Dapatkah Predator Buta Warna Melihat Warna Peringatan?


Beberapa hewan beracun menampilkan warna-warna peringatan untuk menghalangi predator mereka. Bagaimana nasib predator buta warna?

Manusia memiliki penglihatan warna yang baik, dan beberapa hewan, seperti laba-laba melompat, bisa melihat lebih banayk warna daripada kita. Tapi predator lain, seperti beberapa jenis hiu dan singa, yang mungkin tidak bergantung banyak pada warna, telah berevolusi menjadi buta warna.

Kupu-kupu Raja, katak panah beracun dan ular karang merupakan contoh hewan beracun yang mengandalkan warna peringatan—warna yang akan dipelajari secara cepat oleh predator dan diingat untuk dihindari.

Beberapa mamalia yang tak memiliki racun seperti sigung dan luak madu memiliki garis-garis hitam putih mencolok, yang mengingatkan predator bahwa mereka mungkin akan menyemprotkan cairan bau dan berbahaya serta sangat jahat saat bertarung.

Katak panah beracun menampilkan …Katak panah beracun menampilkan warna peringatan untuk menghalangi predator. (Joel Sartore/National Geographic)
“Warna peringatan biasanya bervariasi, tapi apa yang tampaknya menjadi kunci adalah warna gelap yang kontras, biasanya hitam atau cokelat gelap. Selain itu juga warna kuning, oranye, merah, atau putih berpola seperti Kupu-kupu Raja,” kata Robert Espinoza, seorang ahli biologi di California State University, Northridge, melalui surel.

Itu berarti apakah predator buta warna bisa melihat warna tertentu atau tidak, mungkin tidak masalah dalam beberapa kasus. Espinoza mengatakan, “Kontras tinggi dari pola gelap dan terang hewan sangat mencolok sehingga membangkitkan bawaan respon ‘Peringatan! Mangsa beracun atau berbahaya!’.”

Jadilah Terang

Ada ilmu yang mendukung kasus semacam ini pada belalang sentudu atau biasa dikenal dengan belalang sembah yang dikenal memiliki sedikit atau bahkan tidak ada pengelihatan warna.

“Untungnya, belalang sembah sangat baik dalam melihat pergerakan dan bereaksi sangat cepat terhadap gerakan, yang dapat dibuktikan oleh semua lalat,” ujar Katy Prudic, seorang ahli entomologi di University of Arizona.

Pada tahun 2007, hasil penelitian yang diterbitkan di jurnal Behavioral Ecology, Prudic menguji bagaimana belalang sembah Cina yang buta huruf akan bereaksi terhadap rasa pahit dari serangga milkweed (Oncopeltus fasciatus) yang diwarnai dengan cat abu-abu dengan kontras berbeda-beda dan dengan latar belakang abu-abu.

Belalang sembah belajar untuk menghindari serangga dengan kontras tinggi lebih cepat dan mempertahankan keengganan yang lebih lama dibandingkan dengan serangga dengan kontras rendah.

“Hal tersebut menunjukkan bahwa predator buta warna masih bisa mendeteksi perbedaan warna melalui sesuatu yang disebut kontras pencahayaan atau jumlah cahaya yang dipantulkan mangsa,” ungkap Prudic.
Warna sebenarnya

Dalam beberapa hal, Tectocoris diophthalmus atau biasa dikenal dengan serangga harlequin tampaknya memiliki dua kemampuan terbaik: warna peringatan dan kamuflase. Masing-masing kemampuan itu berfungsi untuk menghalangi dua predator berbeda.

Serangga itu memiliki dua jenis warna peringatan: oranye solid dan oranye dengan tutul berwarna pirus. Burung dapat melihat warna-warna ini dan mengetahui bahwa serangga ini harus dihindari.

Menurut sebuah studi di tahun 2014, belalang sembah tidak memperhatikan warna peringatan, dan akan memakan serangga, tapi hanya individu dengan warna pirus yang lebih bersinar. Individu yang berwarna oranye berkamuflase sempurna dari mata belalang sembah.

Itu sangat masuk akal. Penelitian mengungkapkan bahwa belalang sembah juga dapat berpengaruh pada evolusi serangga harlequin. Dengan memakan begitu banyak individu berwarna pirus, aka nada lebih banyak individu berwarna oranye yang tersisa untuk berkembang biak.