Dilema Perempuan: Wanita Karier atau Ibu Rumah Tangga?

Meski di zaman sekarang banyak orang yang tak lagi mempersoalkan gender, kenyataannya hal ini masih menjadi perbincangan aktual. Apalagi soal peluang wanita yang sudah berkeluarga untuk bisa sukses berkarier atau lebih sukses dari pasangannya, karena baik pria maupun wanita dapat mengenyam pendidikan dan berkarir yang sama. Tetapi wanita juga dilema karena memiliki tanggung jawab mengurusi keluarga dan rumah tangganya. Sehingga hal ini patut dipertimbangkan oleh seorang wanita untuk menjadi wanita karir atau untuk menjadi ibu rumah tangga.

Nah menurut Youdics, lebih baik mana, menjadi wanita karier atau ibu rumah tangga? Lalu bagaimana kalau sudah menikah? Masih berkarier atau fokus ke rumah tangga?

Sumber

Jadi Wanita Karier atau Ibu Rumah Tangga?

Mau Jadi Wanita Karier yang Hebat? Lakukan 7 Hal Ini - Bisnis Liputan6.com

IBU RUMAH TANGGA LEBIH HEBAT DARI PEKERJA KARIR – PayOK

https://lifestyle.okezone.com/read/2018/05/15/196/1898722/wanita-karier-vs-ibu-rumah-tangga-manakah-yang-lebih-baik?page=2

https://www.futuready.com/artikel/family/begini-cara-mengatur-urusan-rumah-pekerjaan-dan-anak-untuk-wanita-karier/

3 Likes

menurut pandangan saya, lebih ke ibu rumah tangga. Karena ibu rumah tangga akan selalu memiliki waktu luang yang banyak untuk anaknya, sehingga focus seorang ibu untuk mendidik anak akan tercapai dengan baik, dan juga pekerjaan rumah akan terhandle dengan baik tanpa perlu mencari pembantu ataupun pengasuh anak.

Selain itu ibu rumah tangga akan sangat senang jika banyak bisa menghabiskan waktu selalu bersama anaknya, melihat anaknya tumbuh dan sehat, dan juga dapat mengenal karakter baik dari seorang anak, sehingga dapat berdampak baik dalam masa pertumbuhannya ketika kelak ia akan menjadi orang dewasa. Tetapi yang masih saya pikirkan kalau ibu selalu ada untuk anaknya, apakah ada dampak buruknya untuk si anak?

  menurut saya lebih ke wanita karir. karena dengan menjadi wanita karir, pastinya wanita dapat membantu perekonomian sehingga kebutuhan keluarga dapat dipenuhi dengan baik. Selain itu, wanita dapat terus mengembangkan potensi yang dimiliki sehingga dapat terus bermanfaat bagi orang di sekitar. tetapi waktu bagi keluarga juga berkurang dan harus dikorbankan mengingat pekerjaan professional bisa jadi butuh begitu banyak tanggung jawab dan perhatian khusus.

Menurut aku menjadi wanita karir mapun ibu rumah tangga sama-sama baik, tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang. Dapat memilih untuk menjadi wanita karir ataupun ibu rumah tangga menurut aku itu merupakan privilege, karena gak semua orang punya kesempatan untuk dapat memilih. Seperti halnya ibu yang berstatus sebagai “single mom” yang mengurusi anaknya dan juga merangkap menjadi tulang punggung keluarga. Dia tidak memiliki kesempatan untuk memilih mau menjadi ibu rumah tangga atau wanita karir, karena pastinya ia memilih untuk menjadi wanita karir demi menghidupi keluarganya.

Untuk aku pribadi dan jika aku dapat memilih, aku kepengen jadi wanita karir, tetapi berkerjanya yang dapat dilakukan dari rumah. Jadi kerja dapet, ngurusin rumah ataupun anak juga dapet. Karena menurutku perempuan memiliki penghasilan sendiri juga penting. Hal tersebut dapat membuat perempuan tidak selalu bergantung pada suaminya, bahkan bisa nambah-nambahin pemasukan. Apalagi sekarang ini juga banyak banget pekerjaan yang bisa dilakuin dari rumah, sehingga jadi bisa lebih fleksibel, seperti konsultan, pembisnis, guru les/guru online, editor, designer, baker, dll. Dan menurut aku juga didikan anak yang langsung diberikan oleh ibu atau orangtuanya sendiri itu sangat penting, karena keluarga menjadi patokan pertama dalam proses perkembangan dan pertumbuhan si anak, dan juga dapat mempererat hubungan antara ibu, ayah, dan anak itu sendiri.

Perempuan enaknya jadi ibu rumah tangga semi wanita karier, jadi ibu rumah tangga dengan maksud bisa mendidik dan menjaga anak sehingga anak bisa merasakan kasih sayang orang tua karena kalau anak diasuh oleh pengasuh anak maka anak akan tidak bisa merasakan kasih sayang orang tua karena dominannya dia diasuh oleh orang lain. Semi wanita karier ini maksudnya si perempuan membantu perekonomian keluarga saat anak-anaknya sudah beranjak dewasa karena semakin dewasa anak maka semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan, atau kalau ekonomi memang dirasa sudah cukup maka si perempuan bisa menjalani hobinya entah itu membuat dia jadi wanita karir atau tidak.

Menurutku tidak masalah jika wanita memilih untuk berkarir. Tidak ada salahnya. Tinggal bagaimana kita membicarakannya dengan pasangan kita. Kalau nanti sudah menikah, jujur aku lebih ingin memilih untuk berkarir karena aku berpikir kalau perempuan itu juga harus memiliki penghasilan sendiri atau bahkan untuk menambah pemasukan keluarga. Selain itu, kita dapat terus mengembangkan potensi yang kita miliki sehingga dapat terus bermanfaat bagi orang sekitar. Tentu dengan tetap bertanggung jawab sebagai ibu rumah tangga dimana itu sangat wajib dilakukan. Management waktu juga dibutuhkan ketika perempuan memilih untuk menjadi wanita karir dengan tetap menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga.

Wanita karir dan ibu rumah tangga sama baiknya dan sama hebatnya. Budaya patriarki yang membuat wanita jadi punya keterbatasan untuk memilih. Soal mengurus anak di rumah, harusnya hal tersebut dilakukan bersama. Kenapa hanya dibebankan kepada wanita? Ya balik lagi, karena konstruksi sosial yang sudah langgeng, perempuan cuma harus diam di rumah. Aku pribadi mau jadi wanita karir karena aku harus bisa mandiri secara finansial dan gak bergantung sama orang lain. Tapi aku juga sangat respect ke wanita yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga karena me-manage segala sesuatu di rumah tentu bukan pekerjaan yang mudah.

Menarik, sebuah isu yang dari dulu tidak ada habisnya. Menurut saya, seorang perempuan boleh menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa harus terbebani secara moral tentang kenyataan bahwa dia seorang wanita. Bila saya mengibaratkan sebagai seorang suami, saya akan membebaskan istri saya untuk bebas menentukan mau menjadi wanita karir atau hanya ibu rumah tangga. Kalau ingin menjadi wanita karir, yang bekerja/berbisnis, itu bukan suatu masalah bagi saya pribadi. Selama tidak melupakan tugas dan khakikatnya sebagai seorang istri dan ibu dari anak anak, menjadi wanita karir bukan sebuah masalah. Apabila memilih menjadi ibu rumah tangga tentu akan lebih senang karena dapat sepenuhnya merawat dan fokus kepada keluarganya. Selama yang dilakukan baik dan suami mendukung, apapun pilihannya insyaallah berkah.

Menurutku perempuan bisa menjalankan sebagai wanita karier dan ibu rumah tangga. Semua tergantung dengan manajemen waktu dan atmosfer dalam keluarga. Menjadi wanita karier bukan berarti lepas tanggung jawab menjadi ibu rumah tangga. Mereka tetap bisa menjadi ibu rumah tangga dengan versinya. Mungkin ketika menjadi wanita karier seluruh pekerjaan rumah tidak dapat dikerjakan semuanya, ada baiknya memperkerjakan asisten rumah tangga namun hanya untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu saja. Selebihnya, sehabis pulang kerja wanita karier bisa mengerjakan pekerjaan ringan, mengajari anaknya belajar dan lain-lain. Tentunya pilihan menjadi wanita karier ini lebih baiknya harus dibicarakan dengan pasangan, karena menyangkut kehidupan keluarga. Menurutku sebelum menikah, baiknya membicarakan mengenai kesediaan pasangan apabila nanti menjadi wanita karier agar nantinya dalam rumah tangga meminimalisir adanya keributan. Selain itu, apabila sudah memiliki anak yang beranjak besar, wanita karier bisa memberikan pengertian kepada anaknya akan pekerjaannya dan waktu keluarga sehingga anak tidak merasa kurang kasih sayang dan bisa memahami. Wanita karier yang juga ibu rumah tangga harus dapat mengatur waktunya dengan sebaik-baiknya.

Wah, menarik sekali kak pertanyaannya. Perbincangan mengenai wanita karier atau ibu rumah tangga tersebut masih ada hingga saat ini. Hal tersebut tidak dapat dielakkan karena hingga saat ini masih ada saja pemikiran-pemikiran tersebut. Menurut saya, perempuan bisa menjadi wanita karier dan ibu rumah tangga. Dengan menjadi wanita karier dan juga menjadi ibu rumah tangga, mereka bisa membagi waktu antara pekerjaan dan rumah tangga. Manajemen waktu dan skala prioritas yang penting disana menurut saya. Bagaimana seorang wanita harus membagi waktunya dan menyusun skala prioritas, baik sebagai pekerja dan sebagai ibu rumah tangga.

Saya sendiri kerap melihat saudara-saudara saya yang juga wanita karier dan ibu rumah tangga. Mereka bisa mengimbangi itu, walaupun masih ada bantuan dari asisten rumah tangga juga. Pada saat anak masih kecil, mungkin akan jarang bertemu dengan orang tuanya karena mereka sibuk bekerja. Menurut saya, hal tersebut tidak apa-apa asalkan pada saat weekend dan libur bisa berkumpul bersama. Setuju dengan pendapat kak @Elisa_Nur_Y_A, bahwa ketika anak besar nanti, mereka akan mengerti mengenai pekerjaan ibu dan bapaknya.

Memilih menjadi wanita karir ataupun ibu rumah tangga, keduanya sama-sama baik dan hebat. Tidak ada yang buruk. Keduanya memiliki resiko dan tanggung jawabnya masing-masing. Laki-laki dan wanita sama-sama harus independent secara keuangan, tidak bisa hanya bergantung kepada satu orang saja, karena tidak akan pernah ada yang tahu seperti apa masa depan yang akan dihadapi. Perihal mengurus anak, memasak, dan mengurus rumah sudah seharusnya dilakukan secara berdua. Tidak hanya dibebankan kepada wanita saja. Wanita bisa memilih menjadi keduanya ataupun salah satunya saja, kembali ke kesepakatan bersama dengan pasangannya.

Menurut saya, wanita bahkan bisa menjadi keduanya diwaktu bersamaan. Menjadi ibu rumah tangga dengan memiliki sebuah bisnis yang dapat di kelola dari rumah, misalnya.

Memilih untuk focus pada satu pilihan, menjadi seorang wanita karir atau seorang ibu rumah tangga pastinya memiliki kelebihan dan kekurangan. Perempuan yang memilih untuk focus berkarir setelah menikah pastinya tidak memiliki banyak waktu untuk anak-anaknya ataupun mengurus pekerjaan rumah sebab mereka sendiri memiliki tanggung jawab lain yaitu bekerja. Sebagian dari mereka yang focus berkarir biasanya beranggapan bahwa mereka ingin menjadi sosok perempuan yang mandiri untuk memperoleh penghasilan demi memenuhi kebutuhannya, meskipun hal itu sudah menjadi tanggung jawab suaminya. Sehingga kelebihan yang dimiliki pada wanita karir pada umumnya mereka tidak selalu ketergantungan terhadap suaminya untuk memenuhi kebutuhannya atau membeli sesuatu yang mereka inginkan sebab memiliki penghasilan sendiri yang dapat membantu perekonomian keluarga. Namun, hal itu sebetulnya tidak menjadi masalah karena mereka memiliki hak untuk memilih apa yang mereka inginkan dan menurutnya itu adalah hal yang paling tepat karena adanya beberapa faktor yang menjadi pertimbangan mereka dalam memutuskan menjadi seorang wanita karir. Jadi, jangan beranggapan bahwa wanita yang berkarir itu egois, karena kita tidak tahu apa yang melatarbelakangi hal tersebut.

Sementara, wanita yang memilih untuk menjadi seorang ibu rumah tangga pastinya memiliki kelebihan yaitu memiliki banyak waktu untuk anak-anaknya sehingga dapat melihat tumbuh kembang anak dan membangun kedekatan. Namun, kekurangannya mereka seringkali merasa bosan karena tidak memiliki banyak waktu untuk mengeksplorasi dunia luar.

Berdasarkan pertanyaan tersebut, aku pribadi memilih untuk menjadi wanita karir sekaligus menjadi seorang ibu rumah tangga. Sebab aku berencana untuk menjalankan usaha bisnis atau sebut saja seorang entrepreneur yang memiliki waktu fleksibel karena tidak memiliki ketetapan jadwal dalam bekerja. Dengan begitu, nantinya aku dapat memiliki waktu untuk mengurus anak dan rumah tangga yang akan dibangun nanti, namun juga memiliki penghasilan sendiri sehingga tidak melulu ketergantungan dengan suami. Tetapi, keputusan tersebut pastinya juga harus didukung oleh pasangan kita nanti, bukan hanya dari satu pihak. Apapun pilihan yang akan diputuskan oleh seorang perempuan nanti setelah menikah, keduanya sama baiknya dan tidak ada yang buruk, namun terdapat kelebihan dan kekurang didalamnya.

Jika wanita memilih untuk tetap bekerja, pastinya ia dapat membantu perekonomian sehingga kebutuhan keluarga dapat dipenuhi dengan baik. Selain itu, Anda dapat terus mengembangkan potensi yang dimiliki sehingga dapat terus bermanfaat bagi orang di sekitar.

Namun, ketika memilih keputusan itu, biasanya waktu untuk keluarga menjadi agak terkorbankan. Sebab, pekerjaan professional bisa jadi butuh begitu banyak tanggung jawab dan perhatian.

Tetapi hal ini kembali lagi ke dalam prioritas dan manajemen waktu. Jika menempatkan keluarga menjadi prioritas utama, Anda pasti dapat mengatur porsi waktu yang sesuai untuk keluarga maupun pekerjaan.