Cerpen: Kemenangan Taruhan

WhatsApp Image 2020-10-03 at 22.12.06
sumber foto: https://images.app.goo.gl/vPAQunm9oeTvjws28

“El tangkap”. Refleks tangan tanpa di komando menangkap tali. Tiga hari ini kamu harus bisa. Ahmad sang ketua PMR sekolah tiga hari ini memantau. Target bisa membuat tandu kokoh dalam waktu tiga hari memang berlebihan. Kami terlanjur menerima tantangan kepala sekolah. Dibubarkan atau ikut lomba.
Memang anggota ekskul kami paling minim, tidak diminati padahal kerja kami paling berat di Senin pagi. Yang pingsan demi yang pingsan cuma berharap pada tim angkut seperti kami.

Sampai pada hari H lomba. Di pos tiga inilah kami mulai di tantang membuat tandu dalam waktu 3 menit.
Aku dan Idah mulai merangkai simpul demi simpul.
“Kita salah tali”. Muka Idah partner membuat tandu saat itu mulai pucat.
“Ada tali sisa?” Kataku sambil muter otak.
“Waktu habis.” Juri sdh meniup peluit dengan nyaring.
“Coba tadi kalian diberdirikan.” Perintah juri.
Kami mengikuti saja apa yang diperintahkan nya.
Untuk menguji kekuatan tandu kami. Wajib satu peserta sebagai pasien yg di gotong sampai pos terakhir.

Jarak yang jauh dan panas yang menyengat. Teman kami yang bertugas menjadi pasien, beneran jadi pasien.
Sampai pos 5 anggota kami sudah tak lengkap. Muka saya sudah memerah terbakar matahari. Begitupun dengan keadaan teman-teman satu tim yang lainnya.

Ditambah mungkin pandanga teman-teman sekolah yang sedari awal sudah menyangsikan. Kami ekskul PMR memang ekskul yang paling krisis anggota. Untuk lomba saja hasil cabutan dari ekskul pencinta alam beberapa.

Dititik terlemah dan paling melelahkan kami terdiam. Tak ada harapan dan mempersiapkan mental pulang dengan tangan kosong.
Sampai pengumuman tiba, tak ada rasa antusias di muka kami.
Sampai tiba di pengumuman terakhir, “Juara Tandu terbaik adalah…no. 46”.
Suasana hening sejenak. Krik…krik…semua peserta saling lirik. Diantara mereka tidak merasa memiliki no urut 46.
“Ada no. 46?”
“Woy kamu menang tuh.” Kata peserta di sebelahku.
Ku kucek-kucek mata memastikan kalau itu tidak salah. Jeritan aku dan Idah saking senengnya membuat semua mata tertuju pada kami. Siapa sangka kesalahan tali yang kami pakai menjadikan nilai plus penilaian.

Doa ku semalam terkabul, “Ya Allah… Aku bukan murid yang membanggakan sekolah, tapi izinkanlah aku mempersembahkan satu piala saja buat sekolah sebelum aku lulus”. Itu proposal ku sebelum lomba.

Catatan_el