Demi Lena, Aku Rela

Picture1
Sumber: Pinterest


“Jangan tinggalkan aku ….”

Seorang gadis baru saja meneteskan air matanya tatkala dia melihat temannya dalam kondisi terbaring lemah di dalam ruang serba sunyi, ICU. Dilihatnya bahwa dalam tubuh orang tersebut terpasang berbagai selang yang semoga saja dapat membuat dirinya kembali ke dunia. Termasuk pula kembali ke pangkuan teman dekat yang dia miliki selama ini.

Iya, gadis itu bernama Rima. Belum lama dia memutuskan untuk merenung sejenak, tiba-tiba saja dia dikejutkan oleh salah seorang lainnya.

“Hei, gimana keadaan Lena?”

“Tidak baik, Gi,” ucap Rima lirih seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, “karena dia masih belum sadarkan diri.”

“Kalau begitu bagaimana kalau kita bicara sejenak di luar? Barangkali kamu perlu refreshing sejenak,” usul Anggi yang kemudian disetujui oleh Rima.

Setelah itu, Rima pun pamit pada Lena yang masih terbaring lemah. “Len, aku pamit sebentar ya. Semoga cepat sembuh.”

“Ayo, Rim.”


Sampailah Rima dan Anggi di suatu kafe. Bangunan ini dilengkapi dengan dua lantai, di mana tampilan ruangan di lantai dua lebih cozy daripada di lantai satu. Cukup banyak orang yang tertarik dengan suasana di lantai dua, karena lebih terbuka, adem, dan dari situlah para pengunjung dapat menikmati pemandangan kota dari atas kafe tersebut.

Namun sebelum menuju lantai dua, para pelanggan kafe termasuk Rima dan Anggi diimbau untuk memesan makanan atau minuman terlebih dahulu.

“Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa dibantu?”

“Ah, pagi juga Mas. Kami memesan dua gelas teh hangat ya,” ucap Anggi. Dengan yakin langsung saja dia menjawab pertanyaan tersebut tanpa meminta persetujuan dari Rima.

“Baik, apakah ada makanan yang ingin dipesan, Mbak?”

Untuk pertanyaan ini Anggi langsung melemparnya ke Rima, namun hanya dibalas dengan gelengan kepala dari Rima itu sendiri. “Terserah kamu, Gi. Aku ngikut saja.”

“Dua buah roti bakar saja kalau begitu, Mas.”

“Baiklah. Mbak-nya duduk di mana?”

“Kami di lantai dua, Mas.”

“Oh, baiklah. Ditunggu ya Mbak.”

Sedari tadi Rima hanya kebingungan tatkala menyaksikan obrolan singkat antara Anggi dan seorang pelayan yang sibuk mencatat pesanan sekaligus mengurus meja kasir, sedangkan Anggi memesan makanan tanpa ragu kepada sang pelayan.

Setelah selesai memesan, Anggi mengajak Rima untuk naik ke lantai dua. Di situlah mereka akan memperbincangkan banyak hal, salah satunya tentang Lena. “Rim, mungkin kamu bisa jelasin Lena itu kenapa sebenarnya?”

“Ceritanya panjang, Gi …. Apakah aku harus menceritakannya secara detail?”

“Terserah, Ma, yang penting aku tahu intinya Lena itu kenapa. Soalnya belakangan ini dia sibuk tanpa ngabarin sesuatu kepadaku,” ujar Anggi lirih yang berusaha untuk mengatakan apa adanya.

Rima pun lantas menghela napasnya. Dia juga berujar, “Sama kok, Gi. Aku juga. Tetapi aku juga sibuk belakangan ini, soalnya aku juga sudah mulai ikut kursus menari sejak beberapa hari yang lalu.”

“Oh begitu. Baiklah. Ceritakan saja apa yang kamu ingat, Ma,” kata Anggi kemudian. Dia pun siap menyumbangkan kedua telinganya untuk mendengar segala keluh kesah dari si Rima terkait Lena itu sendiri.


[Flashback]

“Rim, aku pergi kerja dulu ya,” ujar Lena lirih.

“Iya, hati-hati ya, sis. Kalau kamu sudah selesai langsung kabari aku saja ya!” balas Rima yang kemudian dibalas dengan anggukan oleh Lena. “Insyaa Allah segera kukabari. Semangat ya.”

“Semangat juga Len!”

Setelah itu, Lena pun lantas meninggalkan rumah Rima dan mulai bekerja di suatu tempat yang ada di Sleman. Sedangkan Rima malah memikirkan Lena yang mana dirinya baru saja pergi ke tempat kerja. Lalu, gadis berambut pendek itupun tiba-tiba menemukan satu barang yang mungkin saja ditinggalkan oleh Lena. “Aromaterapi?!”

Selama ini, satu hal yang Rima perhatikan dari Lena adalah setiap kali Lena beraktivitas, dia selalu saja membawa obat yang dianggapnya wajib untuk dibawa ke mana-mana, yaitu aromaterapi, untuk mengantisipasi rasa sakit yang dialaminya di bagian kepala. Namun pada kali ini, dia tidak membawanya ke tempat kerja. Itulah yang membuat Rima merasa khawatir pada temannya tersebut.

“Astaga, Lena lupa membawa aromaterapi ini. Bagaimana ya?”

Kemudian Rima mondar-mandir di depan tempat tidurnya, memikirkan apa yang bisa dilakukannya untuk menitipkan barang ‘berharga’ ini kepada Lena, yang mungkin saja juga sudah menyadari bahwa obatnya ketinggalan di rumah Rima.

Namun karena Rima benar-benar sayang pada temannya sendiri, dia langsung bergegas menuju bus stop. Dari situlah gadis tersebut akan menyusul Lena ke tempat kerja sekaligus membawa obat aromaterapi yang dibawanya setiap kali Lena akan keluar rumah.”


Setelah sampai di tempat kerja, Rima langsung menyusuli Lena dengan membawa obat aromaterapi yang telah dibungkus rapi olehnya dalam suatu kado ala-ala dirinya sendiri. Dia melakukan itu karena tersadar bahwa barang itulah yang sering ditanyakan oleh temannya tatkala barang itu tiba-tiba hilang di luar pengawasannya.

“Len, aku susul kamu nih. Kamu di mana ya?”

Seketika Rima langsung berusaha untuk menelepon Lena, tetapi terdengar suara dari operator bahwa “ Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi. Cobalah beberapa saat lagi.

“Eh, kok tak bisa ya?” Seketika, raut wajah gadis itu langsung memerah, dirinya mulai mengacak-acak rambutnya yang tak terikat dan mulai merasakan frustrasi tatkala Lena tidak dapat menjawab panggilan ‘mendadak’ tersebut. Apalagi ketika langkah tersebut diulangi untuk percobaan kedua dan ketiga, ternyata hasilnya sama saja.

Sudah beberapa langkah yang telah ditempuh olehnya, termasuk pula menanyakan orang-orang yang ditemuinya terkait lokasi temannya sekarang ini. Tetapi sayangnya … terjadi sesuatu yang tidak diharapkan sebelumnya.

“Temanmu baru saja dibawa ke rumah sakit, Mbak. Tadi dia mengalami sakit di kepalanya, katanya parah banget gitu.”

Seketika itulah Rima langsung terkejut bukan main. Raut wajahnya mendadak berubah menjadi sangat murung. Terbesit rasa khawatirnya kepada Lena yang mana faktanya dia telah lupa membawa obat sehari-harinya selama ini.

“Kalau boleh tahu di rumah sakit mana ya, Mbak?”

“Nanti akan ada salah satu dari rekan kami yang akan menghubungimu, karena Lena telah berpesan kepadanya untuk menghubungimu saat dia berada di rumah sakit.”

“Baiklah, kalau begitu terima kasih banyak ya, Mbak. Saya permisi dulu.”

Rima menundukkan badannya lalu segera berlari menuju rumah sakit dan benar saja, beberapa saat kemudian dia dihubungi oleh salah seorang rekan kerjanya Lena. Gadis itupun kemudian diarahkan menuju rumah sakit yang dimaksud oleh mereka.


“Begitu ceritanya, Gi,” ujar Rima menutup ceritanya sampai tidak menyadari bahwa sedari tadi sudah ada makanan dan minuman yang telah disediakan di atas meja makan mereka berdua.

Anggi pun mengangguk-angguk, kemudian melihat makanan dan minuman yang mereka pesan telah tersedia di atas meja makan. “Oh iya, sambil dimakan roti bakar dan diminum juga tehnya, Ma.”

“Iya, Gi, makasih banyak ya. Lalu bagaimana soal bayar–”

“Aku yang bayarin nanti, sans saja, Ma,” potong Anggi dengan penuh percaya diri. Dia yang mengajak Rima makan, dia pula yang akan membayar semua tagihan mereka selama di kafe tersebut.

“Baiklah, terima kasih, Anggi. Oh iya, aku belum kasih tau ya, dia sakit apa?”

“Belum. Memangnya apa, Ma? Apakah separah itu sampai harus dipindahkan ke ruang ICU?”

Anggi masih saja penasaran dengan kelanjutan cerita Rima terkait Lena tersebut. Kemudian, sekali lagi Rima menghela napas dengan berat lalu menjawab, “Sepertinya iya. Sebenarnya dokter belum memberitahukan soal ini secara spesifik, hanya saja beliau pernah bilang ada sedikit masalah di otaknya. Entah karena Lena kecapekan atau ada suatu masalah yang membuat emosinya kacau dan berpengaruh pada penyakit yang dia alami.”

“Dia tak pernah curhat soal penyakitnya padamu, Ma?” terka Anggi kemudian.

Nope.” Rima menggeleng. “Katanya agar aku tidak khawatir padanya. Soalnya kutahu dia benar-benar berusaha untuk meraih impiannya di masa depan.”

“Lena sangat sayang padamu, Ma. Dia benar-benar rela tidak berkata jujur soal penyakitnya padamu karena dia tak mau kamu sedih, bukan?”

Rima pun mengangguk pelan, lalu berkata, “Aku tahu dia sayang sama aku, tetapi bukan begini caranya ….”

“Sudahlah, Ma. Doakan saja supaya dia cepat sembuh ya,” ucap Anggi, berusaha untuk menenangkan temannya itu.

Air mata mulai menetes dari kedua mata Rima, tetapi dengan sigapnya dia menghapusnya lalu berkata, “Amin. Makasih banyak ya, Anggi. Kamu sudah mau mendengarkan cerita dariku, yang sampai sekarang aku tidak tahu harus cerita ke siapa. Kenapa? Ya karena aku orangnya susah buat cerita sama orang, hehe.”

“Tidak masalah, Ma. Yang penting kamu sudah mau bercerita. Aku mengerti, kok. Jadi, apakah aku boleh menemanimu untuk menjaganya sampai dia pulih?"

“Boleh!”

“Makasih ya.”

Setelah itu, Rima dan Anggi segera kembali ke rumah sakit. Tatkala keduanya sudah kembali ke rumah sakit, tiba-tiba saja raut wajah mereka berdua menjadi berseri-seri karena mereka melihat bahwa seorang dokter dan seorang suster akan memindahkan Lena ke ruang rawat biasa.

“Lenaa! Kamu sudah sadar ya?!” seru Rima yang berbahagia lalu berlari menghampiri dan mencium kening temannya.

“Hai, Rima. I miss you.”

Me too! Kamu hebat, i love you!”

Lena hanya tersenyum mendengar perkataan tersebut, sedangkan Anggi hanya terdiam namun juga turut tersenyum melihat kedekatan mereka berdua.

Tamat.

#ManusiaDanCinta
#LombaCerpen
#dictiocommunity