Cincin emas putih

Aku tak pernah merasakan hal yang paling mematahkan hatiku sebelumnya. Kalau bukan sebuah cincin emas putih yang mengkilat-kilat di balik cahaya mentari. Tersematkan di antara jemari kekar lelaki yang selama ini diam-diam aku mengaguminya hingga tenggelam dalam pusaran harapan.

“Nanti enggak ada kuliah Pak Tio kan?”

“Enggak ada. Katanya ditiadakan dulu, ada kepentingan.”

Mendengar sebuah nama yang terlontarkan teman-teman, aku jadi terkesiap. Refleks sepasang mataku langsung saja menemukan sosok yang baru saja menjadi perbincangan kami. Dia – lelaki yang terkenal sebagai dosen kami tengah duduk di teras kecil gedung falkutas. Entah mengapa… karena serpihan pantulan cahaya matahari justru menarik perhatianku pada benda yang tersematkan dijemarinya, walau hanya dengan sekali pandang belasan langkah kaki dari tempatku duduk.

Apakah itu sebuah cincin? Cincin emas putih?

Dadaku bergemuruh. Mulai terasa sesak dan perih yang tak berkesudahan. sekali lagi, menerka-nerka, “Apakah dia sudah menikah?”

Bahkan aku sama sekali belum pernah mendengar soal status pernikahan tentang dirinya. Hingga akhirnya, cincin emas putih itulah seakan menjawab semua pradugaku. Lama tertegun. Mengabaikan semua obrolan teman-teman sekelas yang berkumpul di gazebo.

“Aku… pulang dulu ya,” kataku berusaha menyembunyikan separuh suara yang bergetar.

“Lhoh? Cepet banget. Nggak nanti aja dulu?”

Aku hanya menggeleng pelan. Tak tahu apa yang bisa kujadikan alasan selain cincin emas putih yang baru saja kulihat di jemari pak Tio. Dan tanpa membuang waktu, tubuhku perlahan bangkit. Kupaksakan sepasang kaki ini melangkah gontai. Meninggalkan gazebo yang biasa dijadikan tempat berkumpul saat menunggu jam kuliah dimulai.

Pak Tio masih tetap duduk di sana. Tak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hatiku ini saat menatap nanar cincin emas putihnya.


Kujatuhkan tubuh diatas lembutnya sajadah. Tanda mulai tak mampu lagi menahan rasa yang kini merajam hati. Diantara air mata yang berlinangan, aku merintih. Menyesali diri, tak seharusnya aku mencintai dia hingga merajut harap pada seseorang yang sah menjadi milik orang lain.

Bibirku yang semula terkatup rapat. Tak mampu bersuara, seakan berat untuk meluncurkan sepatah kata pun juga. sembari bergetar aku bersendandika, “A…aku ikhlas ya Allah,”

“Aku ikhlas, jika ini adalah akhir dari harapanku kepadanya.”

“Jika memang dia bukan milikku, apa yang bisa kulakukan?”

Cincin emas putih itu adalah kenyataan yang tak bisa kuelakkan. Bahkan aku sendiri tak mengerti, mengapa pertahanan hatiku begitu goyah. Tak mampu menghalau perasaan tak wajar terhadap dirinya. Apakah itu yang disebut dengan cinta? walau kini sudah tumbuh menjadi harapan dan dihancurkan begitu saja oleh sebuah takdir.

Kucoba menarik napas diantara sesak yang mengganjal rongga dada. Sementara isak tangis ini, semakin lama menyakiti tenggorokan.

Butiran demi butiran memori kembali berhamburan keluar dari dalam pikiran. Tentang kehadiran Pak Tio yang menghiasi hidupku. Tak pernah kuduga, bahkan kurencanakan. Perasaan tak wajar itu begitu cepat, melesat. Dan akhirnya merasuk ke dalam hati menjadi renjana.

“Ya Allah,”

Rintihku dipenuhi oleh keputus asaan. Tanganku terangkat ke udara, berselimutkan oleh kain mukena. “Jika ini adalah takdir yang telah engkau tetapkan, bisakah engkau jauhkan dia dariku untuk saat ini dan seterusnya?”

Dengan segala susah payah, aku berusaha melepaskan semua perasaan dan harapan itu. Meski rasanya jauh lebih menyakitkan daripada melihat kenyataan cincin emas putih dijemarinya.

Kepalaku terbaring di atas sajadah. Kubiarkan pula tetes demi tetes air mata yang mengalir, membasahi kain beludru.


Hari demi hari setelahnya. Memaksa diri untuk menyesuaikan kenyataan yang ada bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Acapkali hatiku terus menjeritkan kata “Aku ikhlas dengan semua ini,”

Namun pada akhirnya, aku terus dihadapkan oleh kehadiran pak Tio setiap saat. Dulu kehadirannya bagaikan semerbak bunga harum, yang menyambut hangat pagiku. Namun saat ini … hanyalah tersisa duri-duri renjana yang terus mencabik-cabik hati.

Aku mencoba bertahan, terus melangkah meski kuabaikan seluruh perasaan yang pernah ada tentang dirinya. Meski tatap mataku tak berhenti, menekuri cincin emas putih yang melingkar dijemari kekar pak Tio.

Apakah aku membencinya saja?

Membenci perasaan yang dulu datang tak kuinginkan. Membenci seseorang yang kini membuat hatiku patah berkeping-keping, bersama kenyataan yang kian menyiksa hati. Berharap … hanya dengan cara itu, aku tak akan merasakan bahwa dulu pernah ada satu rasa yang tak terjabarkan. Tentang seorang pria muda yang memberikan semerbak harum melalui hadirnya dia – bersama deru motor CBR merah yang terparkir di pelataran kampus.

Meski sejujurnya aku tak dapat menjamin, apakah itu akan berhasil? Atau justru membuat perasaan itu tetap kekal abadi. Tetapi membusuk di palung terdalam hatiku. Aku tak punya pilihan lain. Dan lagi… aku tidak akan mungkin terpaksa membencinya jika bukan sebab cincin emas putih dijemarinya.

SELESAI