri seseorang. Umumnya banyak pandangan yang melihat bahwa penilaian dapat menjatuhkan harga diri seseorang.

    Pikiran yang sering muncul ketika pembicaraan yang dilakukan akan mendapat penilaian, misalnya “Bagaimana bila tidak ada orang yang mendengarkan pembicaraan saya? Bagaimana kalau saya terlihat bodoh dihadapan banyak orang? Bagaimana bila saya dipermalukan oleh orang lain?”.

    Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan yang ditakutkan muncul dari persepsi diri sendiri daripada dalam kenyataannya.

  6. Skill acquisition and Experience (Kemampuan dan Pengalaman)
    Kurangnya kemampuan serta pengalaman dalam komunikasi dapat menyebabkan seseorang tidak tahu apa yang harus dilakukan sehingga menimbulkan kecemasan. Seseorang tidak tahu bagaimana untuk memulai pembicaraan dan apa yang harus dibicarakan. Sehingga untuk mengatasi kecemasan komunikasi, maka diperlukan latihan dan pengalaman.

    Pengetahuan tentang komunikasi akan memberikan kemampuan seseorang dalam memulai, melanjutkan ataupun mengakhiri pembicaraan sedangkan dengan berlatih dapat memberikan pengalaman.

1 Like

Kecemasan dalam komunikasi tidak muncul dengan begitu saja, asal mula munculnya kecemasan komunikasi interpersonal pada individu disebabkan oleh beberapa faktor. Secara garis besar dijelaskan dalam Encyclopedia of Communication and Information (2002) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan komunikasi interpersonal yaitu:

  • Novelty

    Situasi yang baru dapat menjadi situasi yang sulit untuk membangun sebuah hubungan. Situasi yang seperti inilah yang dapat menyebabkan kecemasan dalam menghadapi suatu hal yang baru. Situasi baru dapat menghalangi seseorang untuk nyaman dalam berkomunikasi dengan orang lain.

  • Formality

    Situasi formal berhubungan dengan perilaku yang sangat ditentukan. Pada situasi ini perilaku yang ditentukan dianggap sesuai dan ada sedikit kebebasan untuk penyimpangan dari mereka.

  • Subordinate status

    Subordinate status terjadi ketika individu merasa bahwa orang lain memilki kemampuan komunikasi yang lebih baik daripada dirinya, sehingga kecemasan komunikasi interpersonal yang dialami individu tersebut semakin meningkat.

  • Conspicuousness

    Individu yang “menonjol” memiliki kecemasan komunikasi yang tinggi. Istilah “menonjol” merupakan individu yang memiliki ciri khas tertentu misalnya, orang yang berpidato di depan orang banyak akan merasa lebih cemas dibandingkan ketika berbicara di sebuah kelompok kecil.

  • Unfamiliarity

    Unfamiliarity merupakan situasi ketika individu menghadiri sebuah pertemuan dan hanya mengetahui satu atau dua orang saja, semakin banyak orang asing dan situasi disekitar, maka semakin seseorang merasa khawatir.

  • Dissimilarity

    Dissimilarity terjadi ketika individu memiliki ketidaksamaan dengan lawan bicaranya. Munculnya ketidaksamaan dapat memicu meningkatnya kecemasan pada individu. Sebagian besar berbicara dengan orang yang memiliki kesamaan akan lebih mudah daripada berbicara dengan orang yang berbeda.

  • Excessive attention

    Sebagian besar orang tidak menyukai orang lain memperhatikan dirinya. Perhatian yang berlebihan, seperti menatap individu atau menggali pikiran pribadi individu dapat menyebabkan kecemasan komunikasi meningkat tajam.

  • Evaluation from others

    Semakin tinggi individu merasa sedang dievaluasi, maka kecemasan akan semakin meningkat.

Selain itu, McCroskey menambahkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kecemasan komunikasi interpersonal pada individu, yaitu :

  • Kurangnya kemampuan dan keterampilan komunikasi

    Individu akan sulit berkomunikasi dengan efektif apabila keterampilan komunikasi yang dimilikinya kurang, apabila individu kurang berpengalaman dalam menjalin komunikasi interpersonal, individu tersebut akan lebih mudah cemas ketika menghadapi situasi yang sama.

  • Tingkat evaluasi

    Sifat komunikasi yang evaluatif cenderung membuat seseorang lebih cemas, misalnya saat wawancara melamar pekerjaan. Semakin besar perasaan dievaluasi, maka kecemasan akan semakin meningkat.

  • Status yang lebih rendah

    Individu merasa bahwa orang lain merupakan komunikator yang lebih baik dan tahu lebih banyak daripada diri sendiri, hal tersebut dapat meningkatkan kecemasan. Berpikir positif tentang diri sendiri dan meningkatkan keterampilan dapat membantu mengurangi perasaan cemas.

  • Tingkat kepastian

    Tingkat kepastian berkaitan dengan tidak teramalkan suatu situasi yang memungkinkan individu untuk merasa cemas, misalnya dalam situasi yang baru atau berbicara dengan orang yang tidak dikenal.

  • Tingkat kesamaan

    Perbedaan yang muncul ketika berbicara dengan teman bicara cenderung menimbulkan kecemasan, dengan memberikan perhatian pada kesamaan yang dimiliki maka tingkat kecemasan akan menurun.

  • Jumlah kelompok

    Individu cenderung merasa lebih cemas apabila berbicara dalam kelompok besar daripada kelompok kecil karena adanya perasaan yang membebani bahwa lebih banyak orang yang memperhatikan dirinya.

  • Pengalaman kegagalan dan kesuksesan

    Pengalaman masa lalu akan mempengaruhi respon seseorang apabila menghadapi situasi yang sama. Pengalaman keberhasilan seseorang dalam menjalin komunikasi akan menolong dalam memberikan respon yang tepat saat menjalin komunikasi di waku berikutnya, sedangkan pengalaman kegagalan akan menimbulkan rasa pesimis dan cemas dalam menjalin komunikasi dengan orang lain.

Pendapat yang sama diungkapkan oleh McCroskey, yang menyebutkan beberapa penelitian pembentukkan tingkat kecemasan komunikasi pada individu dipengaruhi oleh jabatan atau pekerjaan seseorang, kedudukan atau pilihan sekelompok orang, kedudukan seseorang dikelasnya, rendahnya interaksi, sebaik apa tingkat penghargaan diri seseorang (self-esteem), dan penyingkapan diri.

Menurut Heider, kemampuan individu termasuk kemampuan komunikasi, tidak hanya ditentukan oleh masalah fisik dan keterampilan semata, akan tetapi dapat pula dipengaruhi oleh kepercayaan diri. Menurut Bandura, ada keterkaitan antara kecemasan dengan kepercayaan diri. Pendapat lain dikemukakan oleh Jalaludin Rakhmat (2007) bahwa salah satu faktor individu mengalami kecemasan komunikasi interpersonal adalah kepercayaan diri yang rendah. Sejalan dengan hal tersebut, Laxermenyatakan bahwa rendahnya kepercayaan diri pada individu menyebabkan individu cenderung untuk melihat kelemahan-kelemahan yang dimilikinya dan menganggap sesuatu yang mengganggu.

2 Likes

Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kecemasan berkomunikasi , antara lain faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal kecemasan berkomunikasi dapat dilihat dari faktor-faktor yang dinyatakan oleh Miller (2002). Miller (2002) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi kecemasan berkomunikasi adalah sebagai berikut:

  • Lack of preparation
    Dalam hal ini, tingkat kecemasan yang muncul dalam diri individu dipengaruhi oleh kesiapan individu dalam mempersiapkan ataupun melakukan presentasi. Semakin sering individu mempersiapkan diri, maka tingkat CA yang dimilikinya menurun.

  • Lack of speaking skills
    Kemampuan berbicara merupakan modal utama yang harus dimiliki individu dalam berkomunikasi dan berinteraksi. Salah satu contohnya adalah presentasi. Apabila individu tidak memiliki skill dalam berkomunikasi

  • Negative reinforcement from previous communication efforts
    Pengalaman individu yang gagal menjalankan suatu tugas sebelumnya akan menentukan sikap individu dalam melakukan tugas berikutnya.

  • Poor role models from which communication was learned
    Tidak adanya individu yang berkompeten untuk dijadikan contoh atau untuk ditiru, membuat individu dapat dengan mudah mengalami kecemasan dalam berkomunikasi.

Sedangkan faktor internal kecemasan berkomunikasi, terdapat dalam faktor yang dikemukakan oleh McCroskey (1977). McCroskey (1977) menunjukkan bahwa terdapat dua faktor psikologi dalam CA yaitu emosi dan motivasi.

Mengacu pada faktor-faktor kecemasan berkomunikasi yang dikemukakan oleh McCroskey, Thaher (2005) melakukan penelitian tentang kecemasan berkomunikasi dan menggolongkan faktor-faktor CA tersebut menjadi 3 kategori atau golongan sebagai berikut:

  • Psychological factors
    Yang termasuk di dalam psychological factors adalah emotion , self efficay , attitude, fear, dan motivation

  • Instructional factors
    Yang termasuk di dalam instructional factors adalah goals, teacher, method, text , time, intensity, dan means of evaluation .

  • Sosiocultural factors
    Yang termasuk di dalam sosiocultural factors adalah acculturation , sosial distance , second versus foreign language learning dan culturally accepted thought.

1 Like

Beberapa faktor yang mempengaruhi kecemasan komunikasi diantaranya:

  • Kepercayaan Diri

    Kepercayaan diri merupakan keyakinan terhadap kemampuan dan kelebihan yang dimiliki untuk mencapai berbagai tujuan hidupnya dan diwujudkan dalam tingkah lakunya sehari-hari. Kepercayaan diri diasumsikan dapat mempengaruhi kecemasan dalam berkomunikasi. Individu yang merasa rendah diri akan sulit mengemukakan pendapatnya pada orang lain dan memilih untuk menghindar dari berbicara didepan umum (Wahyuni, 2014).

    Penelitian yang dilakukan oleh Wahyuni (2014) menunjukkan adanya hubungan antara kepercayaan diri dengan kecemasan berbicara di depan umum yang sangat signifikan. Hal ini menunjukkan semakin tinggi kepercayaan diri seseorang maka tingkat kecemasannya akan semakin rendah (Wahyuni, 2014).

  • Usia

    Bourish dan Allen (1992) membahas perbedaan kecemasan komunikasi antara siswa sekolah dasar, sekolah menengah dan mahasiswa dan ditemukan bahwa mahasiswa mengalami kecemasan komunikasi lebih sedikit. Penelitian pada pendidikan yang lebih tinggi menyebutkan bahwa siswa yang lebih tua berbicara lebih sering dibandingkan dengan yang lebih muda (Elias, 1999).

    Dewaele, Petrides dan Furnham juga menemukan korelasi negatif yang signifikan antara usia dan skor CA pada orang dewasa yang menguasai beberapa bahasa yang mengindikasikan bahwa orang dengan usia yang lebih tua mengalami kecemasan komunikasi yang lebih rendah (Dewaele et al, 2008).

  • Jenis Kelamin

    Pria dan wanita berbeda secara psikologis dalam cara mereka bertindak, dari gaya mereka berkomunikasi sampai cara mereka berusaha untuk mempengaruhi orang lain. Penelitian akademik menunjukkan perbedaan besar dalam karakteristik percakapan dan sifat di jenis kelamin. Penelitian telah menunjukkan bahwa, secara umum, perempuan lebih sosial-emosional dalam interaksi mereka dengan orang lain, sedangkan laki-laki lebih mandiri dan tidak emosional (Merchant, 2012).

  • Etnis

    Budaya mengandung norma dan nilai yang menjadi standar berinteraksi yang telah dibangun dari generasi ke generasi melalui proses komunikasi yang panjang. Perilaku kita sangat dipengaruhi oleh budaya tempat kita tinggal. Bila budaya yang dimiliki beraneka ragam, akan beraneka ragam pula praktik komunikasinya (Zakiah, 2005).

    Untuk menggambarkan jenis kecemasan tentang komunikasi, Neuliep dan McCroskey (1997) pertama kali memperkenalkan konsep ketakutan tentang komunikasi antarbudaya, “ketakutan atau kecemasan terkait dengan interaksi nyata atau diantisipasi dengan orang-orang dari kelompok yang berbeda, terutama yang berbeda budaya atau etnis kelompok”. Dalam proses komunikasi antarbudaya, etnosentrisme diasumsikan mempengaruhi bagaimana individu berkomunikasi dengan orang lain dari kelompok budaya yang berbeda. Etnosentrisme tinggi dapat mengakibatkan kesalahan persepsi dari orang-orang dari berbagai budaya dan salah tafsir dari perilaku mereka (Lin & Rancer, 2003).

  • Self-Esteem (Harga Diri)

    Self-esteem adalah adalah perasaan individu mengenai harga diri. Individu dengan harga diri yang rendah cenderung memiliki pandangan yang lebih negatif pada kehidupan, merasa ditolak lebih cepat, dan pengalaman sukses yang kurang daripada individu dengan harga diri yang tinggi (Pearson et al. 2011)