Cintai Dirimu Sebelum Kamu Mencintai Orang Lain

Memiliki orang yang sangat kita cintai bukankah hal itu menyenangkan? Terlebih jika ia dapat membalas cinta kita dengan sepenuh hati, rasanya pasti sangat bahagia. Tapi, setelah aku putus dengannya sebulan yang lalu. Aku baru menyadari bahwa ada yang salah dengan diriku hingga hubungan kami berakhir di tengah jalan. Ya! Dia adalah cinta pertamaku dan berharap menjadi cinta terakhirku, Hery.

“Ana, maaf kita harus mengakhiri hubungan kita sampai disini.” (dengan suaranya yang datar namun sorot matanya yang tegas, Hery memberanikan dirinya untuk mengatakan ini padaku).

“A…apa? Kamu ingin kita berpisah Her? Apa aku tidak salah dengar?” (terlihat wajahku yang sangat terkejut di depan lelaki yang sudah kuanggap sebagai masa depanku).

“Tidak An, kamu tidak salah dengar. Aku ingin kita berpisah saat ini juga.” (Hery menatapku dengan rasa bersalahnya).

“Tapi… bukankah kamu mencintaiku Her? Kita sama-sama saling mencintai bukan?” (setetes air mata pun kemudian jatuh dari kelopak mataku).

“Aku memang mencintaimu, tapi hanya sampai detik ini. Aku benci melihatmu selalu mengorbankan apapun untukku, tanpa memikirkan dirimu sendiri. Pada awalnya aku memang menyukainya, kamu begitu perhatian padaku. Tapi lambat laun aku merasa jengkel, karena kamu seperti bukan kekasihku tapi lebih sebagai budak yang tanpa ku suruh dan ku inginkan tiba-tiba kamu melakukannya. Padahal kamu tau sifatku bukan? Aku tidak ingin apapun secara berlebihan.” (panjang lebar Hery menjelaskan kenapa ia ingin memutuskan hubungan kami dengan suaranya yang tegas dan penekanan pada kata tertentu).

Dan mulai saat itulah, aku dan Hery benar-benar berpisah hingga kini aku yang masih sendiri meratapi kesalahanku yang tanpa sadar sudah melukainya. Kesalahan yang sulit ku lihat di dalam diriku sendiri.

Setelah pulang bekerja, kaki ku melangkah begitu saja hingga aku berada di tepi sungai Han. Ya! Sungai Han menjadi tempat favorit ketika aku merasa jenuh dengan kehidupanku, duduk di tepian sambil menikmati pemandangan sungai Han yang indah terlebih jika malam hari. Namun, tiba-tiba ada yang menepuk bahu ku dari belakang.

“Hai!” (sapa lelaki yang sudah 3 bulan ini baru menemuiku lagi).

“Andri! Apa kabar? Duhh yang sibuk baru keliatan nih. Udah lupa kayanya sama gue? Hahaha” (respon tubuh ku langsung terkejut dan menyadari bahwa itu ternyata Andri sahabat SMA ku yang kini bekerja di negara yang sama denganku, Korea Selatan. Aku bekerja sebagai content writer di KBS sedangkan Andri bekerja sebagai marketing di Lotte World).

“Ciieee kangen lo ya sama gue? Hahaha sorry-sorry baru nemuin lo lagi, soalnya gue lagi banyak kerjaan biasa Lotte World kan mau buka cabang baru di negara kita.” (seperti biasa Andri sangat antusias jika bercerita denganku).

“Ohh iya dehh yang sebentar lagi mau jadi manager!! Traktir gue lo ya. Hahaha” (aku pun tidak kalah senangnya mendengar dan menjawab cerita Andri, hingga saat Andri menanyakan hal yang membuatku kehilangan senyum di wajahku).

“Iya iya tenang aja! Oiya, gimana hubungan lo sama Hery? Kayanya udah mau kasih undangan nih!”

Aku terdiam beberapa saat hingga Andri mengetahui kesedihanku dari raut wajahku.

“Eh lo kenapa An? Kok tiba-tiba sedih gitu? Ada yang salah sama ucapan gue ya? Sorry-sorry.”

“Ngga kok Ndri, ngga apa-apa. Gue emang belom cerita ke lo kalau gue udah putus sama Hery sejak sebulan yang lalu.” (dengan raut wajah yang menahan tangis aku mulai bercerita tentang hubunganku dengan Hery pada Andri).

“Ana… sudahlah jangan kamu tangisi dia lagi. Mungkin dia ingin yang terbaik untukmu. Aku tau sifat pria seperti dia karena dulu aku juga merasakannya, menginginkan kekasih yang bisa menjadi dirinya sendiri, mencintai dirinya sendiri, barulah mencintai diriku sebagai pasangannya.” (Andri menenangkanku dengan perkataannya yang benar adanya).

“Sekarang aku sudah mulai berbaikan dengan masa lalu itu Ndri, tapi aku masih belum yakin untuk bisa berbaikan dengan diriku sendiri. Mencintai diriku sendiri sebelum aku mencintai orang lain. Apa menurutmu aku bisa Ndri?” (suara putus asa melengkapi raut wajahku yang begitu terlihat memilukan).

“Hey An! Kamu pasti bisa melakukannya. Mencintai diri sendiri bukanlah hal sulit untuk dilakukan karena hal itu langsung datang dari hatimu. Kamu pun bisa melakukannya dari hal kecil yang bisa mendatangkan manfaat baik buat dirimu sendiri maupun orang lain. Mencintai diri sendiri tak perlu meminta izin bukan?”

Seketika aku pun mengangguk dan tersenyum mendengar perkataan Andri. Mencintai diri sendiri memang tak perlu meminta izin orang lain bahkan tak perlu izin pada diri sendiri.