Cinta Suci Syafira

Pernahkah kamu mencintai seseorang? Jika pernah, maka katakan bahwa kamu mencintaiku!

Tulisan itu tertulis di sebuah kertas yang tergeletak di meja Syafira. Ada sesuatu yang menusuk dalam dadanya ketika membaca tulisan itu. Apa ya? Mungkin semacam rasa suka?
Ia membalikkan tubuhnya ke arah lain. Ada seorang cowok ganteng duduk tenang di pojok kanan belakang. Itu Rendi, cowok paling idaman di kelas. Ya mungkin lebih tepatnya idaman bagi cewek-cewek manja dan centil. Ketika melihat Rendi, Syafira mengingat orang lain yang seperti mirip dengannya. Tapi, ia buru-buru menghapus pikiran itu.
Syafira hendak menanyakan tentang kertas itu pada Rendi karena hanya ia yang dari tadi sudah berada di kelas. Sayangnya, beberapa teman lain tiba-tiba muncul. Yah! Tidak jadi.
“Pak Herman lagi sakit, jadi gak masuk! Libur!” Ersya menepuk mejanya.
Syafira mengernyitkan dahi ketika Ersya dan teman-teman lain mencangklek tasnya. “Kalau Pak Herman libur, bukannya masih ada pelajaran lain habis ini?”
Ersya menepuh dahi. “Aduh Syafira! Kamu polos banget deh! Bukan cuma Pak Herman, jam siang libur semua. Setelah Pak Herman itu pelajarannya Bu Hasanah yang anaknya kecelakaan itu. Selain itu kan gak ada pelajaran lagi!”
Syafira terperanjat. Anak Bu Hasanah kecelakaan? Anak kelas B yang namanya Reyhan itu?
Syafira menoleh ke arah Rendi yang sibuk dengan ponselnya. Ia sama sekali tidak peduli dengan pembicaraan ini. Entahlah, antara Rendi dan Rey seperti mirip.
Ersya mendehem pada Rendi. Dengan sigap, Rendi mengambil tasnya dan menggandeng tangan Ersya.
“Aku mencintaimu,” kata Ersya. Mereka saling tatap dan berjalan keluar bersama.
Syafira menerka-nerka, sejak kapan mereka berpacaran? Kalimat cinta itu begitu mudahnya diucapkan oleh Ersya. Sebenarnya, apa itu cinta? Mengapa dunia ini seperti hanya membicarakan cinta saja? Di mana-mana topik yang dianggap mengasyikkan hanyalah tentang cinta sepasang kekasih. Lihat saja, mereka begitu betahnya lama-lama di kantin bukan hanya untuk makan, melainkan membicarakan soal pasangan atau pacar. Syafira terasa muak mendengarnya. Seperti tidak ada topik lain saja yang lebih seru. Misalnya tentang berita asteroid yang akan melintasi bumi akhir bulan juli besok. Mungkin lebih menarik.
Syafira mengambil tasnya dan berjalan meninggalkan kelas. Baru saja ia kembali dari kantin, sekarang harus pergi lagi. Tidak masuk kelas rasanya sangat rugi baginya. Berapa ilmu yang tertinggal? Entahlah.
Kali ini tujuannya bukan pulang ke rumah, melainkan ke sebuah rumah ber-cat putih yang tak jauh dari sekolah. Hanya sekitar lima menit saja menggunakan sepeda.
Gerbang rumah itu tidak dikunci. Apa mereka ada di rumah?
Syafira mengucap salam. Tidak ada jawaban. Ia mengulang sampai tiga kali, barulah seorang perempuan empat puluh tahunan keluar dari rumah. Wajah perempuan itu tidak terlihat sedih sama sekali. Bahkan sebaliknya, terlihat ceria. Sepertinya berubah. Biasanya wajahnya terlihat galak dengan rumus-rumus matematika yang ia ajarkan.
Ia menjawab salam dengan ramah. Tatapannya terarah pada Syafira dengan heran. Mungkin karena ia masih memakai seragam putih abu.
“Kau belum pulang, Syafira?”
Syafira mencium tangan perempuan itu yang tak lain adalah Bu Hasanah.
“Tadinya saya mau pulang dulu, tapi saya urungkan. Lagipula rumah ibu juga dekat dari sekolah.”
Bu Hasanah mengangguk dan mempersilakan ia masuk.
Rumah itu tidak begitu besar. Cukup sederhana jika dibandingkan dengan rumah-rumah di sekitarnya.
“Rey sudah pulang dari rumah sakit, Bu?”
Bu Hasanah mengangguk. “Untung saja kecelakaannya tidak parah. Rey hanya menginap satu malam di rumah sakit. Setelah itu, dia minta pulang. Katanya tidak betah di rumah sakit.”
“Em, baguslah kalau begitu, Bu. Oh ya, maaf saya tidak membawa apa-apa. Tadi dadakan sekali. Saya kaget waktu Ersya bilang kalau Rey kecelakaan.”
“Ah, tidak apa-apa. Tadi pagi, teman-teman Rey dari kelas B juga sudah menjenguk. Mereka banyak membawa makanan. Jika kamu membawa makanan lagi, kasian makanannya tidak dimakan gara-gara terlalu banyak.” Bu Hasanah tertawa ringan.
“Oh ya, apa Rey sedang beristirahat, Bu?”
“Dia lagi membaca buku di kamar. Kamu bisa menemuinya.”
Bu Hasanah membawa Syafira ke kamar Reyhan.
Di sana banyak sekali buku. Ada lemari khusus untuk menyimpannya. Dan tatapannya menangkap sebuah buku yang dipegang oleh Rey. Tentang cinta? Buku itu berwarna merah muda. Oh Tuhan, sejak kapan orang cerdas seperti Rey menyukai hal seperti itu?
“Syafira? Kamu datang?”
Syafira mengangguk. “Sejak kapan kamu ninggalin buku kimia menuju buku perihal cinta?”
Rey tertawa ringan. “Hanya karena aku jurusan IPA, itu bukan berarti aku tidak tahu yang namanya cinta. Aku manusia biasa yang pasti bisa merasakan cinta.”
Syafira terperanjat. Apa Rey masih sakit? Apa badannya panas? Kata-katanya aneh. “Astaga, Rey! Kamu lagi jatuh cinta? Itu tidak boleh, kan? Ketika dalam fase menuntut ilmu, kamu harusnya jangan gini!” Syafira bersikap seakan ada orang dalam bahaya.
Bu Hasanah ikut tertawa. “Memang menurutmu cinta itu apa? Apa cinta itu hanya sebatas cinta pada kekasih hati?”
Syafira menerka-nerka. Sejauh ini yang ia tahu memang begitu, kan? Coba lihat saja teman-temannya di sekolah pada jam-jam istirahat. Dijamin pasti ada ajah orang yang bicara tentang pacar!
“Kamu cinta ibumu, kan? Apa itu bukan cinta? Waktu kamu sayang ayah, ibu, teman-teman, semua yang kamu sayang, apa itu bukan cinta? Coba bayangin kalau kamu kehilangan salah satu dari mereka. Apa kamu gak bakal merasa kehilangan? Itu namanya cinta.” Rey tersenyum padanya.
Kata-kata Rey membuatnya teringat sesuatu. Ia tak sengaja meneteskan air mata dalam sesaat.
“Eh, kamu nangis?”
Belum sempat Syafira menjawab, ada suara orang yang mengucap salam dari luar.
“Kalian ngobrol dulu ajah. Ibu yang buka pintu.” Bu Hasanah beranjak keluar kamar.
“Kamu belum pulang ke rumah, ya?” Rey memandang baju putih abu Syafira.
Syafira mengangguk. “Sebenarnya apa itu cinta? Apa hakikatnya? Mengapa begitu sakral?”
Rey memperbaiki duduknya. Ia mengusap kakinya. Terlihat sakit walau tidak diperban. Ia kembali memandang Syafira dengan senyum. “Menurutmu, apa sifat utama Tuhan bagi manusia sebagai anugrah yang sangat besar?”
Syafira mencoba menjawab. “Menciptakan?”
Rey menggeleng. “Bukan itu, melainkan ar-Rahman dan ar-Rahim. Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”
“Apakah itu sebabnya dalam basmalah disebutkan dua sifat itu?”
Rey kembali mengangguk. “Betul! Tuhan adalah Maha Pengasih dan Penyayang. Pernah tidak kamu berpikir ada berapa nikmat yang Tuhan kasih buat kamu? Bernapas, berjalan, berbicara, dan masih banyak lagi. Kamu gak bakal bisa ngitung semuanya. Itu adalah wujud dari cinta Tuhan pada kita semua sebagai hamba-Nya.”
“Benarkah? Apa itu berarti Tuhan mencintaiku?”
“Ya, Tuhan mencintaimu. Apa kamu tidak mau membalas cinta Tuhan?” Rey melengkungkan telapak tangannya membentuk hati.
Syafira mengusap pipinya yang basah. Seperti itukah cinta? Penuh kasih dan sayang? “Bagaimana aku membalas cinta Tuhan?”
Rey menepuk dadanya. “Di sini. Kamu cuma butuh untuk nempatin Tuhan di hati kamu. Kalau yang ada di hati kamu cuma ada Tuhan, maka semua perintah Tuhan akan kamu lakukan dengan senang hati dan enteng saja. Satu lagi. Kamu harus lebih penyayang pada orang lain karena Tuhan juga penyayang walaupun kamu sering lupain Tuhan. Kamu harus menyayangi sesama manusia, siapa pun manusia itu. Bahkan kamu juga harus penyayang sama orang yang bikin kamu sakit atau sedih. Orang yang penyayang sama orang yang buat bahagia sama dia itu biasa. Tapi, orang yang penyayang sama orang yang buat dia sakit itu baru luar biasa.”
Bu Hasanah kembali dengan seorang perempuan. “Rey, ada tamu.”
Syafira menoleh ke arah pintu kamar. Matanya terbelalak kaget. “Ibu?” Ia teringat buku bersampul hijau yang disimpan di lemari.
Syafira beranjak dari duduknya. Apa ini? Apa anak itu adalah Rey? Syafira terisak di tempatnya. Ia tidak tahu harus berkata apa. “Buku itu, Bu. Apa maksudnya? Kenapa Ibu di sini?”
Syafira mengusap pipinya dan berlari keluar meninggalkan mereka.
“Syafira?”
Syafira tidak memedulikan ibunya. Ia terus berlari. Di pintu depan, ia berpapasan dengan Rendi.
“Syafira? Kamu nangis?”
Syafira menatapnya sesaat. Benar-benar mirip dengan Rey. Orang-orang mengatakan bahwa itu hanya kebetulan.Ada banyak orang kembar di dunia ini walaupun bukan kerabat. Tapi, bagi Syafira ini bukan kebetulan, melainkan kebenaran.
Syafira kembali berlari keluar meninggalkan Rendi. Ada masjid di dekat sini. Masjid terlihat sepi di jam dua siang. Ia menuju tempat perempuan. Tangisnya pecah. Tangannya mengambil sebuah buku bersampul hijau dari tasnya. Ia kembali membuka halaman yang sudah ia lipat tiga hari yang lalu.

*Sudah enam belas tahun kedua putraku hilang dari pangkuanku. Mereka adalah 2 “R” yang kembar. Yang satu diadopsi oleh temanku yang baik, perempuan berhati mulia. Sedangkan yang lain diadopsi oleh teman suamiku. *
*Itu adalah salahku. Suamiku sudah membohongiku. Ia memberikan kedua anakku pada mereka. Sungguh sadis! Hanya karena masalah ekonomi, ia tidak mau mengurus kedua anaknya. Dan aku juga bersalah. Kenapa aku tidak bertindak ketika aku sudah tahu kalau mereka diadopsi oleh orang lain? Ternyata waktu itu aku juga dibutakan oleh uang. *
Suamiku meninggal karena kecelakaan maut, sebulan setelah 2 “R” pergi. Aku berduka. Aku kesepian. Dari situlah aku baru menyadari bahwa membuang anak adalah hal terbodoh yang pernah kulakukan bersama suamiku! Hanya karena uang!
Seminggu setelah berduka, aku bertemu dengan bayi perempuan yang yatim piatu. Orang tuanya meninggal dalam kebakaran rumahnya. Seperti buah yang jatuh dari langit, aku kembali merasakan pelukan seorang bayi kecil. Aku mengadopsinya. Kunamai ia Syafira. Nama yang indah. Aku mencintainya. Tapi, rasa cintaku pada 2 “R” juga tidak pernah padam. Mereka tumbuh besar menjadi anak cerdas dan tampan, walaupun yang satu lagi agak nakal. Itu bukan masalah. Mereka adalah dua malaikat yang turun dari surga untukku, namun hilang.
2 “R”, aku mencintai kalian. Maafkan karena aku telah menjadi ibu yang jahat. Tapi, cintaku tak pernah padam sampai akhir masa.

Syafira menutup buku itu lagi. Ia mengusap pipinya lagi yang basah. Sudah jelas bahwa 2 “R” itu adalah Reyhan dan Rendi. “Ibu, apa kamu masih mencintaiku?”
“Syafira,” suara itu berasal dari arah pintu masjid. Syafira menoleh. Perempuan itu berjalan cepat mendekatinya dan memeluknya erat. “Kamu jangan pergi, Syafira. Apa kamu marah setelah baca buku itu?”
Syafira melepas pelukan ibunya. Ia menatap lamat-lamat mata bening ibunya, teringat pada kata-kata Rey di kamar, “Di sini. Kamu cuma butuh untuk nempatin Tuhan di hati kamu. Kalau yang ada di hati kamu cuma ada Tuhan, maka semua perintah Tuhan akan kamu lakukan dengan senang hati dan enteng saja. Satu lagi. Kamu harus lebih penyayang pada orang lain karena Tuhan juga penyayang walaupun kamu sering lupain Tuhan. Kamu harus menyayangi sesama manusia, siapa pun manusia itu. Bahkan kamu juga harus penyayang sama orang yang bikin kamu sakit atau sedih. Orang yang penyayang sama orang yang buat bahagia sama dia itu biasa. Tapi, orang yang penyayang sama orang yang buat dia sakit itu baru luar biasa.”
“Syafira? Kamu marah? Apa kamu mau pergi?”
“Jika aku pergi, apa yang akan ibu lakukan?”
Ibunya terisak. “Kamu bilang apa? Ibu gak bisa hidup tanpa kamu, Syafira. Ibu sayang kamu. Kamu jangan salah paham mengenai tulisan itu. Ibu memang mencintai 2 R. Tapi, cinta padamu lebih besar. Kamu yang menemani sejak kamu bayi, sejak kesedihan itu datang. Kamu adalah obat dari segala kesepian. Kamu adalah buah yang jatuh dari langit. Kamu adalah bentuk kasih sayang Tuhan. Jangan pergi, Syafira.”
Syafira memeluk ibunya. “Aku juga mencintaimu, Bu.”
“Kamu tidak akan pergi?”
Syafira melepas pelukannya dan menggeleng. “Aku selalu menyayangimu, Bu. Aku tetap bersamamu.”
Begitukah cinta? Mengapa cinta begitu rumit, namun indah? Apa itu sebabnya dunia penuh cinta? Apa manusia adalah mahluk satu-satunya yang mengenal cinta? Bagaimana dengan binatang? Syafira melihat seekor kucing yang sedang menyusui anak-anaknya di dekat pintu masjid. Sungguh serasi sekali. Jika cinta tetap ada, mungkin tidak akan pernah ada pertentangan, apalagi perang di dunua ini.
Mereka kembali ke rumah Rey. Syafira menatap Rey yang heran.
“Kamu dari mana saja, Syafira? Ini ibumu, kan?”
Syafira memegang erat tangan ibunya dan mengangguk.
“Cocok sekali. Anak dan ibunya.” Rendi yang duduk di samping Rey tertawa pelan.
Syafira melepas tangan ibunya dan mengambil sekembar kertas dari salam sakunya. “Apa ini milikmu? Ini ada di mejaku.”
Rendi mengambil kertas darinya. “Ha? Ini bukan punyaku. Hem, kayaknya aku kenal tulisan ini.” Rendi melirik pada Rey.
“Ke-kenapa? Em, itu Cuma kertas kemarin. Ternyata masih ada di mejanya. Kukira sudah hilang.”
Bu Hasanah melirik Rey dengan sinis. “Rey? Kamu gak lagi jatuh cinta, kan? Dari tadi kamu baca buku itu. Sekarang itu surat apa?” Bu Hasanah mengambil surat itu dari tangan Rendi dan membacanya dengan keras. “Pernahkah kamu mencintai seseorang? Jika pernah, maka katakan bahwa kamu mencintaiku!”
Rey menepuk dahi.
“Kamu ingat kata-kata Syafira? Kalau dalam fase menuntut ilmu, kamu gak boleh gitu.”
Rey menunduk.
“Hem, dasar anak muda. Masih pemalu ya? Cinta itu gak salah. Wajar ajah. Namanya manusia pasti bisa suka. Asalkan jangan terperangkap oleh nafsu, ya.” Bu Hasanah tertawa ringan.
Syafira menatap Rey. Tatapan mereka bertemu. Terima kasih sudah memberitahuku tentang cinta. Aku akan selalu mengingatnya, Rey. Kau benar. Kita perlu cinta untuk menebarkan kasih sayang di dunia. Dan aku akan selalu membalas cinta Tuhan untukku. Ya, aku mencintai Tuhan. Batinnya.
“Apa Tuhan mencintaiku?” Syafira mengulang pertanyaan itu lagi dan melengkungkan telapak tangannya membentuk hati.
Rey tersenyum dan mengangguk. “Ya, Tuhan mencintaimu apa adanya.”