Dia : Everlasting Love

Pagi itu, aku ingin menemuinya. Aku sangat merindukannya sampai air mataku tidak mampu menahannya. Sudah 3 tahun dia bertahan dari penyakit yang membuatku sangat takut kehilangannya. Sudah merupakan suatu mujizat bahwa dia telah bertahan dari leukemia stadium 4 selama ini. Dia merupakan pria terpenting dalam hidupku setelah ayah. Dia selalu membuatkanku video lucu, menghiburku, dan menenangkanku bahwa dia akan bertahan untukku walaupun dia harus menanggung sakit yang tak pernah bisa terbayangkan. Dia selalu mengingatkanku bahwa dia akan sembuh dari penyakitnya untukku, sehingga kami dapat terus bersama sampai maut memisahkan. Satu hal yang selalu kuingat tentang dia, dia selalu mengajakku bersyukur setiap hari atas hari baru, kehidupan baru, keluarga dan teman yang selalu mendampingi, dan waktu bersama yang masih diberikan Sang Pencipta untuk kami berdua.

hipwee-12964996_274808209528653_113174986_n-640x640

Setiap hari aku datang ke rumah sakit mendampinginya dan selalu hadir untuknya. Setiap hari, dia selalu memelukku dengan erat, bercanda, dan menghiburku tanpa menunjukkan sakit apapun dalam tubuhnya. Aku sangat bahagia menghabiskan waktuku bersamanya di rumah sakit tiap hari. Sampai suatu hari, aku datang dan melihat dokter Hana dan banyak perawat berlari kearahnya karena tiba-tiba kondisinya sangat lemah. Aku pun menangis dan tak berdaya. Aku tidak bisa melakukan apapun kecuali berdoa kepada Sang Pencipta. Aku takut dia akan pergi selamanya, aku takut tidak akan bisa bercanda tawa lagi dengan nya. Aku tidak bisa hidup tanpanya. Setelah 2 jam, dokter dan perawat akhirnya keluar dan mengatakan bahwa kondisinya sudah stabil dan akan baik-baik saja. Tidak hanya hari itu, kejadian yang sama terulang setiap hari selama 1 minggu. Hatiku merasa perih melihat perjuangan yang dia lakukan untuk melawan penyakitnya. Akupun melihatnya tertidur lemas dengan wajah yang pucat, kugenggam tangannya dengan erat dan menangis. Aku tidak tega melihatnya menderita.

Pada hari berikutnya jam 7 pagi, aku datang ke rumah sakit untuk menjenguknya dan memberikan semangat dengan senyum bahagia yang selalu kuberikan padanya tiap hari. Seperti biasa, dokter Hana selalu memeriksanya tiap kali aku datang. Pada hari itu, tidak ada serangan yang terjadi seperti hari-hari sebelumnya. Namun, pada hari itu dokter Hana tiba-tiba ingin berbicara secara pribadi denganku. Dokter Hana mengatakan bahwa dia tidak akan bertahan lebih dari 1 minggu. Serangan demi serangan didalam tubuhnya semakin parah, dan tiap serangan itu dapat menyebabkan sakit yang luar biasa bahkan kematian. Dokter Hana juga memeringatkanku sehingga aku dapat mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Hatiku hancur, pikiranku kacau. Aku berusaha menahan air mataku ketika akan menemuinya. Pada hari itu, dia tertidur karena obat keras yang diberikan kepadanya. Akupun duduk disebelahnya, menggenggam tanganya dengan erat, dan berdoa berharap mujizat terjadi padanya sehingga dia bisa berada disisiku sedikit lebih lama. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpanya, tanpa senyumannya. Tidak akan ada lagi yang akan menggenggam tanganku, menghiburku, memberikanku senyuman indah, dan mengajakku untuk bersyukur tiap hari. Tangispun tidak dapat kutahan lagi. Air mataku bercucuran, dan hatiku sangat takut kehilangannya.

Akupun pulang dengan perasaan yang kacau, tidak ada lagi yang bisa kulakukan lagi selain berdoa kepada Sang Pencipta. Sampai dirumah, aku menceritakkan hal ini kepada ayah dan ibuku. Mereka sangat sedih mendengar berita ini. Merekapun memelukku dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mereka mengatakan bahwa apapun yang terjadi, semua adalah untuk kebaikannya. Apabila memang dia harus dipanggil ke sisi-Nya, itulah cara Sang Pencipta untuk menyembuhkan dan menghentikan rasa sakit yang terus diderita olehnya. Aku harus ikhlas dengan apapun yang terjadi. Aku harus kuat dan merelakannya pergi.

Akhirnya, hari itu pun terjadi. Tengah malam, ditengah badai hujan yang sangat lebat disertai petir yang menyambar, diapun pergi selama-lamanya dari hidupku. Akupun berlari ditengah hujan ke rumah sakit. Hatiku sangat sakit ketika melihat dia telah ditutup kain kafan. Ku genggam tangannya yang dingin, dan menangis. Aku tidak menyangka bahwa kepergiannya akan secepat ini. Namun, aku harus bisa merelakannya dengan kuat dan ikhlas. Dia akan sedih apabila melihatku terkurung dalam kesedihan karena kepergiannya. Akupun mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja di dunia, dan aku akan melakukan semua hal yang dia katakan kepadaku. Selamat tinggal cinta sejatiku. I love you so much…

Seusai pemakaman, ibuku memelukku untuk menghiburku, dan mengatakan bahwa dia tidak akan meninggalkanku dan akan selalu ada di hatiku. Dia sudah sehat, dia sudah bahagia, dia sudah tenang disisi-Nya. Dia tidak perlu merasakan sakit lagi disana. Ibu juga mengatakan bahwa aku tidak sendiri di dunia. Masih ada keluarga dan teman-teman yang selalu mendampingi dan mendukungku. Aku harus bersyukur dan meyakini bahwa semua ini adalah yang terbaik untuk kami berdua. Hatiku pun perlahan dapat merelakan kepergiannya dengan ikhlas. Ibuku kemudian memberikanku sebuah rekaman dari dia untukku. Rekaman itu berisikan pesan terakhirnya untukku sebelum dia pergi. Dalam rekaman itu dia mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku, dia sangat bahagia dan berterima kasih telah pernah menjadi pendamping hidupku, serta meminta maaf atas segala kesahalan yang pernah dilakukannya padaku. Dia ingin aku untuk merelakannya pergi dengan bahagia dan melanjutkan hidup dengan baik tanpanya. Dia juga berpesan untuk melakukan apapun yang pernah dia katakan padaku, dan yang terakhir dia mengatakan bahwa dia akan selalu ada di hatiku. Tangisku pun pecah mendengar suara yang tidak bisa kudengar lagi selama-lamanya.

Dia benar… Walaupun dia sudah pergi untuk selamanya, aku tetap harus bersyukur karena Sang Pencipta telah memberikan waktu berharga dengannya. Aku bersyukur karena dia pernah hadir di hidupku dan memberikan banyak pelajaran yang sangat berharga. Dia memberiku banyak pelajaran mengenai kehidupan manusia, bagaimana manusia harus berjuang dalam segala sesuatu yang dicintai seperti perjuangan yang telah dia lakukan untuk bertahan disisiku, bagaimana manusia harus ikhlas dan merelakan apa yang penting dalam hidup kita untuk orang yang kita cintai, dan bagaimana kita harus terus bersyukur atas semua yang terjadi dalam hidup ini. Apapun itu, sesakit apapun itu, semuanya adalah rencana Sang Pencipta yang terbaik untuk kita, dan kita akan mampu untuk menghadapinya.

Akupun berjanji dalam hati untuk merelakannya dengan ikhlas, tetap mengenangnya dalam hati sebagai malaikat cinta yang sangat berharga, menjadi manusia yang kuat, dan akan melanjutkan hidupku dengan baik sesuai dengan apa yang diinginkannya. Aku tidak akan mengecewakannya. Terima kasih atas semua ketulusan cinta yang telah kau berikan untukku. Walaupun kau telah pergi untuk selama-lamanya, namun cintamu akan selalu ada dihatiku. I love you in my heart… forever…

12 Likes