Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kesejahteraan hidup atau psychological well-being seseorang ?

kebahagiaan

(Arisha Yonna Tanu) #1

kesejahteraan hidup

Psychological well-being adalah sebuah kondisi dimana individu memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri dan orang lain, dapat membuat keputusan sendiri dan mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat menciptakan dan mengatur lingkungan yang kompatibel dengan kebutuhannya, memiliki tujuan hidup dan membuat hidup mereka lebih bermakna, serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan dirinya.

Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kesejahteraan hidup atau psychological well-being seseorang ?


(Amalia Laisa) #2

Terdapat beberapa faktor yang terkait dengan kesejahteraan hidup atau psychological well being seseorang, yaitu :

1. Demografis

Ryff dan Singer menyatakan bahwa psychological well being berkaitan dengan faktor demografis yaitu usia, jenis kelamin, kelas sosial dan latar belakang budaya.

  1. Usia

    Penelitian yang dilakukan oleh Ryff (1989) ditemukan adanya perbedaan tingkat psychological well-being pada orang dari berbagai kelompok usia (Ryff, 1989; Ryff & Keyes,1995; Ryff & Singer, 1998). Individu dalam usia dewasa awal (young) memiliki skor tinggi dalam dimensi pertumbuhan pribadi, penerimaan diri, dan tujuan hidup sementara pada dimensi hubungan positif dengan orang lain, penguasaan lingkungan, dan otonomi skor rendah (Ryff dalam Ryan & Deci, 2001).

    Tiga kelompok umur, yaitu dewasa muda, dewasa menengah dan dewasa akhir terdapat perbedaan psychological well being khususnya pada penguasaan lingkungan, dimensi pertumbuhan pribadi, dimensi tujuan hidup dan dimensi otonomi (Ryff & Singer, 1996). Dewasa menengah menunjukkan well being yang lebih besar daripada yang lebih tua dan orang dewasa muda di beberapa area tetapi yang lain tidak. Orang dewasa menengah lebih otonom daripada orang dewasa muda tetapi kurang bertujuan dan kurang terfokus pada dimensi pertumbuhan pribadi yang berorientasi masa depan mengalami penurunan. Penguasaan lingkungan, di sisi lain, meningkat antara dewasa menengah dan dewasa akhir. Penerimaan diri relatif stabil untuk semua kelompok umur (Ryff & Singer, 1989).

  2. Jenis Kelamin

    Hasil penelitian Ryff (1989) menyatakan bahwa dalam dimensi hubungan dengan orang lain atau interpersonal dan pertumbungan pribadi, wanita memiliki nilai signifikan yang lebih tinggi dibanding pria karena kemampuan wanita dalam berinteraksi dengan lingkungan lebih baik dibanding pria.Keluarga sejak kecil telah menanamkan dalam diri anak laki-laki sebagai sosok yang agresif, kuat, kasar dan mandiri, sementara itu perempuan digambarkan sebagai sosok yang pasif dan tergantung, tidak berdaya, serta sensitif terhadap perasaan orang lain dan hal ini akan terbawa sampai anak beranjak dewasa.

    Secara keseluruhan laki-laki dan perempuan memiliki well being cukup mirip, tetapi perempuan memiliki hubungan sosial yang lebih positif. Tetapi pada dimensi lain tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara wanita dan laki-laki dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan pekerjaan yang lebih baik (Ryff & Singer, 1998). Teori life-span menyatakan perbedaan jenis kelamin, meskipun baru-baru ini kritik telah menekankan bahwa perkembangan wanita kurang terikat pada individualisme dan otonomi dan lebih fokus pada hubungan interpersonal daripada laki-laki (Gilligan, 1982).

  3. Tingkat Pendidikan

    Pendidikan menjadi satu faktor yang dapat mempengaruhi psychological well-being. Semakin tinggi pendidikan maka individu tersebut akan lebih mudah mencari solusi atas permasalahan yang dihadapinya dibanding individu berpendidikan rendah. Faktor pendidikan ini juga berkaitan erat dengan dimensi tujan hidup individu (Ryff, Magee, Kling & Wing, 1999).

    Orang dengan pendidikan tinggi memiliki dimensi tujuan hidup dan dimensi pertumbuhan pribadi yang lebih tinggi daripada orang dengan tingkat pendidikan yang rendah (Ryff & Singer, 1996). Well being lebih besar pada pria dan wanita dengan pendidikan lebih tinggi dan pekerjaan yang lebih baik (Ryff & Singer, 1998). Memang, menjalani kerja yang lama dipandang sebagai pusat kesejahteraan bagi pria dan sekarang diakui sebagai sumber penting well being bagi perempuan juga, memberikan rasa independensi dan kompetensi selain dari tugas keluarga. Meskipun berpotensi memunculkan stres, banyak wanita tengah baya berkembang di peran ganda (Antonucci & Akiyama, 1997; Barnett, 1997).

  4. Status Sosial Ekonomi

    Ryff mengemukakan bahwa status sosial ekonomi berhubungan dengan dimensi penerimaan diri, tujuan hidup, relasi positif dan pertumbuhan diri. Perbedaan status sosial ekonomi dalam psychological well-being berkaitan erat dengan kesejahteraan fisik maupun mental seseorang. Individu dari status sosial rendah cenderung lebih mudah stress dibanding individu yang memiliki status sosial yang tinggi (Adler, Marmot, McEwen, & Stewart, 1999).

  5. Budaya

    Ryff (1995) mengatakan bahwa sistem nilai individualisme atau kolektivisme memberi dampak terhadap psychological well-being yang dimiliki suatu masyarakat. Budaya barat memiliki nilai yang tinggi dalam dimensi penerimaan diri dan otonomi, sedangkan budaya timur yang menjunjung tinggi nilai kolektivisme memiliki nilai yang tinggi pada dimensi hubungan positif dengan orang lain.

    Ryff dan Singer (1996) menemukan adanya perbedaan budaya Barat dan Timur yang memberikan pengaruh pada psychological well being. Dimensi yang lebih berorientasi pada diri (seperti penerimaan diri dan dimensi otonomi) lebih menonjol dalam konteks budaya Barat. Sementara dimensi yang berorientasi pada orang lain (seperti hubungan positif dengan orang lain) lebih menonjol pada budaya Timur.

    Secara umum, variabel-variabel demografis ini hanya berperan sedikit dalam variasi keadaan well being seseorang (hanya sekitar 3- 24%) dari keseluruhan faktor-faktor yang menentukan keadaan well being seseorang. Oleh karena itu, faktor-faktor demografis ini tidak terlalu signifikan dalam menentukan psychological well being seseorang (Ryff, 1989).

    Ryff (1995) mengatakan bahwa sistem nilai individualisme atau kolektivisme memberi dampak terhadap psychological well-being yang dimiliki suatu masyarakat. Budaya barat memiliki nilai yang tinggi dalam dimensi penerimaan diri dan otonomi, sedangkan budaya timur yang menjunjung tinggi nilai kolektivisme memiliki nilai yang tinggi pada dimensi hubungan positif dengan orang lain.

2. Kepribadian

Schmutte dan Ryff (1997) telah melakukan penelitian mengenai hubungan antara 5 tipe kepribadian (the big five traits) dengan dimensi-dimensi psychological well being. Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu yang termasuk dalam kategori extraversion, conscientiousness dan low neuroticism mempunyai skor tinggi pada dimensi penerimaan diri, penguasaan lingkungan dan keterarahan hidup. Individu yang termasuk dalam kategori openess to experience mempunyai skor tinggi pada dimensi pertumbuhan pribadi; individu yang termasuk dalam kategori agreeableness dan extraversion mempunyai skor tinggi pada dimensi hubungan positif dengan orang lain dan individu yang termasuk kategori low neuroticism mempunyai skor tinggi pada dimensi otonomi.

3. Religuisitas

Penelitian yang dilakukan oleh Koening, Kvale, dan Ferrel (1998) menunjukkan bahwa individu yang memiliki tingkat religius tinggi akan menunjukkan sikap yang lebih baik, lebih merasa puas dalam hidup dan hanya sedikit mengalami rasa kesepian. Hal ini didukung oleh penelitian Coke (1992); Walls & Zarit (1991) bahwa individu yang merasa mendapatkan dukungan dari tempat peribadatan mereka cenderung mempunyai tingkat psychological well being yang tinggi dan merasa lebih puas terhadap hidupnya. Sehingga para ahli menyimpulkan bahwa religiusitas mempunyai hubungan yang kuat dengan psychological well being (Papalia et. al., 2002).

4. Dukungan Sosial

Dukungan sosial dapat membantu perkembangan pribadi lebih positif maupun memberi support pada individu dalam menghadapi masalah hidup sehari-hari. Individu dewasa, semakin tinggi tingkat interaksi sosialnya semakin tinggi pula tingkat psychological well beingnya, sebaliknya individu yang tidak mempunyai teman dekat cenderung mempunyai tingkat psychological well being yang rendah. Ryff (1995) mengatakan bahwa pada enam dimensi psychological well being, wanita memiliki skor yang lebih tinggi pada dimensi hubungan positif dengan orang lain daripada pria. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan sosial merupakan salah satu faktor yang penting terhadap psychological well being wanita.