Cerpen : Kiambang

###Kiambang
Beni Setia


PARUNG gampang dicapai dengan bus atau elf. Cukup bilang pada kernet atau kondektur, “Parung, Kang,” dan angkutan itu akan berhenti di Parung.

Tinggal apa milih di jembatan Cijanari yang paling ujung kalau dari Kanyere dan paling awal bila dari Natrat, atau di pertigaan bila dari Natrat dan di bawah beringin tepi Cijanari— yang menekuk sejajar jalan— bila dari Kanyere. Loncat dan tinggal pilih: mampir ke kios es, bakso, mi kocok, soto, sate, nasi goreng, bercukur, naik ojek, dan lainnya di sisi timur tepi Cijanari, atau menyeberang ke perumahan dan pertokoan kiri-kanan alur lurus ke Bayeungyang–di perbukitan Kalepatan.

Perbukitan angker, dan dianggap bekas Kerajaan Kawisesan– menurut dongeng orang tua, dikutuk jadi siluman. Kutukan itu sendiri tak begitu jelas. Ada yang bilang karena Raja Wiguna marah anjingnya diusir dari masjid oleh sufi pengembara, lalu si pengembara itu diundang makan dan dijamu menu sate anjing, tapi karena si sufi itu mengerti maka ia mengutuk semua orang jadi kera.

Kata yang lainnya lagi, ada sufi pengembara minta izin mendirikan masjid, tapi sang Raja Wiguna lancang mengujinya dengan menyuruh anaknya pura-pura hamil, dan si sufi diusir ketika mengatakan putri raja hamil. Dan memang hamil, sehingga raja menangis dan ditinggalkan rakyatnya.

“Masjid itu, lebih tepatnya: tajug itu yang saya maksudkan sebagai al-Mauunah, yang muncul dalam mimpi dan berulang kali muncul dalam mimpi,yang mihrab-nya sangat dekat dan nyaris berdempet dengan Kakbah–meski faktanya terletak jauh dari Mekkah, terletak di Sunda sini. Dalam salat istikharah tempat itu akan dicapai dari Parung, dari beringin yang tumbuh di tepi Cijanari. Ini kan?”

“Ini emang Parung, ini Cijanari dan beringin itu telah ada sejak buyut saya, Pak. Kisah Kerajaan Kawisesan di perbukitan Kalepatan sana itu memang ada diceritakan oleh neneknya nenek saya. Tapi benar-tidaknya, tidak ada yang percaya. Itu dongeng. Tak ada bekas kerajaan di sana–terlebih masjid al-Mauunah. Itu cuma dongeng.”

“Tapi saya yakin …”

“Nah! Itu jalan ke arah perbukitan Kalepatan. Tinggal jalan, tinggal cari …”

“Terima kasih!”


AJA Maning terbahak-bahak, bilang kepada semua tukang ojek dan calo yang mangkal di bawah beringin itu, bahwa ada yang gila yang percaya akan keberadaannya Kerajaan Kawisesan.

“Dan bahkan kini mau ke sana mencari masjid, eee… hanya tajug, katanya al-Mauunah di sana. Seumur-umur aku baru dengar tuh!” teriaknya sembari menunjuk- nunjuk ke latar perbukitan yang samar 15 kilometer lebih ke timur, yang berangkai dengan perbukitan lain dan naik membentuk gugus sulur pegunungan dan memuncak di julangan Gunung Parongpong.

Yang lainnya tersenyum. Dan, Emen menyayangkan karena tak menyuruh si lelaki asing itu mencarter ojeknya. “Ada fee sepuluh persen, Ja!” katanya, mengklem.

Aja Maning cuma menggaruk kuduk. “Tak terpikir, Men. Rada gelo!”

“Ada apa, barudak?”

“Aki Sahwi! Ada yang mencari al-Mauunah di Kawisesan, Ki!”

“Euh … geus mimiti deui nya?” “Apa itu, ki?”

Aki Sahwi tersenyum. Bilang, dulu–sekitar tiga puluh tahun lalu–ada banyak orang yang datang dari Waraas di utara, malah lebih jauh lagi–Jamblang, Paseh, dan bahkan Solo dan Jawa– atau dari Kayakas di selatan, malah lebih jauh lagi–Sadang, Purwakarta, Rangkas, dan Lampung, berkumpul di Parung dan samasama bergerak ke perbukitan Kalepatan, mencari sisa Kerajaan Kawisesan.

Ada yang mencari harta, ada yang mencari pusaka, dan ada yang khusus yang mencari sisa atau mungkin cuma pondasi awal dari rencana pembangunan tajug— yang dengan yakin mereka sebut al-Mauunah.

Dahulu. Sehingga tentara turun tangan, menangkap mereka, mencatat serta mengembalikan ke kampung asalnya.

“Tak ada yang menemukan Kerajaan Kawisesan, Ki?”

“Tentara dan pemerintah bilang,tak ada Kerajaan Kawisesan– tak ada prasasti atau kronik sejarah yang menunjukkan kerajaan itu pernah ada.Semua catatan lisan di pesantren manapun tak ada yang menyatakan pernah ada santri atau kiai mereka yang berdakwah di perbukitan Kalepatan– di Kerajaan Kawisesan.”

“Jadi,tak ada ya, Ki?”

“Fisik konkret alam wadag tak pernah ada, bahkan tak mungkin ada. Tetapi di alam halus rohaniah siapa yang tahu. Banyak orang Bayeungyang, dulu, yang tinggal di udik Lembah Cawene dan di dekat mata air Sungai Cijanari, yang sesekali di awal bulan Sura sering mendengar bunyi gamelan dimainkan malam hari. Sumber suaranya berpindah-pindah, tapi katanya itu dari mata air di bawah pohon beringin tua itu–yang dulu banyak keranya itu.Karena di situlah letak gerbang kerajaan siluman Kawisesan berada. Di sana …”

“Aku nggak percaya, Ki!”

“Aki juga,Aja! Tapi banyak teman aki yang mendengar dan menelusurinya.”


PARUNG hanya gugusan warung dan rumah di pertigaan, di mana jalur provinsi merentang utara-selatan, melintasi Cijanari– menghubungkan Kecamatan Natrat serta Kabupaten Waraas di utara dan Kecamatan Kanyere dan Kabupaten Kayakas di selatan. Di mana, dari jembatan ke selatan, di bibir sungai, terletak warung dan kios makanan, bengkel, tukang cukur, serta pangkalan ojek merangkap terminal bayangan di bawah naungan beringin tua.

Di timur, di seberang,dalam pola dua “L” yang dibangun alur jalan ke Kecamatan Bayeungyang terletak gugus perumahan dan toko.Wilayah yang hidup dua puluh empat jam oleh lintasan bus antarprovinsi. Terutama siang hari ketika anak sekolah pergi ke atau pulang dari Natrat atauWaraas dan Kanyere atau Kayakas. Di hari kedelapan, ketika lelaki itu menyeberang dari pertigaan dan mendekati rimbun beringin, cerita kegilaannya setengah dilupakan orang.
Aja Maning juga agak pangling ketika lelaki itu muncul di hadapan. Tersenyum.

“Saya cape ngubek-ngubek perbukitan. Harus ada orang yang mau menunjukkan di mana kirakira letak Kerajaan Kawisesan itu,” katanya.

Aja Maning yang merokok setengah melamun di atas sadel ojek Karwita itu tersentak. Mengerutkan kening, dan terbahak- bahak. “Ieu yeuh! Ieu yeuh!” teriaknya pada semua orang.
Dan serentak semua orang merubung. Bertanya ini-itu. Memaksa lelaki itu bercerita. Manggut-manggut, dan bilang kalau tiga puluh tahun yang lalu, dulu, pernah banyak orang yang datang ke Parung, ke Bayeungyang dan perbukitan Kalepatan untuk mencari Kerajaan Kawisesan.

“Bapak mencari apa?” “TajugAl-Mauunah!” “Untuk apa?”

“Salat di sana sama dengan salat di Kakbah. Seratus delapan puluh kali salat wajib dan sunah puasa sambil beritikaf selama bulan Ramadan sama dengan kita umrah. Saya hanya mendapat ilapat meski kiai saya pernah cerita dulu.”

“Bener?”

“Hanya untuk yang percaya, Jang.” “Saya tak percaya ….”

“Silakan. Insya Allah itu benar!”

“Tapi, saya akan menolong, Bapak. Gerbang ke kerajaan lelembut Kawisesan itu terletak di sekitar pohon beringin tua yang jadi sumber mata air Cijanari ini, tepat di Lembah Cawene- Bayeungyang. Tapi, kita tak bisa langsung ke sana. Kita harus minta izin ketuk pintu dulu, dengan bersembahyang dan berdoa tiga hari tiga malam di atas batu datar di tengah Cijanari itu. Salatlah– yang wajib dan sunah. Itikaf– nanti ada petunjuk dan siapa tahu malah jemputan.

Serius! Tapi,ini hanya untuk yang percaya, bukan yang tak percaya seperti saya ini. Insya Allah itu benar!”

“Aja! Jangan ngaco, Maneh. Kasihan!”

“Diam! Gimana?” Lelaki itu tersenyum. Mengangguk- anggukkan kepalanya. Berterima kasih dan menyalami Aja Maning.

Menuruni sempadan Cijanari, melepas baju dan celananya, dan berenang hanya dengan bercelana dalam. Naik ke batu besar yang datar di tengah Cijanari–tidak peduli pada pandangan banyak orang.

Dan,Aja Maning hanya tertawa ketika ditegur, bagaimana bila Cijanari mendadak banjir. Dengan kurang ajar ia bilang, itu mah petunjuk dari Kerajaan Kawisesan–vonis ditolak masuk. Orang-orang mengangkat bahu. Bungkam, tidak peduli.

Terpikir: siapa orang itu? Dari mana asalnya? Macam mana tingkat kewarasannya? Meski mereka terkadang cemas kalau lelaki itu tak kuat berpantang tak makan dan tak minum, lantas pusing karena terpanggang matahari, dan terguling ke sungai.

Mati. Karenanya, mereka lega kalau masih melihat lelaki itu bersuci. Lalu naik ke atas batu dan mengenakan pakaiannya. Melantunkan qamat, dan salat. Bersila melafalkan doa.

Mungkin melafalkan Al-Quran secara hafalan di luar kepala. Lega dengan gerak salat. Cemas saat bersila itikaf. Lega lagi saat salat. Cemas saat khusyuk berdoa dan itikaf. Lega saat bersalat. Cemas saat bersila, berdoa serta membungkuk Itikaf. Dan, jadi tontonan banyak orang. Polisi datang. Aja Maning bilang, orang itu sedang menjalankan lelaku ilmu, jadi tak perlu
diganggu.

“Bilangnya, cuma tiga hari tiga malaman, Pak,” katanya, “Kami semua mengawasinya, dan kalau telah pas tiga hari tiga malam kami semua akan meringkusnya dan menyeretnya ke RS. Kami semua mengawasinya, Pak, dua puluh empat jam. Full.”


SORE itu Parung gempar.

Semua orang menengok ke Cijanari, ke arah batu di mana lelaki itu tiga hari tiga malam mengasingkan diri, dan di senja itu mendadak ia bangkit dari bersila: berdoa dan beritikaf. Menyerukan “AllahuAkbar” yang lantang berulang-ulang. Aja Maning tertawa.

Tapi, ia tak sempat berkomentar ketika si lelaki itu meluncur dari batu ke Cijanari, dan ajaibnya kakinya kukuh menjejak pada arus air Cijanari seakan sulur itu benda padat dan bukan benda cair yang menghilir cenderung menenggelamkan barang berbobot. Jalan pelan– tangan diulurkan terbuka depan dada dan mulutnya mengucapkan kalimat tauhid– jalan melawan arus ke hulu. Orang-orang berlari ke jembatan dan menonton lelaki itu melangkah di atas arus dan terus ke hulu. Orang-orang mengikutinya dari tepi sungai. Orang-orang bergegas ke Bayeungyang, ke Lembah Cawene, ke arah pohon beringin di mana Cijanari itu bermula. Polisi dan tentara, orang pemerintah dan banyak orang lagi berdatangan.

Mereka ingin mencegat langkah lelaki itu tapi tak bisa bilang apa-apa saat melihat si lelaki itu berjalan di arus Cijanari. Berzikir dengan kalimat tauhid saja. Semalaman, diselingi salat.

Hampir usai fajar lelaki itu sampai di telau mata air Cijanari di bawah beringin. Menarik nafas. Mengusap wajah, istigfar. Menyerukan, “Subhanallah!” yang keras, ia tiba-tiba melantangkan qamat ke arah kiblat. Mengambil posisi saalat dan melakukan salat sunah dua rakaat.

Disambung salat subuh. Lalu, setelah salam, bersila dan mulai berdoa. Sementara, di keremangan awan-awan berdatangan. Bergumpal jadi mendung. Dan setelah bunyi halilintar besar dan satu kilasan yang menyambar pohon beringin, hujan turun dengan derasnya.

Orang lari serabutan. Empat puluh tujuh menit kemudian– bersamaan dengan terang pagi–hujan reda dan dari telau mata air Cijanari lelaki itu bangkit dengan senyum tersungging.

Pohon beringin hangus. Lelaki itu bilang, “Kawisesan dilaknat Allah.” Mengangkat tangan, mengucap salam, dan meloncat ke dahan kiara, dan terbang ke pucuk pohon kawung. Hilang. Meski kemudian ada yang bilang lelaki itu punya pesantren di Banten, yang lain bilang di Patani, dan banyak yang bilang setiap tahun ia menunaikan ibadah haji di Mekkah. Dan, cerita terus dituturkan dan terus ditambahkan orang, meski tidak satu orang pun dari para penirunya bisa menemukan berkah yang sama. Tak satu pun. 

Catatan:
Elf: tipe satu merek mobil Jepang, istilah untuk angkutan umum | Tajug: musala yang berangka kayu berdinding anyaman bambu | Rada gelo: agak gila | Barudak: anak-anak |
Geus mimiti deui nya: sudah mulai lagi ya | Wadag: kasatmata, ragawi | Lelembut: halus, ruhaniah | Cawene: wanita, lebih pasnya perawan | Ieu yeuh: ini dia | Ilapat: petunjuk | Maneh: kamu | Jang, ujang: buyung, panggilan untuk yang setaraf anak | Lelaku: upaya, prosesi meraih ilmu spiritual/kebatinan.

(Seputar Indonesia | Minggu, 15 Juli 2012)