Cerpen : ini rasa syukur

junieawanbagaskara_20201009_1

Betapa riuh nya dunia, butuh tarikan spontan dari urat syaraf tenggorokan. Segala distraksi pagi hari bergerombol masuk membentuk notifikasi maupun headline koran pagi. Di kolom komentar dipenuhi propaganda tagar progresif tendensius. Di tembok pinggiran rel kereta yang kumuh tersimpan mural gaya kontemporer. Tercatat vandalism oleh sebab divergensi alami. Sarana keluh basah kinerja pemerintahan. Mawas diri pada permainan angka pasal pasal, fatwa adalah jeruji bagi proletariat. Memerangi perang, persetan setan, fak sana fak sini, duh gusti. Samar samar, tidak hitam juga putih. Bergeraklah dalam gelap, Bersuara adalah hak prerogatif manusia demokrasi, tapi tidak dengan negri ini, aksi represif di jejalkan pada masyarakat dan mahasiswa, melempar gas air mata, memakai tameng hasil pajak rakyat indonesia, lalu para elite mulai keluar lubang persembunyian untuk bicara “INI DI TUNGGANGI, DEMONSTRASI INI DI DANAI” acap kali terdengar omong kosong compansionate dari mulut pejabat terhormat, kepentingan kepentingan oligarki terpampang jelas pada artefak kehidupan rakyat. Mahasiswa, buruh dan pelajar seolah berhasil di labeli provokator. Hei dewan rakyat yang terhormat, tidurlah lagi saja. Kami akan tetap hidup walau di himpit ekonomi yang membusuk perlahan. Untuk apa kau tergesa gesa mengesahkan bom waktu, ya mungkin kau bahagia, sendiri saja kau bahagia. Di tengah pandemi kau berpesta, rakyat di paksa push up oleh sebab alasan protokol kesehatan di tengah oknum dangdutan di sebuah kawinan anak pejabat penegak hukum. Manusia waras di depan pandangan kau pun hiraukan, kau matikan hak bersuara di depan public tanpa takut janji yang kau ucapkan atas nama tuhan, di distrik kota elemen masyarakat turun ke jalan menyuarakan hak hak yang seharusnya, berdiskusi siang pagi bagaimana undang undangan cipta kerja menggerogoti tubuh tulang punggung keluarga. Pamflet pamflet di sebarkan, kata umpatan di lontarkan, vandalism di ruang public sebagai bentuk kemurkaan rakyat atas kinerja manusia parlemen yang dulu mengemis meminta suara, kini bertincak pinggang menyuruh rakyat bersujud padanya. Atas nama kepentingan katanya. Kepentingan yang mana, atau mungkin kepentingan golongannya sendiri agar bisa liburan keliling eropa atau membeli tas branded harga dua puluh milyar dua juta, entah. Massa menapaki jalan utama menuju kantor sang mulia di berpuluh puluh kota, menentukan titik kumpul dan memberi komando agar kondusif dan saling jaga, bergerak perlahan dengan nyanyian nyanyian perjuangan, bergerombol meng akumulasikan kekesalan, menghentikan langkah juga ber orasi, orasi tentang wakil rakyat yang sudah begitulah. Aparat kepolisian bersiap menghadang di tiap pertigaan, melakukan sweeping atas tuduhan “rusuh” padahal belum turun aksi. Yang lolos akan berjuang kembali ke jalan berkumpul dengan pemuda lainnya. Senggolan sedikit saja akan menjadi percikan yang akan menimbulkan ledakan, dorong mendorong sebab orasi kami hendak di bubarkan. Tembakan tembakan di luncurkan sebagai peringatan, pukulan dan tendakan di lancarkan, teman kami di tangkap dengan dalih provokasi, di apakan saja dia di post pengamanan, tidak ada yang tahu, kami hanya tau ia tidak akan baik baik saja. melihat Teman seperjuangan di perlakukan seperti hewan. Naluri sepernasiban meronta, memaksa massa bergerak secara sporadis, mencoba memukul mundur barikade pengamanan, melempar balik gas air mata walau luka di badan tak berarti apa apa, ucap syukur oleh sebab masih hidup. untuk teman. Untuk indonesia