Cerpen: (Rumah)


Sumber: foto pribadi

Rumah

Sebenarnya mata masih sepet. Jalan pun masih terasa melayang. Tak ada tujuan, tapi aku harus keluar dari rumah.

Pagi tadi suasana rumah mendadak sepi. Aku masih tergeletak di kasur dengan bantal lepet kesayangan.

Mumpung masih libur, aku berpikir “Mungkin ga apa-apa kali ya bersantai sekali-kali. Jarang-jarang memanjakan mata dan membiarkannya menutup sejenak”. Inilah jadinya kalau ketiduran setelah solat subuh. Hasilnya, jadi gini, super males.

Tiba-tiba di luar kamar terdengar suara dering hp “Bukan hp aku. Paling hp sepupu ku”. Aku pikir.

“Hallo”. Suara siapa itu? mata yang terpejam manja, otomatis terbelalak. Suara laki-laki, tapi bukan suara paman. Perasaan paman dan bibi sudah berangkat ke kantor.

Tidak ada suara yang lain.
“Kemana kedua sepupu ku?”. Setelah diingat-ingat, mereka sudah berangkat untuk berobat ke puskesmas.

“Berarti ada orang lain selain aku di rumah? Dan laki-laki pula”.
“Astagfirullah…aku harus keluar rumah.”

Kayaknya dia, orang yang sama yang katanya sudah dianggap anak oleh paman dan bibi, dia yang selalu memberi keuntungan buat bibi, dia yang katanya sahabat sepupu laki-laki ku yang sudah tidak tinggal di rumah ini lagi, dan dia yang katanya sering membantu bisnis-bisnisnya bibi (yang sayangnya selalu bertentangan dengan sudut pandang yang aku).

Bodo amat dia siapa. Yang pasti aku harus keluar dari rumah dan sebuah ketidakmungkinan kalau aku usir dia. Siapa aku? Hanya numpang sedangkan dia menguntungkan yang punya rumah. Mau nge-kost, tidak diizinkan.

Belum mandi?, Bodo amat, aku tak peduli. Kemana akan pergi?. Nanti aku pikirkan setelah keluar dari rumah aja.

Batasan wilayah khusus dan wilayah umum buat perempuan saat ini seperti tidak ada batasannya. Orang bebas keluar masuk rumah orang yang dianggap sudah dekat dengan suatu keluarga itu.

Ku ikuti aja langkah kaki, yang akhirnya berhenti di Dispusipda nama lain dari perpustakaan daerah. Satu-satunya tempat pelarian ketika ga ada tempat lain lagi buat lari.

Doa ku di Bulan yang katanya Alloh mengabulkan setiap hamba yang berdoa, “Semoga dalam waktu dekat bisa tinggal di sebuah rumah -ga perlu milik sendiri, ngontrak pun tak masalah- yang di sana menjaga privasi perempuan dan melindungi aurat perempuan. Tidak ada laki-laki asing yang berani keluar masuk dengan se-enaknya lagi”.

"Yang bisa memposisikan mana: 1. wilayah khusus perempuan (dia bisa membuka jilbab dan kerudungnya dengan aman, yang ada di dalamnya hanya mahrom dan keluarganya).

  1. Wilayah umum perempuan (di luar rumah dan dia harus mengenakan jilbab dan kerudung dengan sempurna supaya perhiasan dalam dirinya terlindungi dari mata-mata syahwat sehingga terjaga lah kemuliaannya).

Catatan El

1 Like