Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Hening, sepi, sunyi, mencekam. Apakah yang sedang terjadi dengan bumi pertiwiku? Tak ku dapati keramaian lagi bgaimana ramainya kota ini, hiruk pikuk kemacetan di setiap hari, kini itu menjadi sesuatu yang sangat ku rindukan. Kemana mereka pergi, tak ku dapati lagi keramaian itu. Pagiku sunyi, malamku kelabu. Adakah yang bisa memberitahukan kepadaku. Sedang apa dan apa yang terjadi dengan bumiku.

Ku dengar, ada satu hal yang membuat kekosongan ini, ku dengar ada yang membuat bumiku menjadi hampa seperti ini. Siapa kau? Apa hakmu menjadikan bumiku seperti ini? Kau tarik kebahagiaan kami, kau ambil tawa kami, kau curi kedamaian kami. Siapa kau? Bolehkah aku membunuhmu? Bolehkah aku menembakmu? Bisakah aku mencekik lehermu? Apa yang sudah kau lakukan, tak ku dapati wujudmu, lalu mengapa kau seganas ini dengan menghancurkan saudara-saudaraku, teman-temanku, keluargaku?

Bisakah kau temui aku, aku ingin sedikit bernegosiasi denganmu, aku ingin bercerita sedikit denganmu. Apa tujuanmu melakukan ini? Katakan sedikit padaku? Bumiku berduka, Duniaku tak lagi bahagia. Lihatlah, tidakkah kau kasihan melihat kami, melihat mereka dengan wajah ketakutan. Dengan wajah yang pasrah. Kembalikan senyum kami, kembalikan tawa kami.

Bagaimana mungkin kau tega memisahkan kami dengan keluarga kami? Tidakkah kau memiliki keluarga juga? Bisakah kau berpisah dengan keluargamu? Kau tari semuanya kebahagian mereka, kebahagiaan kami. Siapa kau sebenarnya, mengapa setega itu? Kami tunduk dalam ketakutan yang setiap saat berfikir untuk memikirkan kapankah giliran kami untuk kau singgahi.

Untukmu, jika kau ingin masuk ke dalam kehidupan kami. Masuklah dengan baik, jangan terlalu sebercanda ini. Kami tidak kuat dengan candamu. Kau ambil kehidupan kami. Kau ambil bahagia kami. Jika kau ingin berteman dengan kami, bertemanlah dengan baik, kami akan menerimamu. Tapi jangan ambil kehidupan kami untuk ikut dengan mu.

Lalu apa yang bisa kami lakukan?
Kau datang dengan begitu cepat, kau tidak mengucap salam untuk masuk ke dalam kehidupan kami, kau tak memberitahu untuk bergabung dengan dunia kami. Apa yang kau inginkan? Jika kau mengambil keluarga kami, kami tidak ingin berteman denganmu. Kami akan menjaga keluarga kami darimu. Sudah berjuta nyawa yang berjuang melawanmu. Dan sampai detik ini kau belum terkalahkan.

Dengan apa kami akan membunuhmu, kau tak pantas untuk berteman dengan kami?
Bisakah dengan Desert Eagle?
Bisakah dengan pisau rumah?
Bisakah dengan petasan?
Atau bisakah kami membunuhmu dengan panah?
Kau menyakiti kami.

Teruntuk manusia yang ada di dunia ini, yang berada dibelahan bumi manapun, baik di tepat terpencil, di kota dimanapun kalian berada. Ku harap aku tidak terlambat menyampaikan pesan ini. Mari kita coba untuk melawan dia (virus corona/ covid-19) ini, dia yang mungkin ingin berteman dengan kita namun dia tak tahu bahwa dia menyakiti kita dengan perbuatannya dia tak tahu caranya berteman dengan baik.

Kita tidak bisa membunuhnya, tapi kita bisa menghindarinya.
Mari sama-sama kita hindari dia, dengan cara mencuci tangan rutin dengan air bersih dan menggunakan air yang mengalir lebih lebih baik menggunakan sabun, menggunakan masker setiap keluar rumah, jaga jarak antar sesama. Mungkin diantara kita ada yang sedang ketakutan, ada yang sedang panik, ada yang sedang pasrah. Tapi itu semua tidak perlu, kita hanya cukup mewaspadainya. Cukup kita hindari, dia tidak akan masuk ke dalam hidup kita.

Untuk itu, jangan ada yang egois diantara kita, kita bisa melawannya dengan hati yang ikhlas, pikiran yang positif dan semangat yang tinggi. Dari berbagai berita di media bahwa virus ini tidak menyebar melalui gejala- gejala yang sudah dipaparkan oleh dokter. Melainkan orang yang sehat pun dapat terpapar virus ini seperti yang dikutip dalam detik.com, Ilmuwan China mengatakan sejumlah orang mungkin tertular sebelum menunjukkan gejala.

Berdasarkan data dari 44.000 pasien yang terkena virus corona, menurut WHO:

81% mengalami gejala ringan

14% mengalami gejala parah

5% mengalami sakit parah

Antara 1% dan 2% meninggal karena penyakit ini.

Untuk itu, marilah kita sama-sama untuk melawan virus ini, bekerja sama dalam mengembalikan keadaan seperti dulu kala dan virus ini pergi dan takkan kembali lagi.

Dalam liputan6.com Presiden Joko Widodo telah menyampaikan kepada rakyat Indonesia untuk belajar, bekerja, dan beribadah di rumah. Langkah tersebut diambil guna mengantisipasi penyebaran wabah guna untuk memutus rantai virus teesebut.

Taati anjuran pemerintah, sebab bukan hanya satu orang saja. Melainkan dikarenakan satu orang 10 orang bisa terpapar virus. Tetaplah dirumah, jangan egois terhadap hal yang menurut kalian ini hal yang sepele.

Untuk kalian yang memiliki kekayaan, harta, tahta dan jabatan, tolong jangan memborong masker yang ada di supermarket.
Untuk kalian yang kaya raya, jangan rakus untuk membeli semua bahan pokok yang tersedia.
Hidup kalian bukan cuma untuk diri kalian dan keluarga kalian sendiri saja.

Pikirkanlah sedikit tentang mereka yang tidak mempunya apa-apa untuk sekedar membeli masker. Mereka yang tidak bisa membeli bahan pokok yang banyak sebab ekonomi mereka tidak mencukupi.
Virus ini mematikan, tidak untuk yang kaya atau yang miskin. Tapi yang lebih mematikan adalah, kelaparannya orang miskin yang disebabkan merajalelanya perbuatan orang kaya.

Untuk itu, mari sama-sama kita bekerja keras, jangan ada saling menjatuhkan, dan yang kaya raya jangan rakus dengan harta yang kalian punya. Mari kita isolasi diri kita sendiri di rumah, dan tidak bepergian kemana-mana.

Mulailah untuk menyadarkan diri kalian sendiri, satu orang yang tersadar, Inshallah yang lain pun mengikuti. Jangan anggap sepele dengan wabah ini. Jika daya tubuh kalian tidak kuat, kalian akan merasakan sakitnya bertemu dengan virus ini.

Tetap di rumah saja, melakukan hal yang positif, seperti menanam bunga, membersihkan rumah, bercerita dan berkumpul dengan keluarga, menggambar, mewarnai, memasak, dan banyak lagi yang bisa kita perbuat dengan dirumah saja.

Jangan mencoba untuk tidak peduli, jangan mencoba untuk egois. Satu, dua, tiga, sepuluh, seratus maupun seribu, sejuta orang dari kita bisa selamat, jika kita patuh anjuran pemerintah.

Ingatlah kawanku, diluar sana banyak dokter-dokter yang sedang berjuang untuk membuat kita baik-baik saja. Sadarkah kalian teman, berbulan-bulan mereka tidak bertemu dengan keluarganya, mereka masih sibuk berjuang, memperjuangkan nyawa kita semua yang terkena wabah ini.

Lalu apa yang membuat kalian masih egois untuk mematuhi himbauan pemerintah??? Tidakkah kalian kasihan melihat mereka? Tidakkan kalian prihatin melihat mereka? Mereka juga manusia, sama dengan kita, bahkan kemungkinan besar mereka lebih bisa terkena dampak virus tersebut, mereka melakukan kontak langsung dengan pasien.

Dimana hati nurani kita kawan-kawan, jika kita terus egois, bagaimana virus ini akan berakhir? Tidakkah kalian kasihan dengan mereka yang tidak berjumpa dengan keluarganya. Tidak bisa berkumpul dengan keluarganya.

Untuk itu, untuk kita yang masih dalam keadaan sehat wal’afiat tetaplah di rumah. Tetaplah berkumpul dengan keluarga, nikmati nikmat yang diberikan Allah saat ini, sehingga kita masih dapat berkumpul dengan keluarga kita.

Tidak hanya dokter, pekerja lain seperti ojek online, supir angkutan umum, buruh, petani dan seluruh pekerjaan lainnya. Tidakkah kalian berfikir, banyak pekerja yang tidak bekerja disebabkan wabah ini yang terus melonjak tinggi, semakin banyak pasien-pasien baru. Masihkah kalian egois teman? Banyak pengangguran, banyak yang tiba-tiba di PHK, banyak yang tidak bisa bekerja untuk menafkahi keluarganya lagi. Miris, ayok. Bersama kita bisa melawan virus ini.
Tetap stay dirumah, lindungi keluarga kita dari virus ini, dan jangan menyebarkan virus ke orang lain.

4 Likes