Di Tepian Jalan Yang Bernafas

Pukul enam sore, dikala angin menjadi beku

Lalu langit terlihat abu, seperti ingin menangis

Mulai berganti malam, menjadi-jadi hati yang kalut

Jumat yang pekat kala itu, setidaknya hanya aku

Ia adalah Bunga, seorang wanita yang duduk di sampingku sambil termenung

Di kursi hitam menghadap kedai kopi yang kecil di persimpangan

Sempat terdiam ia beberapa saat

Aku ragu, engkau menangis

Ada apa Bunga

Kau seperti berkelahi hebat dengan batinmu sendiri

Engkau seperti saling melukai dirimu sendiri

Dan ada aku

Lalu kita, selepas malam itu meramu

Tibalah kita mencoba jadi satu

Malam demi malam

Nafas hangatmu teringat baik di keningku

Sebelum saat itu

Saat dimana Bunga ku hilang

Bunga ku layu

Bunga ku terpetik

Ada apa denganmu Bunga

Kau seakan benci dengan matahari yang akan terbit

Kau dengan lantangnya mengatakan enyah saja kau cahaya

Dan bangau bukit pasir itu termengut, kebingungan olehmu

Dia kira kau setia, denganku

Dan disinilah aku

Di jalan Braga, merindu

Sisi kanan jalan yang bernafas lembut

Bunga, lagi dan lagi aku luput daun lembutmu

Dijarah jalan berliku menuju bukit singgahanmu

Berhenti aku di simpang jalan menyakitkanmu

Inginku berlaki, jalan semakin sunyi

Dibelai telapak kaki, pecahan kaca air matamu

Mungkin nanti, saat dimana aku tidak ingin lagi

Memuja duri tajammu

Kau akan kembali

Mungkin

Saat ini biarlah aku sendiri

Menapaki Pasirkaliki yang berjelaga

Tak seperti kulit lembut di kakimu

Yang ku teguni halus saat itu

Biarlah aku pergi dari Bandung yang indah ini

Kutinggal semua cerita, kata, hidung imutmu

Ke Jakarta ku kan kembali

Bunga, biar Bandung jadi sangkar sayangku padamu