Cinta tidak egois karena cinta mampu mencintai perbedaan

IMG_20200501_221500_resize_52

Cinta dapat mengkolaborasikan rasa, ntah itu pahit ataupun manis. Cinta dapat membolak-balikkan kisah, ntah itu baik ataupun buruk. Dan dengan hebatnya, cinta mampu menguasai hati meski harus menjadi sel-sel darah. Yang pasti, tak semua cinta itu egois. Buktinya, cinta mampu hidup dan tumbuh di atas perbedaan. Kasta, paras, kemampuan, tak menjadi cambuk dalam merajut asmara. Lalu, mengapa keburukkan cinta lebih menonjol? Secara logika cinta hanya melakukan sebuah kesalahan yaitu terlalu egois dalam mempertahankan hubungan dengan pasangan. Sehingga tingkat keegoisan cinta jauh lebih terpandang. Bukankah itu terlihat aneh? Mengapa mempertahankan pasangan disebut egois? Seseorang yang tak pernah bermain logika akan menganggap remeh problematika tersebut. Dalam hubungan, kita perlu adanya saling keterbukaan, saling mendukung, saling melengkapi, dan lain sebagainya. Mungkin, mereka terlalu berlebihan dalam menyikapi sehingga terjadi bentrok diantara keduanya. Contohnya menuduh kekasih berselingkuh, tanpa tau kebenarannya bahkan tanpa adanya bukti yang kuat. Mengurung kekasih agar tidak bergaul dengan wanita atau pria lain dengan cemburu sebagai alasan. Jadi, kata egois disini bukanlah sebagai akar permasalahan teruntuk cinta melainkan teruntuk diri yang tak tau diri.

Cinta tidak egois karena cinta mampu mencintai perbedaan. Dalam hal percintaan itu sendiri juga tak hanya terbagi dalam segi manusia. Tumbuhan, hewan, bahkan Tuhan pun memerlukan cinta. Oleh karena itu, kita juga harus mampu dalam membagi cinta sesuai kadar dan waktu. Disaat shubuh berkumandang, bangunlah dan sapa Tuhanmu dengan sujudmu. Saat mentari mulai nampak, tersenyumlah pada tanaman dan para hewan seraya memberi makan dan minum seperti halnya sarapanmu di pagi hari. Rawatlah dan cintailah mereka seperti kau mencintai dirimu sendiri. Bukankah itu termasuk mencintai dalam perbedaan, karena kita mencintai makhluk lain yang berbeda dari kita.

Namun tetap saja, semua takkan berubah begitu saja. Mungkin hanya sedikit yang percaya dan sedikit yang mengerti apa arti cinta tanpa keegoisan. Makna cinta tak terlalu rumit bila dijabarkan hanya saja butuh sesuatu yang perlu dijadikan pengandaian sebagai gambaran. Sekarang lihatlah pelangi, ntah itu dalam bentuk gambar atau yang kini sedang muncul secara langsung. Pandang warna-warninya. Pelangi terjadi akibat pembiasan cahaya dan menghasilkan pancarona yang sedap dipandang. Warna putih sebagai pelaku pembiasan pelangi ibarat cinta dan warna-warninya ibarat perbedaan. Tahukah maksudnya? Ya, dari cinta kita tidak akan memandang arti perbedaan. Semua orang boleh merasakan cinta, bahkan dengan adanya perbedaan umur yang terlampau jauh sekalipun.

Mari kita renungkan semua ini baik-baik. Semoga saja kalian tak lagi menganggap cinta adalah sebuah keegoisan. Pikirkanlah tentang ketulusan cinta. Yang berawal dari sebuah penantian, perkenalan, pertemanan, persahabatan, hingga tiba saatnya kalian merasakan indahnya cinta. Semua itu butuh proses dan waktu yang panjang. Lalu, apakah kalian setega itu memusnahkan nya hanya karena sebuah keegoisan? Janganlah mau diperdaya olehnya karena dia bukanlah siapa-siapa. Sabarlah dalam menghadapi setiap permasalahan yang hadir menimpa. Dan yang pasti janganlah memberi janji disaat kau senang serta janganlah membuat keputusan disaat kau marah. Karena itulah yang akan mengundang keegoisan untuk hadir mengusir cinta yang suci.

Sesungguhnya cinta sejati adalah cinta yang mampu mengusir keegoisan yang datang dalam jiwa masing-masing. Tetaplah bertahan bila cinta masih layak untuk dipertahankan. Bila tidak, bolehlah dilepas. Berpisah memang menyakitkan, namun akan lebih menyakitkan lagi bila memperjuangkan cinta sendirian.

15 Likes