Cinta Baru untuk Papa

dictio papa
Sumber: https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Flifestyle.okezone.com%2Fread%2F2019%2F09%2F11%2F196%2F2103676%2F5-alasan-putus-cinta-lebih-baik-daripada-bertahan&psig=AOvVaw0Vg2Q9GhcFWlRkqOuDhDvy&ust=1595861057552000&source=images&cd=vfe&ved=0CA0QjhxqFwoTCNjP0cyU6-oCFQAAAAAdAAAAABAD

Awalnya, hubunganku dan Bu Nana hanya sebatas murid dan guru Matematika saja. Tak pernah tebersit dalam benakku bahwa suatu saat dia akan menjadi ibu tiriku. Membayangkan akan tinggal satu atap dengannya saja membuat bulu kudukku berdiri. Tindakanku kali ini sudah tepat. Aku memang harus bertindak tegas. Ya, aku kabur dari rumah dan memilih menginap di rumah Zoya selama Papa masih tetap bersikukuh menikahi Bu Nana.

Malam ini malam ketiga aku menginap di rumah Zoya. Berhubung besok libur, aku dan sahabatku sejak SMP itu berencana untuk begadang menonton drama Korea sampai besok pagi. Baru lima menit kami merealisasikan rencana kami, tiba-tiba ponselku berbunyi untuk menunjukkan bahwa Papa menghubungiku. Aku me- reject -nya, mengabaikan saran Zoya yang memintaku untuk mengangkat telepon tersebut sekali ini saja setelah tiga hari belakangan selalu melakukan hal serupa yang baru saja kulakukan.

Aku sedang meraup kacang goreng di stoples untuk kemudian memasukkannya ke mulut saat Papa mengirim SMS padaku yang awalnya kukira isinya sama seperti kemarin-kemarin. Ternyata kali ini di luar dugaan. Papa mengatakan bahwa dirinya tidak jadi menikah dengan Bu Nana dan memintaku untuk segera pulang. Ah, yang benar saja. Persiapan pernikahan Papa dan Bu Nana bahkan sudah hampir sempurna dan mereka akan naik pelaminan kurang dari dua minggu lagi. Tetapi karena rasa sayang Papa padaku yang berlebihan—hehehe—Papa rela membatalkan itu semua. Aku memang terdengar egois, namun bukan tanpa alasan aku menyatakan bahwa Bu Nana tidak layak menjadi ibu tiriku. Lain waktu kalian pasti juga akan tahu sendiri.

Aku menunggu jemputan yang dikatakan Papa, di depan pagar rumah Zoya lengkap dengan koper yang isinya baju-bajuku, tentu saja—aksi minggatku seniat itu memang. Papa bilang aku akan dijemput oleh seseorang yang mengendarai mobil sedan berwarna putih. Huh, aku jadi penasaran siapa orang yang diberi kepercayaan lebih oleh Papa tersebut.

Butuh waktu tiga puluh menit hingga akhirnya jemputanku datang. Selama itu pula aku dan Zoya menjadi sasaran empuk nyamuk-nyamuk yang doyan berkeliaran baik di dalam maupun di luar rumah Zoya. Sama sekali tak terbayang olehku bahwa yang akan keluar dari mobil jemputan tersebut adalah Raka. Cowok ini seangkatan denganku di SMA yang sama—Zoya tidak kenal sebab cewek itu tidak satu sekolah denganku. Aku dan Raka tidak pernah sama sekali menyapa satu sama lain. Aku tahu namanya karena dia sering digosipi cewek-cewek di kelasku. Penampilannya sih keren, wajahnya juga ganteng. Tapi ia selalu terlihat sendirian dengan buku bacaan yang tebal di perpustakaan.

Aku meringis kala Zoya mencubit pinggangku. Cewek itu berbisik bahwa aku beruntung dijemput oleh cowok sekeren Raka. Aku justru khawatir tentang apa yang akan terjadi selama di perjalanan sebab belum kuketahui sama sekali cowok itu tipikal seperti apa. Tanpa banyak bicara lagi, cowok itu mengambil koperku dan menempatkannya di bagasi mobil. Zoya berbisik kembali bahwa sikap Raka sangat gentleman . Aku memutar bola mata, mengatakan bahwa itu memang yang seharusnya ia lakukan.

“Ih kok dia nggak bukain lo pintu, sih?” Zoya berujar gemas mendapati yang dilakukan Raka selanjutnya hanyalah duduk di kursi pengemudi, tanpa mengucapkan apa-apa. Entah tidak sopan, entah malu atau apalah itu namanya, aku tidak begitu peduli. Yah, aku jadi mengerti kalau cewek-cewek kebanyakan di sekolahku hanya melihat seseorang berdasarkan fisik saja.

Setelah berpamitan pada Zoya, aku langsung berjalan melewati kap mobil dan duduk di kursi penumpang. Aku membuang muka dari Raka dan sudah dapat ditebak bahwa tidak akan ada perbincangan antara kami di mobil.

Aku mengerling pada Raka saat tiba-tiba cowok itu menyanyikan lirik salah satu lagu keluaran tahun sembilan puluhan. Dia menyanyikan lagu berlirik sedih dengan setengah berteriak dan hampir di seluruh nada, suaranya fals. Aku mencoba tidak peduli, namun lama kelamaan suaranya semakin memekakkan telinga hingga membuatku harus menatapnya terang-terangan.

“Kenapa? Suara gue bikin kaca pecah?”

“Nggak sih, gendang telinga gue yang pecah.”

“Oh, kalau gitu coba lo yang nyanyi. Siapa tahu suara lo yang bikin kaca pecah.” Dia mengatakan itu sambil cengengesan tanpa rasa bersalah.

Aku tahu dia pasti sedang menyindirku atas kejadian setahun yang lalu. Waktu itu sedang tidak ada guru yang mengajar di kelasku. Karena tidak ada tugas yang ditinggalkan, aku pun memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengadakan konser dadakan di depan kelas. Teman-temanku bilang aku memiliki suara yang merdu, tapi ya cukup sampai di sana. Aku belum punya mental yang cukup untuk mengikuti ajang pencarian bakat atau lomba-lomba bernyanyi lainnya. Berbagai macam lagu kunyanyikan diikuti oleh anak-anak cowok yang mengalihfungsikan meja menjadi gendang, sampai akhirnya kegiatan itu dihentikan oleh sosok Bu Nana yang tahu-tahu saja sudah berdiri di ambang pintu kelas.

Udah selesai nyanyinya? ” Dengan suara datarnya yang menyebalkan, guru itu berkata, “ Udah berapa kaca yang kamu bikin pecah?

Aku mendengus tidak terima saat dia berkata seperti itu, tetapi tiada yang bisa kulakukan selain membenci sosoknya. Ditambah lagi otakku sedikit bebal dalam pelajaran Matematika. Hah, tidak terhitung sudah berapa kali aku dipermalukan di kelas ketika pelajaran Matematika berlangsung.

“Bercanda, sori ya. Dulu gue kebetulan lewat di kelas lo, terus denger deh, Bu Nana ngomong gitu,” ujar Raka seraya menghidupkan radio mobil. Atmosfer yang tadinya terasa kaku sedikit mencair dengan suara renyah sepasang penyiar di dalam sana.

“Udah tau.” Itu adalah bahasa halus dari “aku tidak peduli”.

“Terus gimana? Masih dendam sama calon ibu tiri?”

Aku berdecak. Tahu apa dia soal “dendam”-ku.

“Mantan calon ibu tiri,” koreksiku dengan menegaskan kata “mantan”.

“Sayang banget, padahal tinggal dua minggu lagi, lho.”

Mulutnya sungguh tidak sopan, membuat dugaanku semakin kuat bahwa dia ini adalah anak dari Bu Nana, tapi aku tentu saja gengsi untuk bertanya. Lebih baik fokus memperhatikan jalanan kalau tidak mau dia membawaku ke jalan yang salah.

Sudah satu minggu sejak aku kembali ke rumah. Dan selama satu minggu itu pula aku merasa bagai terisap nostalgia. Papa kembali menjadi seperti Papa yang asing bagiku. Seperti Papa lima tahun yang lalu, saat Mama meninggalkan kami berdua untuk selamanya. Pagi ini Papa duduk sendirian di kursi teras rumah sambil memandang lurus ke depan. Pandangan matanya kosong, aura kesedihan terpancar nyata dari wajahnya yang teduh.

Aku menghela napas. Seketika rasa bersalah menghantamku. Apa kesedihan Papa kali ini disebabkan oleh aku? Lantas sampai berapa lama lagi aku akan melihat Papa terus seperti ini? Baru saja aku ingin mendekati laki-laki itu saat tiba-tiba sebuah pemikiran yang sebelumnya tidak pernah terlintas—bahkan cenderung kuusir—di pikiran menyergapku. Sebagian kecil diriku mengatakan bahwa ini adalah hal gila yang pernah kuputuskan dalam hidup, namun sebagian besarnya mengatakan bahwa hal gila ini adalah sebuah keputusan mulia yang tidak akan pernah kusesali sampai kapan pun.

Aku mangambil ponselku di meja TV, menghubungi seseorang, sebelum akhirnya berjalan menuju teras seraya membawa nampan berisi dua gelas teh manis panas.

Papa tersentak melihat kehadiranku. Kentara sekali senyum yang ia pancarkan menyimpan berjuta kesedihan. “Buat Papa?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Kebetulan, Papa lagi kangen ngeteh bareng kamu.”

Aku mengurungkan niatku untuk berkata bahwa teh satunya lagi bukan diperuntukkan untukku dan memilih untuk duduk di kursi sebelah meja yang menjadi pembatas antara kami berdua.

“Papa lagi mikirin apa?” Aku menatap Papa, terlihat jelas lingkar hitam menghiasi bagian bawah matanya.

“Kerjaan kantor,” Papa menyesap pelan teh yang kuberikan, “tapi habis minum teh buatan kamu langsung hilang bebannya.”

Aku tergelak, hanya untuk menunjukkan bahwa seolah diriku tidak tahu-menahu tentang kesedihan Papa yang sebenarnya. Kami mengobrol tanpa sedikit pun menyinggung hal-hal yang sedari tadi mengganjal di pikiranku.

Sembari mengobrol, aku terus menghitung detik, sampai akhirnya detik yang kunanti itu datang dengan wujud sebuah mobil sedan putih yang berjalan memasuki pintu pagar rumahku.

“Nah itu tamu istimewa Papa udah dateng. Mulai sekarang aku nggak akan ngelarang Papa ngedapetin apa yang seharusnya memang jadi hak Papa.” Aku tersenyum geli melihat wajah Papa yang kebingungan. “Selamat jadi pengantin baru lagi ya, Pa. Aku nyari udara segar dulu di luar.”

Tanpa menunggu jawaban dari Papa, aku bergegas melarikan diri menuju entah ke mana. Setidaknya aku ingin memberi “ruang” pada Papa dan Bu Nana guna membicarakan apa yang belum sempat mereka ungkapkan. Pada akhirnya aku memutuskan untuk bersembunyi di balik dinding di samping pagar rumahku. Kurasa tempat ini cukup strategis untuk bisa melihat bagaimana ekspresi Papa saat dipertemukan kembali dengan Bu Nana dan saat inilah kuketahui bahwa “lampu hijau” yang kuberi pada mereka sama sekali tidak salah.

“Luna.” Aku terlonjak mendengar suara bariton dari belakangku. Untung saja mulutku cepat-cepat kubekap sehingga tidak ada suara teriakan yang mencurigakan.

“Gimana mantan calon ibu tiri lo?”

Ternyata Raka. Papa bilang, cowok ini adalah keponakan Bu Nana.

“Calon ibu tiri,” jawabku dengan penuh penekanan di setiap kata.

Raka tersenyum. “Kok tiba-tiba berubah?”

Aku nyengir. “Karena gue nggak mau liat bokap sedih. Selama ini gue udah banyak banget dapat perhatian dan cinta dari bokap. Sekarang gue nggak mau ngehalangin bokap untuk dapat perhatian dan cinta dari orang yang dia cintai,” jawabku, tidak mengerti kenapa aku mau menjelaskan hal itu pada Raka.

Senyum Raka sama sekali tidak memudar. Kali ini ia menatap manik mataku sangat intens seolah khawatir bola mataku akan meloncat keluar jika tidak dia pandangi seperti itu. Aku mengernyit melihat dia maju selangkah untuk mendekatiku.

“Mau cinta yang baru nggak? Mungkin emang nggak sebesar yang bokap lo kasih, tapi ya usaha aja dulu.”

Aku mengerutkan kening semakin dalam. Satu pernyataannya menimbulkan beribu pertanyaan dan spekulasi di benakku.