Cerpen : Rawat ingat

junieawanbagaskara_20201003_2

Pukul dua pagi lewat lima belas, seorang lelaki terjaga oleh sebab entah ingin menjaga malam, atau malam yang terus menjaganya agar tetap berdiri pada balkon rumah tempatnya menyusun mimpi tapi ia juga terlupa tidak pernah tidur. Di temuinya sunyi pada ingatan yang menggelepar, juga risau nya rerumputan yang sedang tumbuh untuk kambing atau tempat bernaung para serangga kecil yang saling membunuh. Anginnya menggoyangkan tubuh, seperti menyapu bulan pada tepian subuh. Di ujung malam ia baru menyadari bahwa semesta tak perduli atas ada atau tiadanya keberadaan dia. Ia bukan serpihan, atau bahkan mungkin bukan bagian dari alam semesta. Melengkapi? Siapa kau? Lalu Ia bertanya untuk apa ia dikirim ke bumi selain untuk beli sarapan dan update instastory. Ia mulai menghisap rokoknya dalam dalam, inilah proses khikmat seorang lelaki, dimana ketika asap nikotin keluar dari rongga mulutnya, munculah banyak pemikiran pemikiran hidup. Ia sedikit aga lama menahannya , kemudian mulai menghembuskan asap dengan pelan, memejamkan mata pertanda di mulainya pertunjukan. Mengepul membentuk kata
“Istirahatlah pada pelataran hidup yang pagi, yaitu yang menjadikan seorang manusia menjelajahi sosial media, mengembara pada tiap kolom komentar penuh propaganda.
Rebahlah dari deru mesin yang memekikan telinga, di tempat mimpi yang di rakit sedemikan rupa, terampas kepentingan penguasa.
Tanggalkanlah penat atas surga yang dijajakan goretan pena koran pagi, yang terbentuk dari neraka tereplikasi
Reda lah angka angka , berhenti mengudara pada tulisan media media, berilah jeda nafas untuk tertawa
Reduplah api yang membakar bunga di jalan, oleh sebab di renggutnya senyum pedagang kaki lima, juga kering nya keringat buruh yang di peras habis tuan tercinta
Singgah lah sejenak pada isi kepala orang orang kecil, temui mimpi mimpi yang patah juga jangan sesekali mengajarkannya tabah dan berdoa
Kenyanglah tubuh, oleh mata yang melihat tarian kekacauan, hidung menusukan bau asap ban bekas juga bunyi nyanyian yang tergesa gesa bergerak sporadis kedalam telinga
Padamlah amarah, pada saat ego satu golongan berpacu dengan ego ainnya, mulailah melukis bumi dengan air mata dan darah
Sembuh lah akal waras, lindungi spiritualis di tengah masyarakat urban, sekelumit birokrasi bobrok mencair dalam kopi satu gelas.
Lenyaplah risau, yang berebutan jatuh diatas kepala untuk kemudian turun melalui sekat sekat lorong penuh goretan menuju hati manusia”
Monolog ironi tengah malam pada kepala laki laki, segala perdebatan di dalamnya terbingkai rapih di sudut tembok kenangan, mendayu angin sepoi malam menghelai tubuh berkaoskan band metal. Kemudian meracau pada kepul asap kopi yang mendebur Menjelma diktator di sela senyummu, Ku perintahkan kau tidak usah secantik itu, apa apaan mata seindah itu, sudah berapa pasang mata yang mengkristal karnamu. Lengkungan bibir itu mendelegasikan perang bagi tiap pria.
Dan jari lentik memonopoli dengan eloknya, apa kau tidak merasa berdosa sedikitpun?
Ini peringatan terakhir.
Serahkan hatimu atau senyummu akan membawamu ke guillotine. Kemudian dimensi membawa cerita lain untuk berjatuhan di atas kepala, mendebat akal batin dan jiwa. Berkecamuk, terakumulasi menjadi air mata pada sujud pertama . Tingkatan spiritualitas di tengah umat kontemporer membias. perlahan terlintas. Jika saja kegelisahan ini dianggap sebagai bentuk pengakuan diri dan lemah di hadapan panjenengan, lebih baik begitu. Atau artefak suci atas firmanmu yang rill lantas kan menjadi memorabilia. Berdebu, kusut terpajang di selipan buku pos modernitas, homo deus, juga zine loakan yang di beli sebagai dukungan pegiat industri kreatif. Humanism katanya. Duniawi. Begitu ucap hati, hati miliknya. Yaitu yang menciptakan masyarakat plural. Selagipun seragam, jika menyelami dan mulai mengekplore di segment populer/mainstream maupun underground. Hati manusia penuh kotoran