Cerpen: Hujan Tak Harus Mendung

Gambar Animasi Muslimah Sedih 2

Hujan Tak Harus Mendung

Hari ini hujan lumayan lebat, namun absennya gemuruh langit membuat ku bias menikmati rinrikannya. Persis di depan kampus, aku berdiri memandangi gemericiknya. Seolah langit megaminkan perasaanku saat itu. Namun aku malu untuk membiarkan jatuhnya aliran deras dimataku. Jadi dengan sekuat tenaga aku membendungnya. Ku paksakan senyum ketika satu per satu teman kampusku pamitan untuk pulang. Ada yang mengendarai mobil, memaksa menerobos dengan motor. Ada juga yang berjalan kaki menuju kost-an masing-masing dengan berindung di bawah payung.

Suasana mulai lenggang kala itu. Hanya tinggal beberapa orang saja. Dan aku termasuk didalamnya. Aku sang pejalan kaki, sore itu lupa membawa payung. Aku mencoba menunggu beberapa saat lagi dengan harapan hujan akan segera reda. Namun harapan itu semu. Semakin sore malah semakin tidak bersahabat. Beberapa yang ada bersamaku memaksakan diri untuk menerjang guyuran air mata langit itu. Tak terkecuali aku.

Ku paksakan kaki untuk berlari, namun kaki seolah tidak bias berkordinasi dengan otak. Tiba-tiba berat. Mata seolah tak bias lagi dihentikan untuk mencucurkan genangan yang sedari tadi aku tahan. Di tengah guyuran semesta itulah aku membeku. Hati ku teriris. Sakit menorah luka, meskipun tak berdarah.

Sudah terlanjur semuanya basah. Seluruh jiwa ku pun tak kalah. Ku lampiaskan lukaku bersama hujan. Semoga orang yang melihatku tak menyadari derasnya kucuran air dari mataku. Memang benar perkataan sahabat Rasul: “ … yang paling pahit adalah berharap kepada manusia”. Ali Bin Abi Thalib. Ya… saat ini yang aku rasakan.

Setelah sampai di kost-an, aku mencoba menggunakan rasional ku. Bagaimanapun aku tak boleh sakit. Besok ada kuis yang dosennya tidak memberikan kami susulan. Aku mengganti pakaian yang sudah sangat basah. Sembari menikmati kopi hangat, ku tatap jendela kamar yang berembun. Pikiranku terbang jauh ke masa awal aku menginjakan kaki di kampus tempat aku menimba ilmu sekarang.

“Hai… aku Mira. Kamu siapa?” tiba-tiba ada suara yang mengatetkanku. Saat itu aku lagi panic, karena ada persyaratan aku aku lupa menyimpannya dimana.

“Hai…aku el”. Dengan muka yang masih panic. Aku terus mengubek-ubek isi tas ku.

“Anak baru ya?”. Dia mencoba melanjutkan pertanyaannya.

“Iya….” Jawabku singkat sambil berusaha tersenyum. Walaupun di dalam hati agak sedikit rishi. Lagi panik masih di Tanya-tanya.

“Sama dong. Nyari apa sih sibuk amat?” mungkin dia penasaran denga kelakuan ku saat itu.

“Nyari KTM.” Jawabku singkat dan agak judes dan masih terus mengotak atik isi tas.

“Yakin…nyari KTM?” nadanya seolah mengejek ku.

Aku sedikit tersinggung dan mencoba menghentikan aktifitasku, “Iya… emang kenapa?”.

“Elsa… jurusan Sastra Inggris.” Apa yang dia katakana membuatku terperanjat. Darimana dia tahu gerutukku. Tadi ketika dia Tanya nama, aku hanya menyebutkan nama panggilanku.

Ku kernitkan dahiku sambil menatap kea rah dia. Seolah ingin memastikan, darimana dia tahu namaku.

“Tuh, yang depan meja apa?”. Dia mungkin sadar dari bahasa tubuh dan isyarat muka ku.

“Astagfirullah….”. Muka ku mendadak memerah karena sudah salah sangka pada nya. Ku keluarkan jurus nyengir kuda ku ketika sedang dalam kondisi yang memalukan, sebagai respon untuk menyembunyikan rasa malu ku.

“Kenapa ga ngomong dari tadi.” Timpalku.

“Kamu sibuk banget dengan tas mu tadi. Jadi aku bingung ngasih tahunya gimana?”

“Siapa tadi nama mu?” aku mencoba mengingat tapi karena kondisi panik semuanya hilang dari kepalaku.

“Rima… Rima Sastra Satya.”

“Wiihh… nama yang unik. Sastra Satya. Orang tua mu seneng sastra ya.”

“Yups… mereka mencinta sastra walaupun bukan sastrawan.” Terlihat berbinar dimanatanya ketika menyebutkan kata sastra.

“Berarti ini kampus impian orang tua mu dong.”

“Bukan hanya impian orang tua ku saja, tapi ini kampus dambaanku.” Mirip layaknya orator ketika dia menjawab pertanyaanku. Ada sinar yang berpijar dimatanya.

“Wah… hebat.”

“Kamu gimana?”. Dia balik bertanya.

“Gimana ya…?. Sudah tergantung masuk. Aku akan berusaha berjuang di kampus ini.

“Salah jurusan?”. Timpalnya lagi.

Aku tak menjawab, Cuma lagi-lagi aku memamerkan gigi kayak iklan salah satu pasta gigi. Cuma bedanya gigi ku tidak rata dan jauh dari puth mengkilap.

Setelah ngobrol dan menertawakan sikap konyol aku. Kami menuju aula karena pengenalan Maba di jurusan akan segera di mulai. Ya, aku memang teledor plus panikan. Kalau sudah panik, semuanya akan buyar danakal sehat ku didominasi oleh rasa pamik itu sendiri.

Sedikit sunggngan di ujung bibirku ketika mengingat kejadia itu. Kejadian yang menjadikan aku dan rima menjadi sangat dekat. Kemana-mana terlihat bersama. Saling membagi cerita dan motivasi. Walau orang mungkin menganggapku hanya sebatas benalu. Dia yang cum loud sedangkan aku mahasiswa salah jurusan yang IPK nya biasa-biasa saja. Setiap orang mencibir ku yang memandangku sebagai benalu, dia selalu memotivasi aku. Itu yang membuat aku senang bersahabat dengannya. Dia optimis dan tidak memandang siapa yang bertemannya. Sampai tadi siang, pandanganku pada dia berbalik 180 derajat.

Tepatnya di kelas Drama. Mulai pembagian kelompok, kelompok yang kami bentuk terdiri dari 5 orang. Aku termasuk di dalamnya. Dosenku bilang kelompok kami terlalu gemuk. Harus dipecah. Aku pasrah aja saat itu. Perasaanku tidak enak. Dan benar, aku yang dikeluarkan dari kelompok mereka. Walau aku paham, aku yang paling tidak berguna diantara mereka. Aku sadar diri dan menerima keputusan mereka, tak masalah bagi aku.

Namun setelah matkul selesai, merka bergegas pergi. Katanya mau latihan. Aku dengan kelompokku masih mendiskusikan tema. Tak lama berseling aku dan keompokku membubarkan diri. Dengan sedikit bergegas karena mendung sudah menggelayut saat itu, ku percepat langkahku.

Diantara langkah kaki ku terdengar ada susara gelak tawa berasal dari toilet. Suara yang tidak asing buatku.

“Mampus dia ya sekarang.” Terdengar gelak tawa setelahnya.

“Lo mau-maunya sih temenan sama dia?”

“Udah bajunya kayak orang-orangan sawah gitu. Udik… oon…idup lagi.”

Aku tidak ambil pusing dengan omongan orang yang mengejekku yang tidak yakin itu siapa. Karena ini prinsip dan dari awal memang saya tahu resikonya. Kuliah di sastra dengan Jilbab dan khimar memang tidak mudah. Sastra terkenal dengan mahasiswinya yang modis-modis. Memang menerjang arus apa yang saya kenakan, tapi disitulah letak pahalanya ketika kita mampu melewatinya.

“Trus ngapain lo ikut-ikut kajian di masjid segala. Ga panas telinga lo?.” Seseorang melanjutkan obrolannya lagi. Walaupun aku ga tau itu mengarah ke siapa tapi yang dimaksud tertuju pada ku. Aku masih penasaran apa yang akan dikatakan oleh pemilik suara yang taka sing di telingaku. Yang selama 2 tahun ini kemana-mana bareng, diskusi bareng, makan bareng, kepanitian bareng, dan ikut kajianpun bareng. Bahkan yang pertama mengajak memakai jilbab dan kerudung pun awalnya dia.

“Capek gua tuh sebenernya. Cuma di kelas anak-anak pada ga asik. Ya udah gua deketin aja dia. Sekalian biar kenal juga dengan temen-temen organisasinya. Setelah deket sama kalian, gua ogah sama dia lagi. Kolot banget pemikirinnya. Apalagi teman-temannya.”

“Deg… Jadi itu alasannya”. Aku percepat langkahku. Tidak ingin lebih banyak lagi mendengarkan omongan mereka. tak aku ambil pusing.

Sampai keesokan harinya. Ketika aku masuk, tiba-tiba semua mata menuju pada kehadiranku. Dengan tatapan yang tajam dan seolah aku sangat menjijikan buat mereka. bisik-bisik mulai semakin bergemuruh. Aku bingung. Apa yang terjadi pada mereka?.

“Ok kita mulai materi kita hari ini.” Dosen masuk dan langsung to the poin membuka perkuliahan. Tapi tiba-tiba tersenggal. Matanya tajam mengarah pada ku. Aku berusaha ramah, menganggukan kepala dan tersenyum.

“Oke kita bahas puisi yang berjudul “Eagle”. Ingat ya “Eagle” bukan “Chiken”. Kata chiken kayak sengaja di beri penekanan dan pandangannya mengarah pada ku. Aku bingung, tak tahu arti dari Mr. Dika itu maksud, dan cuma bisa diam. Sementara temen sekelas ketawa terbahak-bahak. Seolah sangat lucu sekali.

Aku masih dengan kebingunganku. Di akhir perkuliahan, ada salah satu teman yang menghampiri ku. “Berapaan?”. Katanya.

“Apaan yang berapaan?” aku masih kebingungan dengan yang terjadi hari ini.

Sampai Rima menghampiri ku dengan tatapan sadisnya. Aku semakin tidak memahami. Sambil diserahkannya selembar kertas kea rah ku yang isinya, “Ini pembalasan saat kelas drama kemarin”. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi di kelas drama. Aku hanya mementaskan drama bertema identitas.

Setelah dia pergi ada seorang lagi yang menghampiri ku dan berkata, “Sabar ya. Aku yakin kamu baik.”

Saat itulah aku bias bertanya, “Chiken itu maksudnya apa sih?. Kenapa semua orang di kelas aneh?”.

Dia menuliskan beberapa kalimat di kertas dan berlalu dengan kata, “Sabar ya…”.

Geprak… gelas yang berada di meja dekat jendela tiba-tiba jatuh. Angin yang kencang menambah guyuran butir-butir uap air yang beradu di angkasa. Ku tarik selimut, ku nikmati kehilangan yang dibersamain dinginnya hati yang remuk. Mungkin hari ini menjadi awal yang baru buat kita.

By: El