Cinta Kasih_Lomba Cerpen Tema Manusia dan Cinta

Ketika-Aku-Ingin-Hanya-Melihat-Matamu-Tatapan-Sepasang-Kekasih-di-Cafe
Sumber fofo : https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fberitabaru.co%2Ftag%2Fkini-aku-yang-tersenyum%2F&psig=AOvVaw1Tx4u4i1tR78NooauZIl7a&ust=1595860786110000&source=images&cd=vfe&ved=0CAIQjRxqFwoTCJjW0fSS6-oCFQAAAAAdAAAAABAE

Sinar matahari di pagi yang indah ini ikut menyemarakkan suasana hati gadis yang sedang berbahagia, dia menatap keluar jendela kafe menatap keindahan langit di kota ini. Apa itu cinta sejati? Dia bertanya dalam kepalanya namun dia tidak menemukan jawaban apa pun. Dia pun tak mengerti apa arti cinta sejati, dia hanya tau memandang lelaki di sampingnya ini sudah dapat dikatakan cinta. Dia bukan seorang pujangga cinta, tampangnya juga tidak menunjukkan bahwa dia ahli cinta atau orang yang sedang belajar ilmu cinta. Dia lebih mirip anak kecil berumur lima tahun, polos dan selalu murah senyum. Tapi dia sangat penasaran tentang apa itu cinta yang sebenarnya. Dia menyandarkan punggungnya di kursi pojok dekat jendela, tempat favoritnya di kafe ini. Bahkan pelayan kafe dan pengunjung setia kafe ini pun sudah hafal dengan mukanya yang selalu tersimpul senyum ramah.

Di sampingnya ada lelaki yang sangat disukainya. Lelaki itu menghela nafas, matanya jenuh memandangi garis dan bidang laptop yang berada di depannya. Walaupun begitu matanya tak beranjak pergi dari monitor. “Mau kubantu?” Tawar gadis yang biasa disapa Hera dengan senyuman hangat yang selalu merekah di bibir mungilnya. “Tidak, terima kasih. Aku akan selesaikan sebentar lagi. Maaf ya kamu tunggu dulu sebentar lagi.” Ucap lelaki berkaos hitam di sampingnya tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop yang berada di depannya. Detik demi detik berlalu cepat hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul sebelas. Siang itu, udara kota ini sudah panas luar biasa. Matahari sudah condong ke barat, namun derajat kemiringannya tidak terlalu signifikan untuk menggelincirkannya ke balik gunung. Jalanan di depan kafe ini tampak mengeluarkan bayang-bayang asap seperti sedang menguapkan aspalnya. Lengang. Sesekali melintas mobil dan motor dengan kecepatan tinggi menyusuri jalan di depan kafe ini. Semua orang sedang berteduh di rumahnya masing-masing, dibuai dinginnya penyejuk ruangan yang diatur pada suhu serendah mungkin. Atau bagi masyarakat lain yang hanya ditemani kipas angin yang berputar-putar memberi angin ke seluruh ruangan.

Tak terkecuali Hera dan Reihan, mereka berada di kafe lantai tiga dengan fasilitas penyejuk ruangan yang cukup memanjakan para pengunjung yang menetap di kafe ini. Namun, ada yang salah dengan hari ini, matahari terlalu terik menyinari bumi. Entah kemana pula mendung-mendung yang biasanya memayungi. Sejak beberapa bulan lalu, pertama kali Hera menginjakkan kaki di kota ini, ia disambut dengan cuaca mendung dan paling telat malam hari, hujan pasti turun dengan derasnya. Keheranannya pun terjawab, dia pernah membaca sebuah berita di koran lokal yang menyebutkan bahwa kota ini memang tak mengenal musim penghujan maupun kemarau. “Gila! Di luar panas banget. Untung aku bawa mobil.” Ucap Reihan sembari memejamkan matanya dan mengangkat tangannya ke atas untuk meregangkan otot-otot dan sendi-sendi yang sudah tegang setelah mengerjakan tugas. Ketika dia membuka matanya, dia melihat Hera yang sudah tersenyum hangat memandangnya. Dibalasnya senyuman itu dengan belaian lembut yang ditaruhnya di kepala Hera. “Makasih ya, sayang, kamu sudah mau menunggu aku ngerjain tugas. Sekarang kita makan dulu.”

Reihan memanggil pelayan kafe untuk memesan makanan. Hera masih melihatnya. Memandangnya dengan tatapan hangat. Tatapan penuh cinta tanpa nafsu senggama. Reihan yang cerianya berbincang di sana dengan pelayan kafe dan Hera yang selalu bahagia, tersenyum melihat tingkah Reihan yang menurut Hera sangat unik dan berbeda dengan orang lain. Hera sangat menyukai hobinya yang sekarang suka memandang lelaki di depannya ini bahkan sejak mereka duduk di kafe ini. Tidak akan pernah terlintas rasa jenuh dan merasakan kebosanan ketika mata indahnya menatap Reihan. Sadarkah, Rey, ada sepasang mata yang selalu memerhatikanmu. Melihat ketampananmu dan selalu mengagumimu. Batin Hera bahagia. Kafe ini adalah saksi bisu Hera yang amat mencintai Reihan. Tempat Hera berbagi segala perasaan cintanya pada Reihan. Mata ini selalu memandangnya tanpa menghiraukan apapun yang mengganggunya. Hera terlalu mengagumi Reihan, terlalu menyayangi dan amat mencintainya. Hingga dia tak tau bagaimana cara mengendalikan rasa cinta itu.

Hera masih bertanya-tanya apakah ini cinta yang sesungguhnya. Apakah cinta ini akan terus setia bersemayam di hati ini. “Aku sangat mencintaimu, Rei.” Ucapannya itu keluar tanpa perintah dari si empunya suara hingga membuat Hera salah tingkah dan pipinya merah bak kepiting rebus yang baru diangkat. Sebenarnya, tak ada salahnya jika sepasang kekasih saling menyatakan cinta satu sama lain. Justru hal itu dapat membuat sepasang kekasih semakin mencintai dan semakin memperkuat hubungan cinta mereka. Namun, Hera tetaplah wanita yang mudah tersipu jika tiba-tiba mengatakan cinta. “Aku lebih cinta kamu, Her.” Reihan membalas penyataan Hera dan Hera memalingkan wajahnya menatap ke arah jendela untuk menutupi semburat merah di pipinya. “Tatap aku, Her. Bukannya kamu suka menatap aku? Aku sadar kok ada yang selalu memperhatikanku saat nugas, saat berkendara, saat berjalan, setiap saat dan setiap detik.” Jelas Reihan sukses membuat Hera tertegun sekaligus tersipu malu. Hera merasakan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Jantungnya berdetak kencang seperti akan meledak, aliran darahnya seolah mengalir melawan arus yang seharusnya, semuanya diluar kendalinya. Reihan tersenyum dengan matanya yang tetap memandang takjub pada gadis di depannya. Gadis di depannya ini berhasil membuatnya melupakan sekitar, dan hanya tertuju padanya seorang. Matanya begitu jernih, hidungnya kecil dan tinggi, bibir raspberry-nya, dan kulit putihnya yang terasa lembut di tangannya.

Hera salah tingkah dan matanya tak dapat lagi menatap mata Reihan. Ia ingin menjernihkan hatinya dari lelaki di depannya ini. Dia sangat berbahaya bagi jantungnya. Senyumnya sekarang terus bermunculan dan menari-nari di otaknya. Pipinya masih terasa panas akibat senyuman hangat dari bibir Reihan. Ia terus mengalihkan muka ke arah lain karena jantungnya itu sangat lemah terhadap hal-hal seperti itu. Ia tidak bisa untuk tidak tersipu. Hera masih setia dengan jantungnya yang tak terkendali sambil memangku tangan di atas meja. Sesekali ia menatap sekeliling tempat yang hanya dipenuhi beberapa pasangan ini. Tak lama, suara piano terdengar berdenting pelan dengan alunan melodi lambat. Beberapa detik kemudian, para violinis menghampiri kami dengan melantunkan melodi lagu One Step Closer , suara berat seseorang di depanku menyapa indra pendengaranku. “Hera,” pelan tapi pasti, tubuhnya berangsur mendekat pada Hera yang masih tidak percaya.

Matanya menatap Hera dalam dan serius. Reihan mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk hati warna merah. Menyodorkan pada Hera setelah membuka benda itu. " Will you marry me and be mine forever? " Mata Hera berkaca-kaca. Bahkan cairan bening itu keluar dari sana tanpa aba-aba. Hari ini benar-benar hari yang sangat mengagetkan bagi Hera sekaligus membahagiakan. Ia masih terdiam. Speechless . Tidak percaya memang jika hubungan yang baru berjalan beberapa bulan ini berakhir dengan Reihan yang melamarnya. Hubungan yang meningkat satu tahap di atas pacaran. Yaitu pernikahan. “Yes, I, I will.” Jawab Hera tergagu. Dipeluknya tubuh Hera dengan erat. Pelukan dari Reihan yang sukses membuat jantung Hera dua kali hampir copot dari tempatnya. Hera tau Hera hanyalah manusia biasa yang hanya dapat berharap pada Tuhan, manusia yang hanya dapat meminta pertolongan pada pemilik alam semesta, manusia lemah yang tak tau jalan nasib dan takdir hidupnya. Pada hari yang penuh cinta dan amat membahagiakan, ia hanya minta satu hal pada Tuhan dan berharap Tuhan dapat mengabulkannya, ia berharap dalam hati sembari memejamkan mata, aku tidak tau mengenai seluk beluk cinta sejati tapi Reihan telah membuatku bahagia setiap hari yang bersama kita lalui, oh Tuhan pencipta alam semesta. Aku mohon padaMu, Tuhan, aku ingin Reihan menjadi suamiku selamanya. Abadikan kisah cinta kita dalam buku takdir hingga mencapai surgaMu.

#LombaCerpen
#dictiocommunity
#ManusiaDanCinta