EGOISME DI SEKITAR KITA : TERKILAN DI HATI, TERKALANG DI MATA

Sumber: https://mamikos.com/info/ucapan-selamat-hari-ayah-yang-menyentuh-hati/

Kupikir aku adalah salah satu insan yang memiliki hidup lebih bahagia diantara teman-teman sebayaku. Karena semua orang menyukaiku, termasuk guruku di sekolah, bahkan adik maupun kakak kelas yang tidak terlalu kenal denganku. Atau mungkin hanya tahu ceritaku dari orang lain.

Saat aku kecil orang-orang membenciku, termasuk temanku. Aku juga tidak pernah mengerti kenapa mereka membenciku. Saat itu terjadi ibuku selalu setia menemaniku dan memberikan semangat kepadaku. Ya! ibuku, hanya ibuku!, hingga aku tidak pernah berhenti berharap akan masa depan.

Namun itu semua terus mengusikku. Tepat dimana aku lulus dari SMP aku memutuskan untuk merubah diriku menjadi seseorang yang tidak aku kenali. Tapi tidak sepenuhnya tak aku kenali, hanya saja aku hanya menunjukan apa yang aku bisa lakukan.

Saat itulah aku merasa hidupku lebih baik dari teman-temanku. Pujian demi pujian datang tiap harinya. Kuceritakan kisah kemajuanku pada keluargaku, terutama ibu. Bangga?, Tentu saja! orang tua mana yang tidak bangga melihat anaknya berprestasi?.
Alih-alih merasa bangga seorang pria yang sudah lama bersamaku membenciku. Iya benci! Aneh kan?

Di sekolah aku merasakan kebahagiaan ketika melihat temanku pulang dan pergi bersama dua sosok penting bagi mereka. Goresan hati mulai kurasakan. Tapi apa untungnya kurasakan itu? toh hidupku sudah lebih baik.

Sampai di rumah, seorang pria memainkan ponselnya dengan raut wajah yang…. yaa… kurasa itu serius. Aku pun menghampirinya.

“Hmmm, bolehkah aku sedikit bertanya?”, kataku.

“Apa?”

“Apakah kita akan terus seperti ini? tidak bisakah sedikit memperhatikanku?”

“Apa gunanya?, aku sibuk! tidak ada kebahagiaan yang kurasakan di rumah ini!”

“Memang, kalau jarang berada di rumah ini, tentu lebih bahagia di luar”. Oh tidak! aku tak sengaja melontarkannya.

“Hei!! Kau juga hanya memikirkan prestasimu di sekolah! tak pernah sedikitpun kau membuatku merasa bangga!!. Apa yang kau fikirkan?!. Hanya menyusahkanku saja!. Apa yang kau berikan padaku?! uang pun tak pernah kau hasilkan! dasar tidak berguna, hanya bisa bicara dan melawan!. Dasar DURHAKA!!!. Pekerjaanku lebih penting dari pada orang tak berguna sepertimu!”

…Aku termenung, mataku sudah tak bisa membendung lagi derasnya air yang hendak jatuh. Yang kupikir saat ini hanyalah…. ‘apa aku seperti itu?’… ‘apa selama ini aku tidak berarti baginya?’…

Kusimpan semua yang aku fikirkan. Ku putuskan untuk meminta maaf padanya terlebih dahulu.

“Maaf, aku salah…”, hanya itu yang mampu ku ucapkan. Aku tahu, rasa kecewaku tak akan pernah berarti apa-apa.

Kejadian itu terus menghantuiku… ‘apakah itu sepenuhnya salahku?’.… Pertanyaan itu terus terkalang di mata dan fikiranku. Seketika kejadian di masa lalu seolah datang kembali. Benar! dari kecil ia tak pernah menganggapku benar. Ketika aku sedih, tak sedikitpun rasa kasihan ada dihatinya untukku. Ketika aku salah, aku seolah orang yang paling bodoh di dunia ini. Ketika aku sakit, aku harus berjuang melawan rasa sakit itu sendirian. Dan anehnya, ketika aku melakukan suatu hal yang benar ia berkata “Huft, itu tidak seberapa. Aku lebih baik darimu”… Ya kalian benar, semua yang ia katakan adalah benar!! bahkan tak seorang pun berani menyangkalnya!. Hebat bukan?. Sungguh tak habis fikirku, ternyata orang yang bersilat lidah lebih ‘hebat’ dari silat bertarung. Bahkan tak sedikit pun nasihat ibuku menggertak hatinya dan meluluhkan egonya.

Kejadian itu membuat kita jarang bertegur sapa, semakin jauh, dan semakin menjauh. Namun ingatlah… Aku tak akan pernah sekalipun membencimu, kau tetaplah kebanggaanku. Meskipun kata-katamu terkilan di hati, tapi aku yakin semesta akan adil pada apa yang kita lakukan.

-TAMAT-

#LombaCeritaMini #2.0 #dictiocommunity #EgoismediSekitarKita #CeritaDiRumahAja #DiRumahaja #dirumahaja #ceritamini

5 Likes