Efek Radiasi Handphone terhadap Kesehatan Kepala Manusia

Handphone (HP) adalah produk teknologi yang kini dimiliki hampir merata disemua lapisan masyarakat. Bermacam Fitur dan aplikasinya yang multifungsi menambah ketergantungan manusia untuk berlama-lama dengan benda yang semakin canggih dan kini dikenal juga sebagai smartphone.

Pada gambar pertama menunjukkan dimensi posisi Handphone/Antenna pada jarak 1.8 cm dari kepala. Besar Frekuensi antena yang digunakan adalah sebesar 850 MHz, atau merupakan frekuensi terendah pada frekuensi Handphone 4G LTE di Indonesia yakni berkisar antara 850-2300 MHz. Tegangan masukan pada Antenna sebesar 45.5 volt.

Phantom/kerangka kepala yang digunakan sesuai standar nilai pengukuran SAR (Specific Absorption Rate) yang disediakan oleh Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE), International Electrotechnical Commission (IEC), dan European Committee for Electrotechnical Standardization (CENELEC). Data phantom kepala dibuat berdasarkan Magnetic Resonance Image (MRI) kepala manusia.

Pada gambar kedua dan ketiga menunjukkan hasil simulasi transfer panas pada kepala akibat radiasi medan Elektromagnet dari Antenna yang menghasilkan kenaikan suhu sebesar 0.2 Kelvin pada permukaan kepala dan 0.09 Kelvin pada kedalaman 2.1 cm terhitung dari permukaan kepala. Sedangkan pada gambar keempat menunjukkan hasil simulasi dari penyebaran radiasi medan Elektromagnet dari Antenna terhadap kepala manusia.

Handphone menggunakan daya rendah Radio Frequency (RF) ketika melakukan proses transmisi, yakni sekitar 0.1 s/d 2 watt. Sejumlah penelitian berkaitan dengan efek medan Elektromagnet dari Antenna Handphone atau RF pada aktivitas kelistrikan otak manusia, fungsi kognitif, aktivitas tidur, aktivitas jantung, dan tekanan darah pada relawan telah dilakukan dalam beberapa penelitian, dan WHO mengklaim bahwa pada skala waktu yang cepat tanpa menyebabkan pemanasan pada jaringan tubuh, efek medan radiasi dari Handphone belum terbukti berpengaruh pada kesehatan.

Namun pada penelitian lain yang ditulis dalam sebuah Jurnal Ilmiah dengan judul “Non Thermal Effect of Microwave Radiation on Human Brain“, menyebutkan bahwa efek radiasi dari radio frekuensi selain mentransfer panas, juga menyebabkan perubahan aktivitas kelistrikan pada otak.

Pengukuran dari penelitian tersebut menggunakan sebuah alat yang disebut Electroencephalography (EEG), yakni sebuah metode monitoring Electrophysiological untuk merekam aktivitas kelistrikan pada otak manusia. Selain itu pada Journal of Microscopy and Ultrastructure, yang berjudul “Effects of Electromagnetic Fields Exposure on The Antioxidant Defense System“, menyebutkan, Efek medan Elektromagnetik Radio Frequency (RF) dapat bersifat kimiawi, yang menyebabkan penurunan ukuran Molekul dalam Sel tubuh dan ketidakseimbangan didalam keseimbangan Ion tubuh. Hal ini dapat menyebabkan resiko yang dikenal dengan Reactive Oxygen Species (ROS) selama reaksi biologis. ROS dapat merusak komponen penghasil sel seperti protein, lipid dan Deoxyribonucleic Acid (DNA).

Secara alamiah manusia memiliki salah satu kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri. Kemampuan tersebut dikenal sebagai Sistem Antioksidan yang berfungsi dalam menjaga keadaan Radikal Bebas (Free Radical) tetap terkontrol dan untuk mencegah efek bahaya pada sistem Biologis manusia.

Radikal Bebas adalah molekul yang kehilangan satu buah Elektron bebasnya, atau merupakan hasil pemisahan homolitik, suatu molekul akan terpecah menjadi radikal bebas yang mempunyai Elektron tak berpasangan. Elektron memerlukan pasangan untuk menyeimbangkan nilai spinnya, sehingga molekul radikal menjadi tidak stabil dan mudah sekali bereaksi dengan molekul lain, membentuk radikal baru.

Radikal bebas berkontribusi terhadap berbagai penyakit kronis dan penyakit degeratif seperti serangan jantung, alzeimer, stroke dan kanker. Ketidakseimbangan antara jumlah Radikal Bebas yang terbentuk di dalam tubuh dengan kapasitas kemampuan antioksidan alami tubuh untuk ‘menjinakannya’ dapat menyebabkan kondisi yang disebut sebagai Oxidative Stress. Oxidative Stress terjadi jika sistem Antioksidan tidak mampu mencegah efek berbahaya dari radikal bebas, dan dapat menyebabkan kerusakan pada Sel tubuh, jaringan dan organ tubuh.

Beberapa penelitian telah melaporkan efek medan elektromagnet pada RF dapat menghasilkan Oxidative Stress pada banyak jaringan tubuh manusia. Hal ini juga berarti menunjukkan hilangnya fungsi Antioksidan alami tubuh.

Maka sudah sepatutnya kita memperlakukan alat telekomunikasi kita dengan lebih bijak, mengingat sikap kehati-hatian adalah wujud tindakan preventive (pencegahan) kita dalam menghadapi fenomena radiasi RF pada jaringan tubuh. Terutama otak sebagai instrumen pengendali manusia dan berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan.

sumber : https://warstek.com/2018/03/17/efek-radiasi-handphone-terhadap-kesehatan-kepala-manusia/