Egoisme di Sekitar Kita: Penjajah Masa Kini

PicsArt_04-09-01.48.56
Pic by: instagram @komikmanyuls

Sore hari di taman jati asri, aku dan adikku tengah berjalan santai untuk menghilangkan kejenuhan. Aku sengaja membawa adik kesini,sebab ibu menyuruhku untuk menjaganya sebentar,mungkin ibu sedang sibuk, pikirku. Adikku terlihat senang sekali bermain kesana kemari,lalu pandanganku teralih ke seorang anak kecil yang memakai plastik di mulutnya,pikirku itu masker. Aku penasaran mengapa ia menggunakan plastik tersebut, jika ia sedang sakit bukankah lebih baik menggunakan masker?. Negeriku saat ini memang sedang mengalami suatu wabah virus, dan aku paham akan hal itu, alasannya menggunakan masker mungkin untuk menghindari virus tersebut, pikirku.

Aku langsung menghampiri anak kecil tersebut untuk menanyakan beberapa hal. “Namamu siapa dek, dan rumahmu dimana?”
tanyaku, “Namaku satria kak, rumahku di sekitar taman ini” jawabnya seraya membuka masker yg terbuat dari plastik tersebut. Aku berniat menghiburnya dengan memberikan beberapa permen yg sempat aku beli tadi saat di jalan menuju kemari. Dia mengucapkan terimakasih,ternyata dia anak yg baik dan terlihat sopan. “Dek, maskermu kok kaya gini?” tanyaku kembali , “Iya kak soalnya duitku ga cukup buat beli masker yg bagus” jawabnya, aku termenung semahal itukah harga masker di negeriku saat ini. Aku tersenyum miris saat itu, karena bagaimana pun adik ini memberiku sebuah pelajaran, bahwa “Kita boleh kekurangan harta namun jangan sampai kita kekurangan akal”.

Tak lama kami berbincang, adikku menghampiriku,sepertinya ia ingin pulang lantas aku mengakhiri pembicaraanku dengan adik tersebut, aku menepuk pundaknya sambil berpesan kepadanya “Kamu punya kekuatan dek, kekuatanmu adalah ilmu, kamu cerdas dan banyak akal walaupun kamu tahu kamu tidak bisa memiliki masker, kamu membuatnya sendiri dengan bahan seadanya, kakak pamit ya, semoga kita bisa ketemu lagi yah” kataku. “Iya kak, terimakasi banyak ya kak, ternyata masih ada orang baik seperti kakak, aku seneng bisa ngobrol bareng kakak hihihi”. Jawabnya dengan penuh senyuman.

Dari peristiwa tersebut, aku berpikir dan teringat akan suatu hal yaitu ketika aku kecil, aku sering mendengarkan dongeng anak -anak yg dibacakan oleh ayahku,yaitu dongeng “Sang kura - kura dan sang monyet yang tamak”. Dongeng tersebut cukup membuatku sadar bahwa sejatinya manusia juga bisa berlaku tamak layaknya sang monyet, ya sebut saja manusia yang serakah. Saat ini indonesiaku sedang dipenuhi oleh orang - orang tersebut yaitu orang yang tak pernah puas yang mana selalu mengambil bahkan memakan hak orang lain, terlihat miris bukan? bahkan diluar kendali.

Aku sangat geram terhadap mereka manusia serakah, bukannya bahu membahu untuk saling membantu mereka malah saling tipu menipu untuk mendapatkan keuntungan yg beribu - ribu. Mereka dengan seenaknya berbuat tanpa tahu apa akibatnya. Mereka menimbun bahan pokok dan menjual masker dengan harga yang sangat tinggi, ya itulah manusia dengan segala egonya. Aku menyadari sendiri bahwa orang orang tersebut acuh tak acuh terhadap apa yang terjadi disekitarnya. Mereka dengan seenaknya berbuat tanpa tahu akibat. Seperti para pejabat yang digaji tinggi tapi korupsi, hakim yang maha adil tapi lalai dengan suap, dan saat ini orang orang terdekat kita yang egois memanfaatkan suatu kondisi hanya untuk mencari materi.

Ada beberapa hal di negeriku ini yang sulit aku pahami, terlebih lagi soal keadilan. Aku sering sekali mendengar ocehan “Kaum miskin selalu tertindas” hal itu membuatku muak,apakah masih ada manusia yang tidak memanusiakan manusia di muka bumi ini? jawabannya masih,mereka adalah orang orang serakah yang tak pernah puas bahkan semakin beringas seolah olah mereka tidak sadar bahwa perbuatannya lebih hina daripada hewan.

Karakter tersebut sangat mirip seperti penjajah. Penjajah yang berabad - abad memberi dera dan air mata pada bangsaku, mereka yg selalu tidak puas menimbun harta,merampas segalanya dan menyiksa secara membabi buta bahkan hanya untuk kepentingan pribadinya. Mereka para penjajah memang serakah, sejatinya mereka selalu merasa kurang dan selalu ingin menguasai segalanya. Dan nampaknya penjajah tersebut terlahir kembali di negeriku, lekas pulih Indonesiaku.

#lombaceritamini #2.0 #dictiocommunity#egoisdisekitarkita #ceritadirumahaja#dirumahaja

13 Likes