Desersi sang kawan

Ruang kedap suara berukuran 10 x 10 meter dilapisi cat berwarna putih tulang menambahkan suasana tenang bagi para penghuninya. Aku merupakan salah satu orang di antara mereka yang duduk terpaku di dalamnya. Mataku terus terpaut dengan kanvas putih yang bersandar pada easel .

Tanganku mulai meliuk-liuk di atas kanvas untuk menciptakan lekukan-lekukan indah berwarna cerah. Mataku berbinar puas saat lukisan yang mewakilkan ilusiku ini benar-benar sempurna.

Aku terus memutar kedua bola mataku ke kanan dan ke kiri melihat orang-orang di sekitarku yang sedang sibuk melukiskan imajinasinya masing-masing. Hingga akhirnya, mataku terus memicing pada seorang lelaki yang berada di baris ketiga dari tempat dudukku.

Wajahnya indah senada dengan tatapan netranya yang meneduhkan. Bibirnya melukiskan senyuman meskipun ia sedang terdiam. Sayangnya, mataku bukan terkesan dengan pesonanya akan tetapi, mataku terkejut dengan hasil lukisannya.

“Hah… rupanya hati laki-laki itu sedang dirundung masalah besar, hingga lukisannya begitu kacau” kataku dalam hati.

Kelas melukis telah usai. Aku memutuskan untuk pergi jalan-jalan ke alun-alun kota sembari menikmati indahnya Kota Pelajar di sore hari.

Aku duduk termenung di tengah-tengah keramaian orang-orang yang berlalu lalang kesana-kemari. Aluna musik jawa koplo yang dimainkan oleh Band Angklung Jogja memecahkan lamunanku. Aku bangun dari dudukku dan menarik langkah kakiku untuk menonton pertunjukan band itu lebih dekat lagi.

Ternyata, tepat di depan pertunjukan itu ada lelaki yang kutemui di kelas melukis siang tadi. Hati ini mengisyaratkanku untuk menyapanya. Aku mulai berjalan ke arahnya, namun langkahku terhenyak saat melihat ada dua lelaki bertubuh kekar menyapanya dengan kasar. Perkelahian itu menarik perhatian orang-orang di sekililingnya, sedangkan aku hanya diam terpaku tak bisa berbuat apa-apa.

Setelah pukulan beberapa kali menghujam tubuhnya, akhirnya dapat diredam oleh orang-orang disekitarnya. Ia dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mengobati luka-luka di tubuhnya.

Hari ini aku merasa sangat lelah, karena menemui berbagai permasalahan yang mungkin harus kudelidiki hingga terpecahkan.

“Kok, anak ibuk baru sampe rumah, habis darimana, Nduk?” Ibu bertanya ketika berpapasan denganku di halaman rumah.

“Oh, maaf buk, tadi Jasmin habis pulang melukis mampir dulu ke alun-alun,” jawabku.

“Ya udah…sekarang mandi dulu baru istirahat,” nasihatnya lemah lembut.

Nggih, Bu.” balasku takzim.

Kubenamkan tubuh ini di atas ranjang tidurku yang empuk. Aku mencoba memjamkan mata yang sedari tadi diselimuti rasa kantuk. Akan tetapi, kepalaku terus menciptakan bayangan hitam yang menggambarkan ketakutan dari lelaki tadi. Tubuhnya gemetar saat dihajar meskipun raut wajahnya mengatakan aku tidak apa-apa.

Aku merogoh saku di celanaku. Kuambil kartu nama yang bertuliskan “Leo Sam Pangarep”. Aku menemukannya di lokasi kejadian sore tadi. Aku terus mengamati foto yang ada di kartu nama ini.

“Wajahmu terlalu tenang untuk menutupi semua kerapuhan yang mengampirimu, Sam,” cetusku. Gimanapun caranya aku harus menemuinya! Lanjutku dalam hati.

            ***

Ternyata, dugaanku tepat. Sam berada di alun-alun kota setiap sore, tepatnya di depan pertunjukan dari Band Angklung Jogja. Kelihatannya ia sedang menikmati lagu-lagu yang ditampilkan, tapi entah kenapa tatapannya terlihat kosong. Aku bergegas untuk menghampirinya.

“Selamat sore, Sam!” sapaku memulai pembicaraan.

“Ha-Hai!” balasnya terkejut. “Kamu siapa? Tahu namaku darimana?”

“Tenang, Sam. Kita ini satu kelas di kelas melukis lho.” Aku berhenti sejenak melihat perubahan raut wajahnya yang mulai tenang. Sangat tenang. “Kemarin aku nggak sengaja lihat kamu dihajar sama dua orang laik-laki, terus kartu namamu jatuh di sini,” paparku serinci mungkin sembari menyodorkan kartu namanya.

“Terimakasih,” balasnya singkat.

“Sama-sama. Hmmm… kenalin namaku Jasmin asal Jakarta. Aku pindah ke Jogja, karena kuliah di sini.” Aku berusaha bersahabat dengannya, meski dia mengacuhkanku.

“Satu, dua, tiga” hitungku dalam hati. Rupanya, dia masih diam dan tidak merespon sama sekali.

“Sam, bolehkah aku bertanya?”

“Apa!?” balasnya ketus.

“Sebenarnya, kamu sedang dirundung masalah apa?” tanyaku penuh kepedulian.

“Tahu apa kamu tentang masalahku, bertemu aja belum pernah. Jangan peduliin aku deh!” jawabnya.

Aku berusaha tetap tenang menghadapi sikapnya. “Aku tahu, Sam. Kita baru pertama kali bertemu. Tapi aku sangat peduli dengan masalahmu. Aku tahu separah apa kerapuhanmu setelah melihat lukisanmu kemarin,” jelasku.

Sam hanya melirikku. Entah kenapa aku merasa yakin bahwa dia akan menceritakan semua masalahnya kepadaku, seakan-akan aku mampu memberikannya solusi.

“Sam, kamu bisa mencoba bercerita tentang masalahmu dengan orang lain, karena nggak semua masalah di kehidupan ini bisa diselesaikan oleh diri sendiri. Sam, jangan turuti egomu. Aku bisa menjadi temanmu mulai detik ini,” ucapku berusaha memancing responnya.

‘Cuuh’ Sam meludah seolah-olah sedang menelan obat yang pahit rasanya.

“Sam?”

“Jasmin, cukup!” bentaknya. “Aku hanya ingin kesendirian bukan seorang teman!” Dia beranjak pergi meninggalkanku.

Aku tidak mau menyerah. Aku mengejarnya dan berteriak memanggil namanya.

“SAAAMM!!!” aku menggapai tubuhnya. “Aku ini mahasiswa lulusan psikologi, makanya aku tahu seberapa rapuh dirimu. Itulah sebabnya aku peduli, karena kamu itu ‘rapuh’. Aku tidak mau kamu seperti temanku yang kehilangan nyawanya karena kerapuhan hati,” ucapku meyakinkannya.

Sam terdiam memikirkan kalimatku. Keheningan mampu terisi oleh beratnya nafas Sam. Tatapannya seakan ia ingin bebicara tentang banyak hal. Lalu, ia mengangguk pertanda menerima tawaranku.

“Jamin, tapi aku tak mau menganggapmu teman,” cetusnya.

“Baiklah, yang terpenting kamu mau menceritakan seluruh masalahmu kepadaku,” balasku penuh tanda tanya di dalam hati.


Tempat sepi dan sunyi menjadi pilihan Sam untuk menceritakan segala keluh kesahnya. Jauh dari keramaian membuat pikirannya kembali tenang.

Sam duduk di atas batu besar sambil mendekap kedua kakinya. Pandangannya terus menerawang jauh ke depan.

“Mungkin, sejak insiden itu aku sangat benci ketika mendengar kata ‘teman’.” Sam memberikan muqodimah yang merupakan inti dari rasa sakit hatinya.

“Kenapa begitu, Sam?” tanyaku.

“Dulu, aku punya seorang teman. Namanya Dika. Ia adalah teman sejak aku kecil. Kami selalu bersama ketika mengerjakan sesuatu. Kami saling melindungi saat marabahaya menghampiri. Kami saling menguatkan saat berada di titik paling lemah sekalipun. Namun, nasib kami berbeda.” Sam berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya yang mulai sesak.

“Saat aku dan Dika beranjak dewasa. Kami mulai mempunyai rasa pada wanita yang berbeda. Tetapi, kisah cintanya begitu suram dan berakhir dengan perpisahan. Berbeda denganku, aku berhasil menjalin hubungan baik dengan wanita yang amat kucintai. Akhirnya, aku bisa menikahinya setelah lulus dari bangku perkuliahan. Namun, di titik itulah semuanya berubah. Ternyata kedengkian telah menggerogoti hatinya.” Sam berhenti lagi mengusap air matanya yang mulai menetes.

“Rupanya selama ini Dika memiliki niat untuk menghancurkan keluargaku. Niat jahat itu berhasil ia wujudkan pada suatu malam saat aku sedang pergi ke luar kota. Dika berhasil masuk ke dalam rumahku yang langsung disambut oleh teriakan istriku. Dika langsung membungkam mulutnya dan mengeluarkan benda tajam hingga akhirnya menusuk tepat di jantung istriku. Setelah beberapa jam kejadian aku mendapat telefon dari tetangga rumah bahwa istriku telah meninggal karena dibunuh.” Sam memejamkan mata dan menarik nafas panjang untuk mengakhiri ceritanya.

Aku ikut meneteskan air mata mendengar cerita tragisnya.
“Lalu, bagaimana kamu bisa tahu, kalau Dika adalah pelakunya?” Aku bertanya agar berhenti mengeluarkan air mata.

“Aku bisa tahu, karena istriku sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, ia menulis nama ‘Dika’ menggunakan tetesan darahnya. Tetapi, sebelum tertangkap oleh polisi ia mengakhiri hidupnya dengan gantung diri,” jelasnya lugas.

“Mungkin ini pertanyaan terakhir. Kenapa seusai kelas melukis kamu selalu berdiam diri di depan Band Angklung Jogja?”

“Jasmin, aku bukan berdiam diri disana, tetapi aku hanya ingin mengenang istriku. Di tempat itulah aku bertemu dengannya. Di tempat itulah aku menyatakan cinta padanya,” jawabnya.

“Tapi, bukankah itu hanya akan membuat rasa sakit itu muncul kembali, Sam?” Aku mencoba menyangkalnya.

“Iya, benar. Aku hanya berharap dengan mengenangnya, patah hati yang teramat dalam ini mampu terobati, tapi kenyataannya memang tak bisa.” Sam menundukkan kepala.

“Sam, jangan sampai hatimu yang telah patah membuat kehidupanmu juga patah. Redamlah rasa sakit itu dengan kisah baru yang lebih indah. Selama ini kamu memang salah. Kamu hanya ingin mengenang tanpa ada usaha untuk keluar dan bangkit kembali dari kerapuhan. Semangat, Sam! Kehidupanmu masih panjang,” nasihatku padanya. Sam mengangguk disertai senyuman tipis di bibirnya.

“Terimakasih, Jasmin.”


Aku merasa bahagia melihat Sam telah keluar dari kerapuhan yang menerpanya selama ini. Ia selalu mulai hari-harinya dengan senyuman dan semangat yang membara. Sekarang ia juga telah menemukan sosok yang bisa menggantikan mediang istrinya. Lukisannya pun tidak seburuk dulu, warna cerah selalu menjadi pilihannya saat melukis. Aku dan Sam sudah berteman baik sekarang. Aku dan Sam juga sering bersendau gurau bersama istrinya di alun-alun kota sembari menikmati asyiknya lagu-lagu jawa koplo yang dimainkan oleh Band Angklung Jogja. Aku sangat bahagia melihat perkembangan mentalnya saat ini.

Aku berharap Sam menjadi lelaki yang kuat sehingga dapat melindungi keluarganya nanti. Rupanya, kisah Sam ini mengingatkanku dengan sepenggal kalimat yang keluar dari mulut ayahku dulu ‘ Nduk, jika kamu bertemu dengan orang yang sikapnya sangat tenang, jangan anggap orang itu tidak apa-apa. Justru orang yang tenang sedang mengalami suatu penyakit yang sangat sakit rasanya dibandingkan dengan orang yang terlihat kacau.’

“Semangat, Sam,” ucapku lirih diantara tawa Sam dan istrinya.