Dibalik Ritual Satu Suro di Sendang Sidukun

Selamat siang, kawan!
Ritual satu sruo berawal dari sebuah kisah ghoib dalang wayang kulit yang bernama Dalang Garu yang berasal dari Dusun Garon, Desa Traji pada masa lampau. Suatu saat Dalang Garu didatangi oleh seseorang yang berpakaian bangsawan yang mengaku berasal dari Traji yang memintanya untuk mementaskan wayang kulit pada malam satu suro. Lalu, Dalang Garu mementaskan wayang dan dibayar dengan satu nampan kunir. Lalu ia mengambil 3 kunir saja dan orang tadi berpesan agar Dalang Garu tidak menoleh sebelum tujuh langkah dari tempat itu. Tetapi Dalang Garu tidak mengindahkan dan malah menoleh sebelum tepat tujuh langkah. Saat menoleh ternyata orang tadi sudah menghilang dan tiga kunir tadi berubah menjadi tiga buah emas batangan. Bagaimana menurut kalian?

menurut sumber yang ku baca, Kisah-kisah diluar nalar memang tak jarang menjadi latar belakang diadakannya suatu ritual atau tradisi tertentu. Salah satunya adalah tradisi di Sendang Sidukun ini. Tradisi ini bermula dari dari sebuah kisah ghoib dalang wayang kulit yang bernama Dalang Garu yang berasal dari Dusun Garon, Desa Traji pada masa lampau. Suatu saat Dalang Garu didatangi oleh seseorang yang berpakaian bangsawan yang mengaku berasal dari Traji yang memintanya untuk mementaskan wayang kulit pada malam satu suro. Setelah Dalang Garu mementaskan wayang, orang yang berpakaian bangsawan tadi membayarnya dengan satu nampan kunir alih-alih membayarnya dengan uang. Meskipun heran, Dalang Garu tidak memprotes dan menerima kunir tadi. Namun ia tak mengambil seluruh nampan ia hanya mengambil tiga buah saja. Ketika hendak pergi, orang tadi berpesan agar Dalang Garu tidak menoleh sebelum tujuh langkah dari tempat itu. Tetapi Dalang Garu tidak mengindahkan dan malah menoleh sebelum tepat tujuh langkah. Saat menoleh ternyata orang tadi sudah menghilang, tempat itu berupa sendang dan tiga kunir tadi berubah menjadi tiga buah emas batangan. Kemudian Dalang Garu tersadar bila orang yang memintanya mementaskan wayang tadi bukan merupakan orang sembarangan sehingga ia datang kepada sesepuh Desa Traji dan menceritakan semuanya sehingga diputuskan bila setiap malam satu suro agar diadakan pentas wayang di tempat itu, yang berlangsung hingga sekarang. Kisah mistis ini tidak pernah surut selalu dibicarakan dari generasi ke generasi.

Ritual ini telah berjalan kurang lebih 200 tahun lamanya setiap malam suro. Hingga saat ini masyarakat percaya bahwa mereka akan mendapatkan rezeki yang melimpah, dagangan laris, tanaman pertanian menjadi subur dan bagi pegawai dapat bekerja dengan baik setelah mengikuti ritual tersebut. Pernah suatu ketika ada rencana untuk menghapus ritual ini namun walaupun hanya berupa rencana ternyata hal ini sudah memberikan efek yang kurang baik. Masyarakat banyak menghadapi kesulitan seperti gagal panen, mengecilnya sumber air dan banyaknya orang sakit. Maka dari itu tradisi ini terus dilestarikan beriringan dengan kisah mistis yang beredar di tengah-tengah masyarakat.