Dikungkung Kenang (Cerpen [Challenge 30 Hari Menulis Sastra])

images
Sumber Gambar: Pinterest

Sepertinya benar, sembilan puluh persen dari ingatan yang tertinggal di dunia datang bersama turunnya hujan. Bagi kebanyakan orang, air hujan yang menyentuh tanah selalu beraroma kenangan. Sialnya, mereka selalu tak bisa memilih kenangan jenis apa yang boleh hadir. Alhasil, beberapa di antara mereka yang hatinya tidak siap akan kembali terluka ketika yang hinggap justru ingatan menyakitkan.

Ziyan termasuk salah satu orang yang hatinya tak pernah siap menyambut segala kenang tentang seorang yang pernah—dan sepertinya masih—menduduki hatinya. Namun, memori itu menyeruak tanpa bisa ia cegah, tatkala langit mendung tak mampu menahan jutaan butir hujan lebih lama. Sore itu, ketika raganya berada di gazebo belakang rumah, jiwa Ziyan dipaksa kembali ke masa lalunya.

—————

Namanya Maura.

Gadis itu selalu bisa mencuri perhatian Ziyan sejak pertama tatap mereka berjumpa. Waktu itu Ziyan adalah mahasiswa baru di kampusnya, Maura pun demikian. Maura bukanlah tipe kebanyakan gadis yang digambarkan dalam novel romansa yang sering orang baca: berambut panjang, bermata bulat, berhidung bangir, berkulit putih, dan tentu berwajah cantik. Walau memang manis, ia tetaplah gadis biasa, seperti kebanyakan mahasiswa di kampusnya. Tetapi, ada satu hal yang paling membedakannya dengan yang lain: kepribadiannya.

Maura tidak pernah tahan terhadap hal yang dirasanya tidak benar. Namanya bahkan sudah santer di kalangan senior sedari hari pertama kegiatan pengenalan kampus dilakukan. Waktu itu, Ziyan masih ingat, seorang mahasiswi lupa membawa satu properti sesuai arahan. Karenanya, mahasiswi tersebut dilarang mengikuti kegiatan dalam satu hari itu. Maura mengacungkan tangan tanpa sedikit pun gentar, berkata bahwa disiplin juga bukan berarti kekurangan empati. Satu salah dari lebih banyak benar seharusnya bisa diberi toleransi, apalagi kesalahan dengan alasan yang masuk akal. Sanksi boleh diberikan, asal sesuai porsi dan tidak berlebihan. Ditambah kegiatan hanya berlangsung dua hari, yang artinya mahasiswi tadi akan kehilangan separuh dari aktivitas pertamanya di kampus.

Tak pelak, begitu Maura berhenti bersuara, sorak-sorai terdengar dari sisi mahasiswa baru, sementara sebagian senior memandangnya sinis dan sisanya tampak was-was untuk berekspresi. Maura memang manis. Meski tidak cantik seperti bidadari—yang bahkan entah siapa yang tahu persis bagaimana rupanya—, tetapi wajahnya sedap dipandang sekalipun berulang-ulang. Namun, ia menjadi mahasiswa tersohor di kampus bukan karena rupa, melainkan keberaniannya.

Selain berani, Maura juga begitu peduli, pada apa atau siapa yang dirasanya membutuhkan. Ziyan ingat betul pernah memergoki gadis itu membantu tukang sapu yang terlihat tidak enak badan di suatu pagi sebelum perkuliahan dimulai, melompat berkali-kali demi singkirkan benalu yang menjuntai dari pohon belakang lab bahasa, memberi makan kucing-kucing liar di kampus yang jumlahnya tentu tidak sedikit, hingga hal paling sering yaitu mengutip sampah yang terkadang satu-dua bercecer di koridor kelas. Itu semua pernah Maura lakukan. Jangan tanya bagaimana ia bisa.

Yang patut dipertanyakan adalah kepengecutan Ziyan, memilih memendam rasa hingga mereka tidak lagi berada di ranah yang sama. Ziyan sangat amat terlambat. Keterlambatan itu kemudian jadi hal yang paling ia sesalkan dalam hidupnya. Ketika sama-sama sudah memasuki dunia pekerjaan, Ziyan mencoba menghubungi Maura, untuk tidak lama setelahnya mengakui perasaannya dan berharap bisa berbalas. Akan tetapi, naifnya Ziyan tidak pernah berpikir bahwa pasti bukan hatinya saja yang berhasil Maura curi. Gadis itu nyatanya sudah telanjur jatuh pada hati milik lelaki lain.

Maka seperti yang sudah dikatakan, Ziyan termasuk salah satu orang yang hatinya tak pernah siap menyambut segala kenang tentang seorang yang pernah—dan sepertinya masih—menduduki hatinya, Maura, sebab luka yang belum benar-benar kering di sana akan selalu kembali basah ketika bumi juga sedang dibasahi hujan.

—————

“Ziyan, ayo masuk. Bunda udah siapin makan malam.”

Jiwa Ziyan kembali lagi ke masa kini. Netranya segera menangkap seorang wanita berdiri dengan payung di tangan kiri, seseorang yang tanpa sengaja menghentikan kenangan yang tadinya berputar di benaknya.

Wanita itu adalah wanita yang sama dengan gadis dalam ingatan Ziyan barusan: Maura. Dan Ziyan sepertinya perlu menegaskan: Maura menyebut kata “bunda” bukan untuk orang lain atau sosok ibunya, melainkan merujuk sendiri kepada dirinya.

Maka, tak perlu lagi bertanya betapa tersiksanya Ziyan berada di rumah.