Easy Taxi, Mengapa gagal bersinar di Indonesia?

Easy Taxi merupakan sebuah aplikasi taxi online yang berbasis di Rio de Janeiro, Brazil. Aplikasi ini di luncurkan pada tahun 2012.

Easy Taxi? ya aplikasi ini sempat masuk ke Indonesia namun aplikasi online ini masih asing untuk beberapa orang di Indonesia. aplikasi ini memang kalah pamor dari para pesaing nya. Easy Taxi memang lebih mencari pasar di negara berkembang, namun nampaknya Easy Taxi tidak bisa meneruskan bisnis nya di pasar Indonesia karena beberapa faktor yang akhirnya menarik diri dari pasar Indonesia.

Sebelum menarik kesimpulany terkait dengan apakah produk tersebut berhasil atau tidak, kita bisa meng-analisa-nya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :

  • Bagaimana dengan harga layanan-nya ? Apakah harganya bersaing dengan produk sejenis ?
  • Bagaimana dengan Fitur-fiturnya ?
  • Bagaimana dengan Kualitas layanannya, termasuk juga reliability dan usability-nya ?
  • Bagaimana dengan desain produknya ?

Dari jawaban-jawaban mendetail terkait pertanyaan-pertanyaan diatas, maka kita dapat mendapatkan informasi yang mendalam terkait dengan produk itu sendiri.

Kesuksesan sebuah produk sangat tergantung dengan target yang ditetapkan oleh perusahaan, dan tiap-tiap perusahaan mempunyai target sendiri-sendiri.

Salah satu kegagalan Easy Taxi di indonesia menurut daily social adalah masalah strategi pemasaran dan kekuatan budget. Operasional Easy Taxi di Indonesia tidak bisa seagresif GrabTaxi dan tidak memiliki budget yang cukup untuk bersaing dengan GrabTaxi yang memang memfokuskan operasionalnya di kawasan ini. sebagaimana diketahui Easy Taxi banyak sekali cakupan operasinya: Argentina, Bolivia, Brazil, Chile, Colombia, Costa Rica, Ecuador, Jordan, Mexico, Panama, Peru, Saudi Arabia, Uruguay, Venezuela dan negara - negara lainnya

ya benar sekali , menurut techinasia.com

" traction was strong in Hong Kong and Indonesia, but prospects for return on investments were low given operational costs and competition. "

Memang daya tarik nya besar , namun prospek dalam pengembalian dana investasi mereka rendah , mengingat biaya operational yang di tinggi dan persaingan yang ketat.

Selain itu di lihat dari keadaan masyarakat indonesia memiliki tantangan sendiri. “Berbeda dengan Singapura, pengemudi taksi di sana memiliki smartphone bahkan bisa dua. Di Indonesia banyak pengemudi taksi yang belum menggunakan smartphone, tidak tahu caranya. Jadi kami harus memberikan pelatihan, termasuk menyediakan smartphone untuk mereka. Kami bantu menyediakan smartphones bagi pengemudi dengan harga yang terjangkau oleh mereka,” ujar Managing Director Easy Taxi Indonesia Usman Lodhi melalui dailysocial.id

Nah mungkin hal itulah yang membuat pihak EasyTaxi membuat keputusan untuk menutup layanan di indonesia Dan lebih berfokus kedalam negara yang di anggap lebih menguntungkan.

salah satu kegagalan yang di kutip pada rimanews.com

“Perusahaan ini tidak berbadan hukum dan tidak membayar pajak. Kerugian negara untuk satu aplikasi mencapai Rp12 triliun per tahun,” kata Gigih kepada wartawan di Gedung Bareskrim.
Karena menurut Undang-Undang yang ditabrak oleh perusahaan asing ini yaitu, Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Umum, Peraturan Pemerinta No.83 Tahun 2012 tentang Penyelenggara Sistem dan Transaksi Elektronik, Permen Kominfo Nomor 21 tahun 2013 tentang Penyelenggara Jasa Penyediaan Konten pada Jaringan Bergerak Seluler dan Jaringan Tetap Lokal Tanpa Kabel dengan Mobilitas Terbatas dan Peraturan Pemerintag Nomor 74 tentang Angkutan Jalan.